Revolusi Pedagang Sepeda Pekalongan

KOMPAS/AMIR SODIKIN

Menggunakan sepeda sudah menjadi kebiasaan sehari-hari warga Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Jalanan didominasi sepeda Jepang dengan ciri khas adanya keranjang depan.

Ahmad Arif/Amir Sodikin

Pukul sembilan malam di Pekalongan, Jawa Tengah. Hujan turun tak berkesudahan. Namun, di jalanan ramai orang bersepeda, satu tangan mereka memegang setang dan satu lagi menggenggam payung. Sebagian lainnya memilih membungkus tubuh mereka dengan mantel hujan.

Lelaki atau perempuan menggunakan sepeda jengki buatan Jepang, lengkap dengan keranjang di depan. Hujan dan panas memang tak menyurutkan warga Pekalongan bersepeda. Pesepeda menyesaki hampir setiap sudut jalan kota. Kebanyakan adalah anak-anak sekolah, pekerja batik, ataupun ibu-ibu yang hendak ke pasar. Sesekali, lelaki bersarung dan berkopiah melintas, juga dengan sepeda jengki Jepang.

Parkiran sekolah, pertokoan, pasar, pelabuhan, hingga warung internet di kota itu disesaki sepeda Jepang aneka merek, mulai dari Miyata, Bridgestone, National, Shamrock, Walker, hingga Levanti, dan masih banyak merek lainnya.

Tanpa inisiasi dari penggiat komunitas sepeda dan juga tanpa jargon bike to work, warga Pekalongan telah biasa bersepeda ke tempat kerja. Demikian pula, ketika kota-kota lain baru mencanangkan sepeda untuk ke sekolah atau populer dengan bike to school, siswa-siswi di kota ini sudah bersepeda ke sekolah.

Pekalongan memang kota yang selalu mencipta sejarahnya sendiri. ”Pekalongan penting dan strategis sejak dulu. Kota ini pernah menjadi lumbung beras pasukan Sultan Agung dari Mataram saat menyerang Belanda di Batavia tahun 1628-1629. Mereka tak mungkin lewat Semarang karena kota itu sudah dikuasai Belanda,” kata Astuti Soekardi, arsitek yang pernah meneliti Kota Pekalongan.

Sejak menjadi kota penting Mataram dan kemudian menjadi bidikan VOC, Pekalongan tumbuh menjadi kota pelabuhan dan perdagangan, yang mempertemukan pendatang dari berbagai bangsa seperti Belanda, China, Arab, India, Melayu, dan terakhir Jepang.

Pernah berjaya sebagai pusat produksi dan perdagangan gula di era Belanda, Pekalongan kemudian tumbuh sebagai pusat perdagangan tekstil dan batik. Jiwa pedagang yang rasional dan pragmatis menjadi napas kota ini.

Demikian halnya kesadaran masyarakat Pekalongan untuk bersepeda, juga didasarkan pada pragmatisme khas pedagang, dibandingkan slogan muluk-muluk. Jika bersepeda lebih sehat, murah, dan nyaman, kenapa mesti dengan kendaraan bermotor yang boros dan lebih mahal?

Gerakan pedagang

Masuknya sepeda Jepang ke Pekalongan terjadi kira-kira awal tahun 1980. Mulanya adalah beberapa pedagang batik asal Pekalongan yang membawa sepeda bekas dari Jepang sepulang berjualan di Jakarta. Sepeda bekas itu dibeli dari anak buah kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok.

Sepeda itu mereka beli untuk dipakai sendiri atau untuk dipakai keluarga pedagang batik. Namun, kenalan dan tetangga yang menjajal sepeda Jepang itu mulai terpikat juga. Satu per satu mereka titip dibelikan sepeda yang sama.

”Akhirnya keterusan. Setiap ke Jakarta jualan batik, pulangnya bawa sepeda. Paling banyak lima sepeda,” kata Haji Puradi, salah satu perintis datangnya sepeda bekas Jepang ke Pekalongan.

Gambaran bahwa sepeda Jepang itu enak dipakai dan awet menyebar di kalangan warga Pekalongan. Puradi kemudian menggeluti bisnis sepeda ini secara total. Sekitar tahun 1985, ia dan tiga pedagang sepeda lainnya mulai secara rutin memesan sepeda bekas Jepang dari importir di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. ”Biasanya satu bulan satu kontainer. Isinya sekitar 400 sepeda, lalu kami bagi-bagi. Satu pedagang kebagian sekitar 100 sepeda,” kata dia.

Teknologi baru dan model yang unik membuat sepeda bekas Jepang ini diterima masyarakat Pekalongan, yang berjiwa dinamis. Beberapa keunikan itu di antaranya sistem pemindah gigi internal, dinamo dan lampu dengan sistem sensor cahaya, rantai dari bahan karet, serta jeruji roda dari bahan fiberglass.

”Orang-orang Jepang membuat barang terbaik untuk warganya sendiri. Sepeda-sepeda bekas ini awalnya, kan, dibuat untuk mereka sendiri sehingga kualitasnya bagus,” kata Puradi.

Bagi kaum santri Pekalongan, sepeda jengki itu pun dinilai cocok dengan budaya mereka. Karena model sepeda jengki itu memungkinkan para santri dan kiai di Pekalongan mengendarai sepeda dengan berkain sarung.

Walaupun harganya relatif lebih mahal dibandingkan dengan sepeda baru buatan China atau sepeda produksi pabrikan dalam negeri, sepeda bekas Jepang ini tetap lebih diminati. Harga sepeda jengki bekas Jepang yang telah dicat ulang paling murah Rp 950.0000 hingga Rp 2 juta. Bandingkan dengan sepeda sejenis buatan China Rp 750.000 dan sepeda buatan dalam negeri Rp 1 jutaan.

Sepeda jengki bekas asal Jepang itu telah menjadi bagian gaya hidup dan dicap berkualitas tinggi sehingga harga menjadi nomor yang kesekian. Bahkan, sebagian masyarakat Pekalongan yang berjiwa pedagang itu membeli sepeda Jepang juga untuk berinvestasi. ”Karena suatu saat kalau dijual, nilai jualnya tinggi,” kata Istari, pemilik toko sepeda Istari Jaya.

Istari memang tak hendak melebih-lebihkan. Sepeda Jepang ada di setiap sudut kota ini. Hampir setiap keluarga memilikinya, sebagian bahkan punya lebih dari satu.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: