Hidupku di Atas Sepeda Motor

Neli Triana

Jumat (4/9) sekitar pukul 08.00, Ipan (27) baru saja tiba di kantornya di kawasan Meruya, Jakarta Barat. ”Tadi aku mau tabrakan lagi sama motor lain. Kalau enggak dipisahin orang, sudah berantem di jalan kita,” katanya.

Suasana hati yang ”panas” menjadi kebiasaan Ipan begitu berada di atas sepeda motornya. Emosinya mudah terpancing ketika terjebak macet, disalip orang, atau saat jalannya terhalang kendaraan lain. Menyenggol kaca spion mobil saat bermanuver di tengah kepadatan lalu lintas sudah biasa, nyaris diserempet bajaj hingga truk lumrah terjadi.

”Saya capek. Tidak ada yang mau mengalah di jalanan. Ya sudah, jalani saja,” kata Ipan.

Ipan, pemasar produk pembersih lantai ini, setiap hari harus berangkat dari rumahnya di Rangkasbitung, Lebak, Banten, sebelum pukul 06.00 menuju kantornya di Meruya. Setelah briefing pagi bersama karyawan lain, Ipan melaju di atas sepeda motornya menuju beberapa pasar di Kota Bambu, Jakarta Pusat, dan Pasar Pagi, Jakarta Barat.

Masih di atas sepeda motor, dengan delapan kardus berisi barang jualan ditimbun di jok penumpang, Ipan berkeliling dari pasar-pasar mencoba menggaet pesanan dari toko-toko maupun agen. Sore hari sekitar pukul 16.00, ia wajib kembali ke kantor menyerahkan uang setoran. Baru selepas shalat maghrib, ia bisa pulang dan sampai di rumah pukul 21.00.

Ipan bertahan di atas motornya menempuh 100-150 kilometer perjalanan setiap hari, Senin hingga Sabtu. Hanya pada hari Minggu, pantat Ipan terlepas sejenak dari jok sepeda motor.

”Pakai motor itu irit dan cepat,” timpal Andi Rifai, karyawan kelas menengah di sebuah perusahaan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Andi juga sering menerabas lampu merah atau sengaja berbondong-bondong berteduh di bawah jembatan layang saat hujan. Polisi atau petugas dinas perhubungan diam saja kalau melihat ulah pengendara sepeda motor.

Paling logis

Melewatkan hari dan suka dukanya di atas sepeda motor dilakoni oleh jutaan orang di Jakarta dari beragam profesi. Lihat saja jenis sepeda motor yang ada, dari yang butut hingga model sport terbaru berharga puluhan juta rupiah tumpah ruah di jalanan Ibu Kota.

Ketua Program Studi Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan, sepeda motor seharusnya menjadi alat transportasi jarak pendek. Tidak aman dan nyaman untuk berkendara jarak jauh berjam-jam.

Namun, di Jakarta yang selalu macet, pendapatan pas-pasan, dan tidak adanya angkutan umum memadai menyebabkan sepeda motor muncul sebagai alat transportasi yang paling logis bagi sebagian masyarakat.

Keletihan, kata Hamdi, memicu pengendara sepeda motor ingin cepat sampai ke tujuan. Di sisi lain, tidak ada aturan yang melindungi mereka. Akibatnya, perilaku buruk pengendara sepeda motor menggejala secara massal. Mereka pun dituding sebagai pemicu utama kekacauan lalu lintas di Jakarta.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta M Tauchid mengatakan, tidak ada cara selain menindak tegas pengendara nakal. ”Perlu penegakan hukum terus-menerus di seluruh kawasan untuk mendidik pengendara agar tertib,” kata Tauchid.

Namun, untuk menindak tegas diperlukan banyak tenaga. Ironisnya, jumlah petugas dinas perhubungan yang aktif di lapangan hanya 700-1.000 orang dan jumlah polisi lalu lintas di Jakarta cuma 4.408 orang.

Jumlah polisi itu dibagi dalam tiga waktu tugas, yaitu 1.600 orang bertugas pukul 04.00-14.00 dan 1.600 orang lainnya bertugas pukul 14.00-19.00. Pada malam hari disiapkan 300 petugas saja.

Padahal, pada 2007, Kepolisian Daerah Metro Jaya mencatat terdapat 3 juta sepeda motor di Jakarta. Dua tahun terakhir, penambahan jumlah kendaraan roda dua ini minimal 10-20 persennya. Itu belum termasuk jumlah sepeda motor dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang setiap hari keluar masuk Jakarta.

Jakarta juga makin padat dengan jumlah mobil pribadi yang pada 2007 mencapai 2 juta unit. Berdasarkan data terkini Polda Metro Jaya, pada jam sibuk pagi dan sore hari, ruas jalan di Jakarta sepanjang 5.621,5 kilometer atau sekitar 6,28 persen dari luas Ibu Kota dipadati lebih dari 9 juta kendaraan, termasuk 600.000-1 juta kendaraan dari luar Jakarta. Itu artinya rata-rata setiap polisi lalu lintas harus mengamankan 6.300 kendaraan, termasuk sepeda motor.

Buah ketidakpedulian

”Tak heran jika kekacauan terus terjadi karena serba kekurangan. Seharusnya sebuah metropolitan memiliki panjang jalan 20 persen dari total luas kawasannya. Terlebih di Jakarta setiap hari ada rambu yang rusak atau lampu lalu lintas tak berfungsi,” kata Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

Sepanjang 2009, Polda Metro Jaya mencatat telah terjadi 6.286 kecelakaan yang menewaskan 600 lebih pengendara. Sebanyak 3.606 kecelakaan di antaranya melibatkan pengendara sepeda motor.

Hamdi menegaskan, pribadi warga Jakarta tidak bisa disalahkan karena bertingkah laku buruk di jalan. Ini buah ketidakpedulian pemerintah yang tidak memiliki visi dan misi membangun metropolitan.

”Ini sudah terjadi lebih dari 30 tahun terakhir. Tidak hanya sepeda motor, pengendara lain juga kacau. Pada titik tertentu, masyarakat akan apatis dan tidak peduli. Puncaknya bisa terjadi amuk massa karena begitu tertekan,” kata Hamdi.

Hamdi dan Tulus meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah pusat berani meminta maaf kepada masyarakat. Pembangunan sistem transportasi massal wajib segera direalisasikan, bukan solusi parsial seperti membangun jalan tol baru. Kalau perlu, dibentuk regulasi khusus yang memungkinkan pajak kendaraan bermotor seluruhnya dikembalikan untuk pembangunan sistem transportasi publik. Bisa juga memilih, ya biarkan saja Jakarta makin kacau dan hancur.

(EMILIUS CAESAR ALEXEY/WINDORO ADI TAMTOMO)

Explore posts in the same categories: Kompas

Comment: