Kubu Lama, Seteru Baru

  • SELARIK pesan pendek dikirim Kepala Biro Riset, Data, dan Publikasi Partai Demokrat Prasetyo Sudrajat pada Kamis pekan lalu. Pesan itu menyatakan Ruhut Sitompul bukan juru bicara partai. Menurut dia, Ketua Divisi Komunikasi Andi Nurpati dan Sekretaris Hinca Panjaitan-lah yang boleh berbicara mewakili partai. Andi mempertegas pernyataan itu: “Ruhut boleh-boleh saja berkomentar, tapi tidak ada istilah juru bicara.”

    Prasetyo mengaku pesan pendek itu inisiatif pribadi, bukan instruksi Yudhoyono. “Sudah lama dan bukan dalam kasus Nazaruddin saja Ruhut menyebut dirinya juru bicara,” katanya.

    Menyimak maraknya pemberitaan media yang menyebut Ruhut sebagai juru bicara, Divisi Komunikasi sempat membahas soal ini tiga bulan lalu. Menurut dia, saat itu diputuskan agar Ruhut meralat klaimnya sebagai juru bicara partai. Bukannya merespons, “Ruhut malah bilang, �Saya kan pemain sinetron’,” kata Pras.

    Dalam dua pekan terakhir setelah kasus Nazaruddin mencuat, wajah Ruhut memang sering muncul di media. Komentar lugas dan pedas membela Nazaruddin sering ia ucapkan. Dia berani menyerang Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md., yang membuka kasus pemberian uang dari Nazaruddin kepada Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Djanedri M. Gaffar.

    “Dicopot” sebagai juru bicara, Ruhut meradang. Dia mengatakan Ketua Dewan Pembina Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tidak mempersoalkan statusnya sebagai juru bicara. “Bapak bilang semua kader harus jadi juru bicara,” katanya.

    Saling serang dua politikus partai biru itu terjadi persis sehari setelah Yudhoyono mengumpulkan semua pengurus Demokrat di kediamannya, Cikeas, Bogor. Pesan agar pengurus partai tetap kompak pascapencopotan Muhammad Nazaruddin menguap begitu saja.

    Dengan lugas Ruhut menyebut Andi Nurpati merupakan bagian dari kubu Andi Mallarangeng, yang ingin menyingkirkan Nazaruddin. Yang terakhir adalah bekas bendahara umum yang bersama Ruhut menjadi anggota tim sukses Anas Urbaningrum saat terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat tahun lalu. Anas melenggang menjadi orang nomor satu di partai setelah menyisihkan Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie.

    Ruhut menyebut Andi Nurpati, Kastorius Sinaga, Denny Kailimang, Didi Irawadi Syamsudin, dan Amir Syamsuddin (Sekretaris Dewan Penasihat) sebagai anggota kubu Andi Mallarangeng. “Mereka itu orang yang tidak siap kalah,” katanya. “Jadinya seperti orang kalap.”

    Sumber Tempo menyebutkan kasus Nazaruddin menimbulkan pergulatan dua kubu di dalam partai. Kubu Anas dengan motor Benny K. Harman, Ruhut, dan Sutan Bhatoegana mati-matian mempertahankan Nazaruddin sebagai kasir partai. Ada kubu lain, yaitu Amir Syamsuddin dan Kastorius, yang dengan lantang mendesak Nazaruddin ditindak tegas. “Amir dan Kastorius adalah orang dekat Andi Mallarangeng,” katanya.

    Kendati demikian, menurut sumber tadi, dua kubu yang terbentuk itu tidak melulu karena faktor faksi pascakongres di Bandung. “Terjadi irisan di antara mereka,” katanya. “Faktor perekatnya adalah uang.”

    Anas dan Andi berulang kali membantah ada faksi di tubuh partai. Politikus Demokrat yang diserang Ruhut juga ramai-ramai menyanggah. Kastorius mengatakan sikap keras kepada Nazaruddin merupakan sikap kader yang ingin partainya bersih.

    Andi Nurpati membantah dibawa Andi Mallarangeng masuk partai. “Saat bergabung dengan partai, saya ditelepon oleh Mas Anas,” katanya. Didi Irawadi, yang namanya juga disinggung, memastikan tak ada perkubuan. “Anas itu merangkul semua.”

    Fanny Febiana, Setri Yasra

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: