Janji Manis dari Menara Thamrin

 

RUANG lobi di lantai lima Menara Thamrin, Jakarta Pusat, riuh oleh hilir-mudik karyawan. Saat Tempo mengunjungi kantor tersebut Rabu pekan lalu, di sofa lobi telah duduk sejumlah tamu. Inilah kantor PT Discovery Futures, perusahaan yang pemiliknya tersangkut perkara pembobolan dana PT Elnusa. Mereka adalah Ivan C.H. Litha, direktur eksekutif perusahaan tersebut, dan wakilnya, Andhy Gunawan. Keduanya kini meringkuk di ruang tahanan Kepolisian Daerah Metro Jaya. “Kami tetap melayani nasabah walau keduanya tidak ada,” kata Zenita, anggota staf perusahaan itu.

Menurut Kepala Unit V Satuan Fiskal, Moneter, dan Devisa Polda Metro Jaya Komisaris Shinto Silitonga, Ivan dan Andhy ikut berperan dan menikmati duit Rp 111 miliar Elnusa, yang digerus dari Bank Mega Jababeka, Bekasi. Uang itu dialirkan ke PT Discovery Indonesia dan PT Harvestindo Asset Management. “Mereka membeli produk investasi dengan uang itu,” kata Shinto.

Hubungan Discovery Indonesia dengan Discovery Futures bagai kakak-adik. Keduanya menggunakan kantor yang sama, ya itu tadi, lantai lima Menara Thamrin, yang terletak di jalan terkemuka Ibu Kota, Jalan Mohammad Husni Thamrin. Keduanya berada di bawah satu bendera, yakni Yayasan Discovery. Ivan pemilik yayasan ini. “Beliau menjadi direktur eksekutif di dua perusahaan itu,” ujar Zenita. Andhy menjabat wakil direktur di dua Discovery ini. Kendati polisi menyebut Discovery Indonesia dan PT Harvestindo diduga sebagai tempat penampungan duit hasil pembobolan Bank Mega Jababeka, hingga kini baru Discovery Indonesia yang ditelisik polisi.

Tak mengherankan jika Harvestindo juga menampung duit dari Bank Mega itu. Soalnya, di perusahaan ini pun Ivan dan Andhy memiliki jabatan penting. Ivan komisaris utama dan Andhy menjadi lapis kedua Ivan, sebagai komisaris. “Pemegang saham mayoritas Harvestindo memang Ivan,” kata Direktur Utama PT Harvestindo Fresty Hendayani.

Discovery Indonesia dan Harvestindo sama-sama mencari mereka yang memiliki dana berlebih untuk diajak berinvestasi. Nasabah dijanjikan imbalan bunga tinggi. Program investasi itu, misalnya, mereka pampangkan lewat blog di alamat http://discoveryprotectedfund.blogspot.com, yang menawarkan program Discovery Protected Fund. Inilah jasa pengelolaan uang nasabah dengan janji nasabah bakal memperoleh keuntungan 1,5 persen per bulan dari modal yang disetor. “Modal pokok terjamin pengembaliannya,” demikian janji Discovery dalam situs -mereka.

Adapun Harvestindo lebih berfokus pada penjualan produk reksa dana. Pada 2007 hingga 2009, perusahaan ini sempat berkibar dengan produk andalan Reksadana Harvestindo Istimewa. Saat itu mereka berhasil meraup dana nasabah sebesar Rp 360 miliar. Namun, pada 2008, bisnis Harvestindo terjun bebas lantaran dihajar krisis moneter. Akibatnya, perusahaan ini mengalami gagal bayar bunga dan tagihan nasabah. Badan Pengawas Pasar Modal pun menghentikan program ini.

Di luar dua perusahaan itu, sebenarnya ada dua perusahaan lagi yang disebut-sebut terlibat dalam pembobolan deposito nasabah Bank Mega Jababeka, yakni PT Pacific Fortune Management dan PT Noble Mandiri Investment. Kejaksaan menyebutkan keduanya menampung aliran duit deposito milik Kabupaten Batu Bara sebesar Rp 80 miliar.

Berbeda dengan Discovery dan Harvestindo, sebagai perusahaan investasi, informasi tentang Pacific Fortune dan Noble Mandiri sangat minim. Terkesan seperti perusahaan abal-abal. Nama perusahaan itu tak terdaftar di Bapepam. Di mesin pencari Google, nama situs mereka tercatat sebagai http://www.pacific-fortune.com dan hyperlink http://www.noblemandiri.com. Saat situs itu ditelusuri, yang muncul tulisan “under construction”.

Ivan, kendati mendekam di dalam sel, tetap mengendalikan Yayasan Discovery. Lewat BlackBerry, ia menulis berbagai pesan di laman Facebooknya, yang isinya mengajak karyawan Discovery tetap bekerja dan optimistis meraih keuntungan. “All Discovery, (kita) akan segera baik dan normal kembali,” tulis Ivan, Selasa pekan lalu, di laman Facebooknya.�

Kepada Tempo, seorang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan berharap polisi membongkar Discovery, Harvestindo, dan Pacific. Pusat Pelaporan, ujarnya, curiga perusahaan ini sebenarnya berkaitan erat dengan Richard Latief. “Richard bisa jadi pemilik dan pengendali utama perusahaan-perusahaan itu,” ujarnya.

Mustafa Silalahi, Febriana Firdaus

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: