Petualangan Tjandra Gozali di Kancah Bisnis

oleh : Kristiana Anissa

Mampu melihat peluang, learning by doing dan kreativitas adalah hal utama yang menjadi kunci sukses seorang wirausaha. Kelebihan ini pula yang membawa Tjandra Gozali menjadi salah satu pemain di bisnis yang diperhitungkan di Tanah Air.

Tjandra Mindharta Gozali sebenarnya bukan sosok baru di medan bisnis di Surabaya. Pria sederhana kelahiran Jember tahun 1952 ini tak lain dan tak bukan adalah kakak kandung Henry J. Gunawan, pemilik PT Surya Inti Permata dan besan Eddy William Katuari, pemimpin tertinggi Grup Wings. Putra pertama Tjandra, Kreisna Dewantara Gozali adalah suami Jean Katuari, putri kedua William.

Saat ini Tjandra masih menjabat sebagai Presdir PT Gozco Plantation Tbk., perusahaan yang bergerak di bisnis sawit dan di PT Fortune Mate Indonesia Tbk. (properti), serta komisaris dan pemegang saham utama PT Bank Yudha Bhakti. Jiwa kewirausahaan orang tuanya tampaknya menurun pada Tjandra, yang perjalanan hidupnya sarat dengan pengalaman dan jatuh-bangun di kancah bisnis. Ia mengakui, dirinya adalah tipe orang yang tidak bisa diam dan harus selalu ada yang dikerjakan. Setelah dewasa, kebiasaaan itu terarah pada bisnis, dan yang pertama membuatnya tertarik dan terjun ke dunia wirausaha adalah contoh dan didikan orang tuanya.

Ayah Tjandra, Gunawan Poernomo, pernah mendirikan kongsi bisnis gula bernama PT Argad, bersama dengan Irawan, rekanan dari Jakarta. Menurut Tjandra, Irawan adalah teman sekampung ayahnya saat masih di Republik Rakyat Cina. Argad adalah perusahaan yang menjadi anggota sindikasi pengadaan gula di bawah Departemen Perdagangan. Tahun 1969, Tjandra ditunjuk oleh orang tuanya sebagai wakil di perusahaan itu. Saat itu di Indonesia hanya ada 12 anggota sindikasi, dan Irawan adalah orang yang cukup dekat dengan Menteri Perdagangan Soemitro Djojohadikusumo. “Saat itu saya masih belajar. Kami mendapat target mendistribusikan gula 40-60 ribu ton per bulan. Kami distribusikan ke pedagang besar, menengah dan seterusnya. Tapi Argad bubar karena penyaluran gula saat itu diteruskan oleh Bulog,” anak ketiga dari 8 bersaudara ini menjelaskan.

Sebenarnya Tjandra telah mulai mencari uang sendiri di tahun 1967. Saat itu ia menjalankan usaha fotografi di tempat asalnya, Jember. Setelah penutupan SMP Tiong Hoa, tempatnya bersekolah, Tjandra – yang memang hobi fotografi – berusaha mengisi waktu dan mengambil peluang usaha jasa foto untuk Kartu Tanda Penduduk. “Saat itu banyak penduduk yang belum ber-KTP. Mereka harus foto, sementara toko foto belum banyak dan tidak murah, maka saya mengambil kesempatan mencari tambahan uang saku buat membeli peralatan foto yang memang dibutuhkan buat menunjang hobi saya,” ayah tiga anak ini menceritakan. Tjandra menjemput bola keliling desa, menghubungi kelurahan untuk mendapat order foto, hingga ia mendapat pesanan menangani 12 desa. “Waktu penyelesaiannya lumayan lama, hampir dua tahun,” ia menambahkan.

Pria yang hobi olah raga dan membaca ini memulai usahanya sendiri secara resmi dengan mendirikan Express, perusahaan yang membidangi ekspor-impor barang kebutuhan rumah tangga (houseware), seperti panci dan sebagainya dari Taiwan dan Hong Kong tahun 1974. Saat itu Tjandra melihat ada salah satu temannya yang sudah masuk di bisnis ini dan ia pun tertarik bergabung. “Sebenarnya, sejak 1972 saya sudah minta izin Papa untuk meninggalkan Jakarta karena ingin bikin usaha sendiri. Tapi baru diizinkan pada 1974. Kami coba cari channel di luar, lalu dapat. Merek Maspion dulu memang ada, tapi masih kecil. Lebih banyak yang impor,” paparnya. Ia tidak mengambil barang dari Cina karena saat itu barang dari Cina masih kalah dibanding Taiwan.

Di sinilah jiwa kewirausahaan Tjandra terasah. Dari Surabaya, ia langsung ke Taiwan mencari pemasok. Ini tergolong nekat mengingat dirinya tidak memiliki kenalan dan teman di Taiwan. Sesampainya di hotel, ia mencari nomor kontak pemasok di Yellow Pages lalu dihubunginya nomor demi nomor. “Bahasa yang saya gunakan campuran antara Cina, Inggris dan Kantonis. Dulu di sana, bahasa Cina masih dianggap hina,” kata Tjandra. Setelah sekitar seminggu berada di Taiwan, ia menelepon dan mendatangi para pemasok. Dengan perlahan tetapi pasti, kemudian Tjandra menemukan pemasok yang cocok dalam hal harga dan sesuai dengan kebutuhan. Ia mengaku menjalani bisnis ini hingga 1977.

Selanjutnya, tidak puas hanya dengan trading, Tjandra memulai lagi langkah inovatifnya, masuk ke bidang manufaktur dengan memproduksi kaleng cat. Ia memasok ke Atlantic Paint, Avian, Emco, dan lain-lain. Berdasarkan pengalamannya ke luar negeri dan berhadapan dengan banyak pedagang lain, Tjandra menjadi tahu soal kualitas mesin dan jumlah modal yang dibutuhkan untuk memproduksi kaleng. Ia pun membeli mesin bekas untuk kebutuhan plong dan tekuk.

Tahun 1980, perusahaannya mulai melakukan modernisasi. Dengan menggunakan bendera Indocan, ia membeli lahan di Surabaya Industrial Estate Rungkut, dan mengimpor mesin dari Taiwan. “Mesinnya merek Ching Ie dan mampu menghasilkan hingga 50 kaleng per menit,” katanya. Tahun 1981, kembali dilakukan modernisasi dengan mendatangkan mesin dari Jerman, merek Rieckerman, yang mampu memproduksi hingga 200 kaleng per menit. Akhirnya, bisnis kaleng yang ia tekuni mampu memproduksi hingga jutaan kaleng per bulan. Ia juga memiliki lima klien besar untuk produk mur dan bautnya, seperti Grand Master, Rakuda, dan tiga perusahaan lain yang tidak ia sebutkan namanya. Menurut Tjandra, semua detail mengenai operasional bisnis tersebut ia pelajari dari lapangan. “Jika kami ikut dalam operasional, kami akan tahu masalahnya, penyakitnya, dan cara menangani. Semua itu dari pengalaman di lapangan,” ujarnya lugas.

Dalam hal permodalan, ia menggunakan dana dari koceknya sendiri dan keuntungan yang ia peroleh dari bisnis sebelumnya, serta pinjaman bank. Tjandra tidak meminta bantuan modal dari orang tua ataupun memanfaatkan jejaring yang ia miliki saat bekerja di perusahaan ayahnya.

Usia yang masih muda saat itu membuat Tjandra ingin mencoba berbagai peluang bisnis. Begitu melihat peluang yang lebih baik, ia segera mencobanya. Ia pun beralih ke bisnis manufaktur mur baut di tahun 1982, serta karung plastik anyaman atau sak, yang biasa digunakan untuk kemasan pupuk di tahun 1983. Sementara bisnis kaleng Indocan dilanjutkan oleh adiknya. Ia memproduksi mur baut untuk supporting industri. Peluang ini ada, karena biasanya pabrik harus mengimpor dengan kuantitas dan syarat tertentu, dan ada masalah delivery time yang membuat waktu kedatangan produk mur baut tidak tentu.

Ia mengimpor mesin untuk memproduksi mur baut dari Taiwan. Tjandra tidak ingat nilai invetasinya, yang pasti lebih mahal dibanding mesin can (kaleng). Adapun mesin produksi karung plastik ia datangkan dari Jepang. Ia juga mengimpor biji plastik dari Jepang. Tjandra memasok karung plastik ke Petrokimia dan Pusri. Semuanya berjalan hingga tahun 1989, dan selanjutnya ia masuk ke bisnis sepatu.

Di masa itu, banyak industri sepatu dari Taiwan yang melakukan relokasi karena biaya produksi di sana mahal. Tjandra pun melihat peluang baru di bisnis sepatu. Ia mendapat kontak pengusaha Taiwan yang ingin merelokasi dari kliennya ketika berbisnis houseware dulu. “Waktu itu cukup ramai, kami sampai buka dua pabrik. Pabriknya berada di Tambak Sawah Sidoarjo,” ujarnya. Industri sepatu diakui Tjandra sedikit berbeda karena sifatnya yang padat karya. Ia menambahkan, pihak Taiwan berperan di bidang pengembangan, pemasaran dan penjualan, sedangkan Tjandra di bagian keuangan, manajemen dan produksi. “Produksi paling puncak kami pernah ekspor hingga 2,5 juta pasang per bulan.”

Bisnis sepatu tersebut kian berkembang dan Tjandra menggunakan bendera PT Fortune Mate Indonesia Tbk. (FMII), PT Tong Chuang Indonesia, PT Surya Inti Permata (SIM) dan PT Shoe Link Indonesia. Besarnya kepemilikan Tjandra di perusahaan sepatu tersebut bermacam-macam, ada yang 30%, 40%, 50% dan 70%. “Pihak Taiwan menyerahkan semua kepada kami untuk operasional. Kamilah yang paling tahu dan mengerti soal karyawan, yang kebanyakan perempuan. Jumlah karyawan kami pernah mencapai puncaknya, yakni 30 ribu orang,” ia menjelaskan.

Sayang, tahun 2003 ia terpaksa menutup usaha sepatunya. Pasalnya, perusahaan Taiwan tersebut memutuskan beralih ke Cina dan Vietnam karena biaya buruh yang murah. Tjandra pun melihat bisnis sepatu di Indonesia tidak lagi kompetitif karena mahalnya biaya buruh akibat adanya Keputusan Menteri No. 13 tentang Pesangon, yang membuat beban pengusaha semakin berat. Di tahun 2003 itu, Tjandra mem-PHK-kan lebih dari 20 ribu karyawannya dengan pesangon lebih dari Rp 180 miliar. “Kami pikir waktu itu kami ada kas dan jangan sampai kami tetap jalan terus kemudian berada dalam kondisi rugi. Itu malah berisiko. Tanggung jawab kami harus dituntaskan. Begitu pasar mulai merosot dan harga kalah bersaing, kami putuskan untuk berhenti,” tutur Tjandra.

Sejak 2008, semua perusahaan tersebut sudah tidak lagi beroperasi di bisnis sepatu. Dan, setelah tidak lagi menjalankan usaha produksi alas kaki, FMII mengubah bisnis inti ke bidang properti dengan mengakuisisi dua perusahaan real estate, yaitu PT Masterin dan PT Multi Bangun di tahun 2008. Kini, FMII memiliki lahan di sekitar Osowilangun, Benowo seluas sekitar 800 ha, dalam waktu dekat akan dibangun menjadi perumahan dan kawasan komersial.

Selain itu, FMII juga mulai mengerjakan kluster seperti Taman Sari. “Di Lamong Bay, milik Pelindo, jalan menuju pantai berasal dari kami. Rencana kami selanjutnya, tanah di sekitar situ untuk supporting pelabuhan. Ekspedisi Muatan Kapal Laut, gudang, dan sebagainya,” Tjandra menerangkan. Sementara itu, PT SIM masih menjajaki kemungkinan lain yang lebih layak. Sekarang, Tjandra-lah pemegang saham pengendali di kedua perusahaan tersebut.

Di tahun 1999 Tjandra mulai masuk di bisnis sawit. Ia melihat sawit mempunyai potensi besar dan Indonesia adalah satu dari sedikit negara tropis di dunia yang kondisi iklim dan tanahnya cocok untuk pengembangan kelapa sawit berskala luas. Terlebih, kelapa sawit memiliki banyak produk turunan dan bisa memenuhi beragam keperluan, dari makanan, bahan pokok berbagai industri, hingga sumber energi berupa biodiesel dan dapat terus diproduksi, Selain itu, ia menilai, pekerjaan di bisnis sawit tidak terlalu ngoyo. “Orang seperti saya, kalau nanti sudah mencapai usia 70 atau 80 tahun, berharap masih bisa kerja di kebun dengan santai. Sawit itu sekali tanam, selama 20 tahun tinggal metik terus. Yang harus dilakukan hanya pemupukan dan perawatan. Nah ini cocok buat orang tua seperti saya. Itu awal mula idenya,” ujar Tjandra diiringi tawa.

Awalnya ia mengambil alih sekitar 4 ribu ha lahan di Muara Enim dari salah satu rekannya. Muara Enim dinilainya cocok karena syarat untuk tanaman sawit adalah curah hujan di atas 220 mm per tahun dan sinar matahari yang kuat, sehingga yang terbaik adalah di wilayah garis khatulistiwa. Untuk investasi di bisnis sawit ini, Tjandra harus merogoh kocek hingga Rp 70 miliar ditambah menanggung utang kredit macet perusahaan yang dibelinya itu di BNI sekitar Rp 180 miliar. Hingga tahun 2003, bisnis sawitnya belum berkembang, bahkan sempat terjadi pencurian pupuk, dan sebagainya. “Waktu itu saya tidak bisa konsentrasi penuh, karena masih memikirkan soal sepatu yang jumlah karyawannya mencapai ribuan. Padahal karyawan saya sudah banyak yang menyarankan untuk menutup usaha sepatu itu karena rugi terus. Sampai 2003 merugi terus, tiap bulan ruginya berkisar Rp 2-3 miliar,” papar Tjandra. Baru pada 2003, setelah semua karyawan sepatu di-PHK-kan, ia mulai konsentrasi ke bisnis sawit.

Dan, kebetulan di tahun 2003 itu putra sulung Tjandra, Kreisna baru kembali dari Amerika Serikat. Sebelumnya, sewaktu di AS ia sudah bekerja di Deutschebank, tetapi ingin pulang dan membantu meneruskan usaha ayahnya. “Saya bilang sama Kreisna, kalau mau prospek bagus ya di sawit. Sawit tidak dimiliki oleh semua negara. Apalagi di masa mendatang, akan dijadikan sebagai energi alternatif seperti biodiesel dan sebagainya,” katanya.

Ia juga menekankan pada Kreisna bahwa bisnis sepatu sudah mulai turun dan struktur organisasi di perusahaan sepatu saat itu sudah lengkap. Sementara di kebun sawit, Kreisna benar-benar harus berjuang dari bawah. Akhirnya, Kreisna berani mencoba tantangan baru dengan mengembangkan bisnis sawit ayahnya, tinggal di perkebunan sawit, menanam sawit, dan merangkul semua pihak di sekitar perkebunan. “Setelah satu tahun, dia senang, karena bisa mengembangkan usaha sawit itu. Dalam waktu dua-tiga tahun, dia sudah menguasai medan. Ketika sudah berkembang, kami mulai mengakuisisi perusahaan lain,” tutur Tjandra.

Di mata Kreisna, Tjandra sebagai ayah adalah sosok yang memberikan cukup kebebasan berkembang dan tidak otoriter. Menurutnya, Tjandra dapat diajak berdiskusi dan mengajarkan dirinya untuk menghargai dan sopan pada semua orang tanpa melihat status. Kreisna menilai, sebagai seorang pengusaha dan pemimpin, Tjandra sangat rajin dan kreatif. “Baginya bekerja adalah hobi dan kebiasaan. Katanya kalau tidak kerja malah aneh. Papa saya juga tipe yang memberikan wewenang kepada setiap kepala bagian. Tidak semua one man show,” ujar Kreisna.

Sementara itu, Andrew Michael Vincent, Direktur Teknik dan Plantation PT Gozco Plantation Tbk., mengungkapkan, Tjandra adalah sosok yang visioner, fokus dan konsisten dengan tetap mengutamakan tujuan usaha. Menurutnya, meskipun Gozco adalah perusahaan sawit yang belum terlalu besar, Tjandra telah memiliki visi ke depan dan berani mengambil keputusan untuk memperluas usahanya dengan memperkuat permodalan melalui initial public offering (penawaran saham perdana). “Permodalan jadi lebih kuat dan perusahaan ini jadi lebih dikenal karena sudah go public. Beliau memang kreatif, kesulitan dianggap sebagai tantangan dan selalu berusaha cari solusi yang tepat. Beliau terbuka dengan pendapat dan masukan orang, dan tegas,” ia berkomentar. Andrew, yang juga GM Sumatera Selatan di PT London Sumatera Plantation Tbk., bermitra dengan Tjandra sejak akhir tahun 2005, memiliki share sekitar 0,7% di Gozco.

Go Siang Chen, staf pengajar Pascasarjana Universitas Surabaya, berkomentar, Tjandra adalah sosok yang mampu berpikir kreatif dan berperilaku inovatif, sehingga dapat menggerakkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan. Menurutnya, Tjandra tidak hanya pintar berencana, tetapi juga berbuat, ia mampu merealisasi rencana menjadi tindakan yang berorientasi pada kesuksesan. Pada saat menghadapi hambatan ia mampu menyiasati dengan baik. Go menilai, Tjandra biasanya sukses di bisnis yang sifatnya mengembangkan teknologi baru atau pengetahuan baru, misalnya terkait efisiensi atau optimalisasi hasil. Selain itu, Tjandra juga terus melakukan perbaikan produk.

Ke depan, Tjandra mengaku akan fokus di bisnis sawit dan properti, sedangkan bisnis banknya lebih merupakan bisnis pendukung. Bank Yudha Bhakti yang didirikan sejak 1990 itu merupakan bank umum yang termasuk dalam golongan aset Rp 1-10 triliun, dan berasas prudent banking. Menurutnya, Yudha Bhakti selama 1997-2010 mencatatkan prestasi yang gemilang dan membagikan dividen tahunan. Namun, ia menegaskan, tidak pernah menggunakan uang dari Yudha Bhakti untuk mengembangkan usahanya yang lain.

Bagi Tjandra, yang terpenting mampu bangkit dan berjalan lagi setelah tersandung dan jatuh. Pada awal menjalani usaha, karena masih kurang pengalaman dan jejaring, Tjandra pernah mengalami jatuh-bangun bahkan sampai kondisi yang cukup parah, tetapi akhirnya ia mampu bangkit kembali. “Satu-satunya kunci untuk hal itu adalah menyelesaikan semua kewajiban yang ada. Dengan demikan rekan bisnis yakin akan goodwill kami, sehingga dalam waktu yang pendek semua bisa pulih untuk bangkit lagi. Demikian pula dengan kewajiban pada bank, semua kewajiban harus diselesaikan, kami harus bertanggung jawab. Pedoman itu harus dipegang dan dijalankan,” tuturnya menegaskan.

Ia selalu mengutamakan kredibilitas, keterbukaan dan komitmen dalam berbisnis. Dalam budaya Cina, kredibilitas adalah dasar utama dari semua hubungan, termasuk hubungan bisnis. Bila seseorang memiliki kredibilitas yang baik di mata orang lain atau pelaku usaha, akan lebih mudah baginya menjalin hubungan bisnis baru dan mengembangkan bisnis yang sudah ada. Selain itu, keterbukaan dengan rekan bisnis atau calon rekan bisnis juga penting, termasuk kejujuran, serta kewajaran dalam menilai dan memutuskan segala sesuatu. Dan, komitmen pun harus menyertai semua yang sudah diputuskan, yang berarti jika telah berkomitmen harus menjalankan dengan sepenuh hati, tidak menganaktirikan rencana yang sudah tersusun dan fokus pada tujuan yang sudah ditetapkan di awal.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: