PRO – KONTRA Masyarakat yang Memilih, Jangan Salahkan Artis

Artis Julia Perez bertemu dengan Bupati Pacitan Sujono di Pendopo Kabupaten Pacitan, Sabtu (24/4). Sebagai tamu, Jupe ingin “kulonuwun” kepada penguasa wilayah. Ini merupakan kunjungan pertamanya di Pacitan.

Oleh Runik Sri Astuti

Hari Sabtu (24/4) merupakan pertama kalinya Julia Perez menginjakkan kaki di Pacitan, Jawa Timur, tempat kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Artis yang mencalonkan diri menjadi calon wakil bupati Pacitan ini 2,5 jam berkendaraan dari Solo setelah terbang dari Jakarta.

ombongan segera menarik perhatian karena dikawal mobil patroli polisi. Tujuannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fattah, Desa Kikil, Kecamatan Arjosari. Jupe disambut ratusan masyarakat sekitar ponpes, santriwati, dan pengasuh ponpes, KH Mohamad Burhanudin. Tujuan selanjutnya, Pendopo Kabupaten Pacitan untuk menemui Bupati Pacitan Sujono. Kerudung yang semula dia kenakan di ponpes kini dibuka. Tujuannya sama, sowan untuk mengunjungi berbagai tempat di Pacitan dalam rangka menjadi calon wakil bupati.

Kedatangan artis bernama asli Yulia Rahmawati itu disambut beragam. Ada yang berteriak antusias layaknya menyambut artis, ada yang protes keras menyatakan ketidaksetujuan pada rencana Jupe.

Saat Jupe tiba pertama kali di Pacitan, puluhan perempuan anggota Aliansi Perempuan Pacitan (APP) memasang spanduk penolakan, antara lain di depan Kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Pacitan. ”Bila Suatu Urusan Diserahkan pada yang Bukan Ahlinya, Tunggulah Kehancurannya”, bunyi salah satu spanduk. Yang lain, ”Sebaiknya Jupe Jadi Artis Saja, Jangan Jadi Cawabup Pacitan”.

”Sampai sekarang sudah 20 lembaga dan ormas menolak rencana Jupe mencalonkan jadi wakil bupati Pacitan,” kata Koordinator APP dan Ketua Bidang Kewanitaan Yayasan Ar Rahmah Kabupaten Pacitan Ririn Subiyanti. ”Aisyiyah menilai sosok Jupe tak layak mencalonkan diri sebagai wakil kepala daerah. Dia tidak memenuhi persyaratan,” kata Ketua Pengurus Daerah Aisyiyah Pacitan Indaryati secara terpisah.

Popularitas

Sebagian masyarakat Pacitan menganggap popularitas tak cukup sebagai modal memajukan daerah itu. Ketua KUD Mina di TPI Tamperan, Pacitan, Dahlan, menginginkan kepala daerah yang mengerti dan memahami Pacitan agar tak salah dalam mengambil keputusan. Sementara Julia Perez baru satu kali itu menginjakkan kaki di Pacitan.

Bukan keartisan seseorang yang membuat warga keberatan terhadap artis yang maju sebagai calon kepala daerah. Anik (30), pemilik bengkel sepeda motor, tidak keberatan artis menjadi kepala daerah. Dia keberatan dengan Jupe karena alasan perempuan dan kemampuannya meragukan. Anik menganggap, penyanyi dangdut Cici Paramida lebih layak menjadi kepala daerah di Pacitan dengan alasan penampilan Cici tidak sensasional.

Zaenuri (35), tukang becak di sekitar alan-alun, mengaku tak mau sembarang memilih pasangan bupati meskipun Jupe cantik dan seksi. ”Saya memang cuma tukang becak, tetapi saya ingin masa depan anak-anak saya lebih baik. Katanya, kalau mau lebih baik, pilih pemimpin yang baik,” ujar Zaenuri.

Lain lagi Bupati Pacitan Sujono. Dia menerima Julia Perez dengan baik. ”Selamat datang di Pacitan yang miskin,” kata Sujono yang menerima Jupe di ruang yang biasa digunakan menyambut tamu-tamu penting. Ikut menerima Jupe adalah Kapolres Pacitan Ajun Komisaris Wahyono, Sekda Pacitan Mulyono, serta Kadis Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Mohamad Mohamad Fathoni. Jupe disuguhi teh hangat dan penganan khas Pacitan.

”Mbak Jupe, maksud saya Mbak Yuli, juga berhak. Tidak ada suatu larangan bagi siapa pun mencalonkan jadi bupati Pacitan,” kata Sujono.

Nada pro dan kontra juga muncul dari warga ketika artis sinetron Ayu Azhari berencana maju sebagai calon wakil bupati Sukabumi. Dede Iskandar, warga Parungkuda, menolak rencana tersebut dengan alasan moralitas. Suhendi, warga Cisaat, juga menolak rencana Ayu itu, tetapi karena alasan minimnya pengalaman politik dan pemerintahan artis tersebut. ”Kalau terpilih, nanti dia perlu waktu menyesuaikan diri sebelum bertugas sebagai wakil bupati. Kalau Dede Yusuf (Wakil Gubernur Jawa Barat) mungkin sedikit masuk akal. Sebelumnya, Dede pernah aktif di DPR,” kata PNS di Sukabumi itu.

Namun, suara mendukung juga muncul dari warga. Lina Syafitri, mahasiswi politeknik di Kabupaten Sukabumi, menganggap Ayu bebas mencalonkan diri menjadi wakil bupati karena itu hak setiap warga negara. Yang akan menentukan terpilihnya seseorang menjadi kepala daerah adalah warga. ”Kalau ada penolakan sebelum ada pemilihan, itu bisa dikatakan iri atau menghambat kebebasan seseorang. Saya rasa, masyarakat sudah cerdas memilih yang terbaik,” kata Lina.

Komunikasi

Jajak pendapat Kompas (lihat juga hal 48) memperlihatkan, identitas keartisan tidak menentukan seseorang layak dipilih atau tidak menjadi kepala daerah atau anggota legislatif. Yang menjadi perhatian adalah kemampuan, kejujuran, dan kecakapan menjalani pekerjaan itu.

Di dalam kemampuan dan kecakapan itu, bagi Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, antara lain, adalah kemampuan berkomunikasi dengan warga. ”Ada persoalan komunikasi politik di sini. Masyarakat memilih artis bukan karena dia cakep (ganteng), tetapi karena artis terbiasa berkomunikasi dengan rakyat. Apakah politisi atau pejabat bisa berkomunikasi dengan rakyat?” kata Dede yang populer melalui iklan Bodrex di televisi.

Menurut Dede, rakyat memerlukan orang yang menyentuh dan mau mendengar, ada unsur empati dan simpati yang dibangun. ”Tanpa itu semua, maka itu hanya urusan politisi, bukan urusan rakyat,” kata Dede.

Dede terpilih menjadi Wagub Jabar 2008-2013 melalui Pilkada Jabar tahun 2008. Meski begitu, bukan berarti pekerjaan sudah selesai. Kini, rakyat menagih janji saat kampanye. Sesepuh Angkatan Muda Siliwangi (AMS) yang juga mantan anggota DPR dari Partai Golkar, Tjetje H Padmadinata, Rabu (5/5) di Bandung, mengatakan, pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf selama hampir dua tahun memimpin Jabar belum menunjukkan kemajuan berarti bagi masyarakat Jabar. ”Bahkan, AMS menilai, Gubernur dan Wagub belum bisa merealisasikan janji-janjinya,” kata Tjetje.

Janji yang ditagih antara lain penyediaan satu juta lapangan kerja, program KTP berasuransi, dan peningkatan kesejahteraan petani melalui dana talangan Rp 200 miliar per tahun untuk menjamin stabilitas harga pupuk dan gabah.

Kelompok buruh juga mengungkapkan keraguan terhadap kinerja Dede melalui aksi dan tulisan pada poster besar yang menyindir profesi Dede sebagai bintang iklan. Kelompok buruh bahkan pernah menuntut pasangan itu mundur karena dinilai tidak bisa memenuhi kontrak politik saat kampanye, termasuk menaikkan upah minimal buruh menjadi Rp 2 juta per bulan.

Menjawab keraguan pada kemampuan artis dalam dunia politik, Dede meminta agar semua pihak bersikap adil dan memperlakukan artis setara dengan warga negara lain, jangan membatasi hak artis terjun ke dunia politik.

”Orang selalu menganggap rendah kemampuan artis di bidang politik. Masyarakat terbiasa memiliki ekspektasi rendah terhadap artis. Nyatanya, artis terpilih dalam pemilu, lalu kenapa artis yang disalahkan?” papar Dede.

Kenyataan di atas kembali mengingatkan pada peran parpol untuk melakukan kaderisasi dan pendidikan politik masyarakat. Tanpa kedua hal tersebut, polemik ini akan terus berulang dan kemajuan akan lambat terjadi.

Iklan
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: