Kesalehan Sosial Ritual Nyadran

Oleh ANTON PRASETYO

Pengakuan agama terhadap budaya lokal secara normatif-teologis merupakan wujud nyata dari rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam jagat raya). Di samping itu, tinjauan fikih klasik mengetengahkan teori yang mengatakan al ‘adah muhakkamah (tradisi lokalistik itu bisa dijadikan acuan hukum). Di samping itu juga dikenal teori alhukmu yaduru “ala illatihi (hukum itu berlaku menurut kausalitasnya). Memang hukum ini perlu mendapat kajian khusus untuk bisa dipraktikkan, syarat-syarat di dalamnya harus di penuhi, tetapi upaya jerih payah pemikiran ulama terdahulu ini tak mudah untuk disepelekan.

Dalam pencapaiannya, rahmatan lil ‘lamin, selain mengharuskan kaum Muslimin (umat Islam) mengadakan kebaktian kepada Tuhan juga saleh terhadap sesama. Artinya, sebagai hamba Allah, kaum Muslimin diberi beban untuk menjaga keserasian dalam menjalankan kekeluargaan terhadap sesama, tidak terkotak-kotak hanya pada sesama golongan ataupun agamanya saja. Keserasian dan saling menjaga, memberi kemanfaatan harus diciptakan terhadap semua orang, bahkan kepada seluruh yang ada di dalam dan sekeliling bumi Allah ini. Dengan demikian, berarti kaum Muslimin (baca: manusia) bisa menjalankan amanah Tuhan untuk menjadi pemelihara alam (khalifah fil alrd).

Kaitan dengan tradisi nyadran, terdapat sekian banyak nilai agama baik yang bertujuan sebagai washilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (saleh vertikal) maupun perbuatan baik kepada sesama makhluk Tuhan (saleh horizontal). Ritual yang dilakukan kaum Muslimin dalam upacara nyadran adalah mengadakan ziarah ke pekuburan orangtua dan/atau orang-orang yang dihormati (baca: leluhur) yang telah mendahului wafat. Dalam ritual tersebut terdapat bacaan-bacaan suci (kalimah thayibah) untuk menyucikan, memuji, mengagungkan nama Allah. Di samping itu juga terdapat sebagian bacaan ayat suci Al Quran, permohonan ampun juga doa suci yang dipanjatkan kepada-Nya. Di sinilah letak, betapa dalam tradisi nyadran penuh dengan nuansa kebaktian hamba kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Sementara bentuk kesalehan horizontal terwujud saat kaum Muslimin dalam menjalankan ajaran agamanya selalu mengontekstualkan dengan sosio-historis daerah setempat. Lihatlah betapa salehnya amalan-amalan yang terdapat dalam ritual nyadran. Bentuk solidaritas terlihat begitu kentalnya dalam pelaksanaan ritual nyadran. Dimulai dari pembuatan kue apem, ketan, dan kolak yang dimasukkan ke takir (wadah dari daun pisang) dan dibagikan kepada sanak saudara dan para tetangga hingga kenduri dengan penuh nuansa sedekah dilaksanakan dalam ritual nyadran.

Belum lagi pada ritual nyadran terdapat kebersamaan yang selama ini banyak tereliminasi dari keseharian kita. Dalam kenduri yang di dalamnya terdapat perkumpulan warga, termasuk anak-anak, mereka cukup riang gembira penuh persaudaraan melaksanakannya. Antara satu orang dengan yang lainnya saling memberi, saling berbagi, saling meluangkan waktu untuk menjalin keakraban bersama. Sungguh sangat menarik tradisi ini dilakukan karena selama ini banyak orang lebih senang menjadikan waktunya untuk mengejar harta kekayaan tanpa memikirkan persaudaraan. Rasa individualis lebih tinggi dibandingkan dengan kolektif.

Dikaitkan dengan tradisi dan budaya lokal yang selama ini menjadi ikon daerah setempat, pelestarian ritual nyadran menjadi bagian penting tersendiri. Terus dikontinukannya ritual nyadran pada setiap tahunnya menunjukkan umat Islam sangat besar perhatiannya terhadap kekayaan budaya lokal (local wisdom). Tentu pelestarian budaya yang tidak menyimpang dengan ajaran agama merupakan wujud kesalehan tersendiri. Apalagi, daerah setempat merasa diuntungkan dengan adanya pelestarian tersebut.

Begitu besar dan beragamnya bentuk kesalehan sosial ritual nyadran menjadikannya semakin layak untuk tetap dipertahankan dan terus disemarakkan. Sangat sayang jika ritual yang menunjukkan kesalehan kepada Tuhan Yang Mahaesa sekaligus kesalehan sosial ini disingkirkan begitu saja. Tentu jika ritual ini disingkirkan dan tak lagi ada di tanah Jawa, bukan hanya kaum Muslimin Jawa saja yang merasa kehilangan. Terlebih dari itu masyarakat Jawa dan/atau kaum Muslimin saling merasa kehilangan. Bagi masyarakat Jawa, kehilangan tradisi yang telah lama menjadi kekayaan daerahnya. Sementara bagi kaum Muslimin kehilangan sarana dakwah dan wujud ibadah nyata yang besar nilainya di sisi Tuhan.

Namun, yang meski menjadi perhatian, utamanya kaum muslimin, jangan sampai ritual nyadran dijadikan sarana menyekutukan (syirik) kepada Tuhan. Bagi kaum Muslimin awam, saat mengadakan ziarah ke pekuburan sering kali menjadikan lelulurnya sebagai obyek yang dianggap memiliki kekuatan sehingga mereka meminta kepadanya. Ini adalah tugas para dai, kiai kampung, dan sejenisnya untuk menjelaskan kepada mereka bahwa dalam ritual nyadran sejatinya adalah berdoa kepada Tuhan Yang Mahaesa bukan mensyirikkan-Nya dengan para leluhur. Dengan begitu, wujud kesalehan sosial yang ada dalam ritual nyadran juga dibarengi dengan kesalehan kepada Tuhan. Wallahu a’lam.

ANTON PRASETYO Ketua Jam’iyyah Qurra’wal Huffadz PP Nurul Ummah Yogyakarta

About these ads
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: