Generasi Baru, Harapan Baru

oleh : Harmanto Edi Djatmiko

Selain mengembangkan bisnis warisan orang tua, generasi muda bisnis ini berani merambah bisnis-bisnis baru yang tak terpikirkan pendahulunya. Bisakah mereka diharapkan membangun powerhouse bisnis baru?

Sehari-hari kita sering mendengar ungkapan yang berusaha menggambarkan betapa nikmatnya menjadi anak atau cucu konglomerat: duit segunung, harta berlimpah, koneksi ke segala arah, hidup terpandang. Memang, dalam pandangan orang kebanyakan, mau cari apa lagi dalam hidup ini selain mengejar semua kenikmatan itu …

Betulkan selalu begitu? Kalau tidak segan kepada orang tua mereka, para anak dan cucu konglomerat itu mungkin justru akan balik bertanya: Siapa bilang jadi anak dan cucu konglomerat itu enak? Setidaknya, itulah yang terungkap ketika SWA mewawancarai anak dan cucu sejumlah pengusaha besar di negeri ini. Mereka memang tidak mengatakannya terus terang. Namun, dari perjuangan dan kisah hidup keseharian yang mereka tuturkan, cukuplah untuk sampai pada kesimpulan itu.

Betul, buat mereka, uang dan harta tak pernah jadi masalah. Bahkan melimpah. Toh, sempatkah mereka menikmatinya? Bayangkan, sedari usia sangat muda, banyak dari anak pengusaha besar ini harus berpisah dari orang tua. Selepas SD atau SMP, mereka “dipaksa” sekolah di luar negeri, biasanya Singapura atau Australia. Setelah itu, banyak dari mereka yang lantas “disarankan” menuntut ilmu yang lebih canggih lagi. Dan ini berarti, mereka harus terbang ke negeri yang lebih jauh lagi seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, atau yang terdekat Jepang. Orang kebanyakan mungkin memandang fenomena ini sebagai bentuk kemewahan. Akan tetapi, bagi para pelakunya, boleh jadi hal itu diterima sebagai bagian dari keprihatinan hidup yang mesti mereka jalani.

Yang jelas, di mana-mana, orang tua umumnya punya niat baik buat anak-anaknya. Orang tua mana sih yang tak ingin anak-anaknya mengenyam pendidikan terbaik? Dan karena itu, punya masa depan yang cerah? Contoh ekstremnya, kita kerap mendengar kisah sejumlah petani yang rela menjual sawahnya untuk biaya kuliah sang buah hati. Demikian pula konglomerat, kalau ada uang, tak ada salahnya menyekolahkan anak ke ujung dunia sekalipun, demi meraih pendidikan terbaik.

Namun, relativisme nilai tetaplah berlaku. Maksudnya begini: selama masih di atas bumi ini, rasanya tak ada kebaikan yang betul-betul murni. Kalau mau jujur, sebaik-baiknya orang tua, tetap saja ada pamrihnya, meski terselip nun jauh di lubuk hati. Dengan berkorban menjual sawahnya, tak ada salahnya sang petani berharap, kelak kalau anaknya sudah jadi “orang”, sang anak bisa membeli sawah yang lebih luas lagi.

Demikian halnya konglomerat. Dengan membekali pendidikan terbaik hingga ke ujung dunia, sudah selayaknya mereka berharap anak-anaknya kelak bisa mempertahankan bahkan membiakkan kekayaan yang diraih dengan susah payah oleh sang orang tua. Alhasil, semakin harumlah nama ayah-ibu atau kakek-nenek mereka. Ini bukan perkara mudah. Sebab, konon, mempertahankan suatu prestasi jauh lebih susah ketimbang meraihnya, apalagi mengembangkannya.

Nah, sudah menjadi pengetahuan umum, lebih dari dua pertiga roda perekonomian dan bisnis negeri ini digerakkan oleh perusahaan swasta yang bisa dikategorikan sebagai konglomerat, baik yang kelas kakap maupun menengah. Ini jelas realitas yang tak elok dipandang dari teori ekonomi mana pun. Realitas bahwasanya sejauh ini, struktur perekonomian negeri ini sangat pincang. Kendati ribuan kritik menghujani, realitas itulah yang hadir dan mau tak mau kita akrabi saat ini.

Mau tak mau juga, kita mesti mencermati regenerasi kepemimpinan para konglomerat tersebut. Bagaimana pun, di tangan merekalah pilar-pilar perekonomian negeri ini banyak dipertaruhkan. Dalam konteks ini, tak ada salahnya kita tanggapi secara positif upaya konglomerat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia generasi penerusnya seperti diungkapkan di atas. Berbekal ilmu bisnis dan manajemen ultramodern, didukung teknologi informasi supermutakhir, plus pergaulan dan eksposur yang lebih mengglobal (menguasai beragam bahasa asing), generasi muda bisnis penerus konglomerat diharapkan mampu kian memperkokoh sekaligus melesatkan perusahaan yang telah dirintis dan dibangun generasi sebelumnya.

Terlebih, selain mengembangkan bisnis warisan pendahulunya, dengan segala kehebatan yang dimiliki, generasi muda bisnis ini berani merambah ladang-ladang bisnis baru yang dulu sama sekali tak dikenal ayah-ibu atau kakek-nenek mereka seperti industri kreatif, hospitality, teknologi informasi, dan seabrek lagi jenis industri yang lagi heap. Bukan sekadar bisnis tradisional seperti properti, kimia, kayu lapis, atau tekstil.

Rasanya tak berlebihan – sekali lagi, dengan segala kehebatan dan kelebihan yang mereka miliki – kita berharap generasi muda bisnis ini mampu membangun powerhouse bisnis baru di negeri ini. Who knows?

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: