Merindukan Lagi Pancasila

Boleh jadi banyak orang terenyak mendengar pidato B.J. Habibie mengenai Pancasila. Presiden ketiga Republik Indonesia ini menjelaskan dengan gamblang kenapa dasar negara kita mulai dilupakan. Padahal justru sekarang Indonesia amat memerlukan Pancasila–sebuah penilaian yang juga sulit dibantah.Dalam sambutan pada peringatan Hari Pancasila di Majelis Permusyawaratan Rakyat beberapa waktu lalu itu, Habibie menyebut sejumlah penyebab “lenyapnya” dasar negara yang dirumuskan pada 1 Juni 1945 ini. Di antaranya karena mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis dan masif di era Orde Baru. Bahkan saat itu dasar negara ini dijadikan senjata ideologis untuk menghantam kelompok yang tak sepaham dengan pemerintah. Tafsir terhadap Pancasila pun dimonopoli penguasa.

Akibatnya, setelah reformasi terjadi, Pancasila cenderung dilupakan. Sebagian orang alergi terhadap dasar negara ini karena dianggap sebagai milik Orde Baru. Padahal falsafah bangsa, sekaligus fondasi negara, ini bukanlah milik satu rezim, melainkan milik kita semua.

Bertolak dari pidato Habibie, kita bisa berpikir lebih jauh. Banyak orang tentu akan setuju bahwa centang-perenang era reformasi ini sebetulnya bisa diatasi bila para pemimpin dan rakyat kembali menengok Pancasila. Penyerangan brutal terhadap Jemaat Ahmadiyah, misalnya, jelas tidak sesuai dengan sila ketuhanan Yang Maha Esa. Begitu pula aksi perusakan tempat-tempat beribadah, teror terhadap penganut agama lain, dan maraknya aturan daerah yang mengadopsi syariat Islam.

Negara memang hadir ketika teroris merajalela. Kepolisian bertindak secara sistematis dan cukup berhasil memerangi kejahatan ini. Tapi kehadiran yang sama tidak dirasakan ketika kaum minoritas secara agama, suku, ras, dan sebagainya mendapat perlakuan tidak adil. Padahal kita juga memiliki sila kemanusiaan yang adil dan beradab dalam Pancasila.

Justru karena sekarang rakyat tidak lagi dikungkung oleh mistifikasi Pancasila ala Orde Baru, penafsiran dasar negara ini bisa dilakukan secara jernih. Pelaksanaannya pun akan lebih sulit diselewengkan. Kini orang akan tertawa-tawa bila dikatakan bahwa korupsi tidak bertentangan dengan Pancasila. Sebab, para koruptor jelas mengkhianati nilai-nilai yang terkandung dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mereka tega menilap anggaran negara untuk kemakmuran keluarga mereka sendiri.

Begitu pula penegak hukum yang menjualbelikan keadilan. Mereka jelas anti-Pancasila. Penilaian yang sama bisa diberikan kepada para anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang berupaya menghalang-halang polisi, jaksa, dan hakim bertugas menegakkan keadilan. Peliknya pengusutan kasus seperti Gayus Tambunan, Nunun Nurbaetie, dan Nazaruddin tidak seharusnya terjadi di negara yang berasas Pancasila.

Habibie memang tidak sejauh itu mengaktualisasi Pancasila di masa sekarang. Tapi sulit disangkal bahwa bangsa ini sebenarnya merindukan Pancasila yang kini diabaikan, bahkan mulai jarang diajarkan di sekolah-sekolah.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: