NII dan Sindikat Keagamaan

TEMPO Interaktif, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (28 April), memperingatkan bahwa Indonesia sedang menghadapi peningkatan gelombang radikalisme Islam. Teroris tengah menyerang negeri ini, yang selama ini dikenal amat menghargai toleransi dan kebinekaan. Pepi Fernando, yang diduga kuat sebagai otak di balik bom salat Jumat di Cirebon dan rangkaian bom buku, adalah mantan anggota gerakan Negara Islam Indonesia (NII).

NII dituduh telah merekrut dan mencuci otak mahasiswa untuk melakukan radikalisme dalam upaya mereka mendirikan Khilafah Islamiyyah. Kelompok ini menghalalkan segala cara guna mencapai tujuan mereka. Sepuluh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi korban cuci otak dan bergabung dengan NII. Mereka mengaku diminta membayar sejumlah uang dalam jumlah besar untuk mendapatkan persetujuan sebagai anggota. Bulan lalu, Mahathir Rizki, seorang mahasiswa UMM, dilaporkan hilang dan diduga menjadi korban cuci otak oleh anggota NII.

Pemerintah mesti menyadari bahwa NII bukan hanya organisasi teroris sporadis yang terfokus pada penyebaran ancaman bom kepada masyarakat. Tak kalah pentingnya, ia adalah sebuah kelompok sindikat keagamaan atau mafia religius yang mengepung dan menyasar setiap anggota masyarakat dengan cara-cara yang halus dan cerdas. Organisasi ini tidak serta-merta melakukan terorisme yang kasatmata. Ia kerap melakukan penipuan untuk mendapatkan pendanaan. Karena itu, sasaran utamanya adalah mahasiswa sebagai sumber pendanaan. Banyak anggota yang begitu loyal bertugas mengumpulkan dana yang bakal digunakan untuk mendirikan negara Islam. Mereka juga berkewajiban merekrut anggota baru. Adapun yang gagal memenuhi kuota itu bakal dikenai hukuman.

Pendekatan demikian benar-benar seperti yang diperbuat oleh kelompok mafia. Banyak yang menganggap bahwa NII sama saja dengan semua kelompok garis keras Islam lainnya yang berjuang atas interpretasi Islam yang tekstual. Padahal terdapat banyak hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang dilakukan oleh kelompok ini. Sebagai contoh, para anggota tidak diwajibkan untuk salat. Yang paling penting adalah “doa universal”. Penekanannya lebih kepada upaya-upaya mengumpulkan dana dan mencari anggota baru. Pencurian dan pemerasan dianggap sebagai praktek-praktek yang sah dan dapat diterima demi perjuangan menegakkan negara Islam. Orang luar dan muslim yang tidak setuju dengan doktrin NII dianggap kafir. Persis sebuah kelompok mafia yang tertata rapi, NII punya sejarah memanfaatkan jasa preman untuk menjinakkan kalangan yang kritis dalam dalam organisasi ini.

Hal yang mengecewakan, ternyata pemerintah justru terkesan mengecilkan ancaman serius NII ini, sesuatu yang bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Yudhoyono. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan (29 April) bahwa kebangkitan gerakan Negara Islam Indonesia (NII) tidak cukup kuat untuk menimbulkan ancaman yang signifikan bagi NKRI.

Jelas ini sebuah pernyataan yang menyesatkan. Berapa banyak lagi orang yang akan terbunuh sebelum organisasi teroris ini dianggap sebagai ancaman serius? Pemerintah perlu jujur mengakui bahwa eskalasi perkembangan NII, yang telah menyusup ke jaringan parpol dan ormas, merupakan indikasi kelalaian pemerintah menguliti ancaman radikalisme dan sektarianisme.

NII sebenarnya adalah isu lama yang telah ada di republik ini selama 20 tahun, atau lebih dari 60 tahun jika kita ingin menghubungkannya dengan Darul Islam (DI). Meskipun telah merenggut nyawa yang tak terhitung, pemerintah belum mengambil tindakan serius untuk mengatasinya. Lemahnya pengawasan pemerintah berdampak peningkatan jumlah anggota NII secara besar-besaran. Salah satu sel kelompok ini tidak kurang memiliki 170 ribu pengikut yang sebagian besar terdiri atas mahasiswa. Pertumbuhannya bergerak begitu cepat. Singkatnya, pemerintah menyumbang tumbuhnya sindikat keagamaan ini.

Mengingat NII menjadikan anak muda terdidik sebagai target potensial, upaya  memerangi kelompok sindikat atau mafia keagamaan ini perlu didasarkan pada pendekatan intelektual. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memiliki sistem terpadu untuk mencegah penyebaran bid’ah dan kegiatan organisasi terlarang tersebut.

Pada tingkat sekolah menengah, Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama harus bergerak melindungi siswa untuk tidak jatuh ke dalam dekapan NII. Kurikulum para siswa perlu dimaksimalkan pada pemahaman dan aplikasi tentang toleransi, semangat saling berbagi, dan yang paling penting adalah meningkatkan rasa cinta tanah air—patriotisme. Pada level perguruan tinggi, para dosen perlu menyuguhkan kepada mahasiswa orientasi baru nilai-nilai dasar Islam secara berkala, termasuk pemantauan terhadap organisasi-organisasi yang mencurigakan, baik di dalam maupun luar kampus. Pendekatan brainstorming yang melibatkan pemikiran kritis dan pendekatan filosofis dalam memahami pesan-pesan Islam menjadi kunci untuk memerangi taktik cuci otak yang digunakan oleh anggota NII dalam memperluas basis anak muda.

Keberhasilan NII menyusupi pelbagai perguruan tinggi terkenal, seperti UMM, UGM, atau UII, dengan membidik anak-anak pintar dan kaya, harus menggerakkan semua unsur masyarakat–penanggung jawab asrama mahasiswa, pemerintah daerah, polisi, dan keluarga mahasiswa–untuk terlibat dalam menangkal NII.

Semua pihak harus bersatu karena semua pelaku dan pendukung NII terus mencari mangsa dan mengadakan aktivitasnya di wilayah-wilayah publik, semisal asrama, kafe, mal, dan tempat-tempat lainnya yang tidak selalu terkait dengan kegiatan keagamaan. Kehadiran mereka adalah bahaya laten bagi NKRI. Laiknya sebuah organisasi mafia, NII memang melibatkan keyakinan Islam dalam aksi-aksinya. Namun keyakinan yang dibangun tak lebih dari topeng yang menutupi operasi komersial dan eksploitatif mereka. NII adalah sebuah anomali pada keragaman lanskap keagamaan Islam.

*) Donna Syofyan, Dosen Universitas Andalas

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: