Mereka Direnggut dari Keluarga

Penulis: Icha Rastika
nii

Selama kurang lebih sepuluh tahun, Nani (nama samaran) tidak lagi melihat wajah ketiga putrinya, Nuni Juhardini, Neni Mindayani, dan Lela. Di awal tahun 2001 mereka meninggalkan rumah tanpa alasan jelas. Hanya sebuah surat yang menjelaskan kepergian Nuni dan Neni. Sedang, Lela pergi tanpa pesan.

Berikut petikan surat tulisan tangan Nuni dan Neni yang dikirim untuk Ibunya.

“Mama, Neni dan Nuni enggak akan pulang lagi. Jadi, enggak usah lagi pikirin dan khawatir sama kita, atau sampai nangis segala. Karena itu hanya nyusahin Mama saja. Neni dan Nuni sudah dewasa, sudah bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Kita berdua yakin ini lah jalan yang benar karena mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Apa yang kita lakukan semuanya tanggungjawab kita karena setiap diri bertanggungjawab atas dirinya. Dan kita pun berbuat ini bukan mengikuti hawa nafsu atau kata guru, tapi semata-mata mengikuti ayat Allah. Juga karena takut kita kepada Allah lebih besar dari pada yang lain. Masalah rejeki, Neni dan Nuni yakin akan Allah kasih. Kalau Mama mau ikut jalan yang sama dengan kita yaitu ikuti ayat Allah, insya Allah kita bisa berkumpul kembali seperti dulu. Semua itu atas petunjuk Allah.”

Membaca surat dari kedua putrinya itu, Nani semakin mengkhawatirkan kondisi buah hatinya. Rasa rindu bercampur cemas tak lagi mampu dibendungnya. Ia lantas melaporkan kehilangan dua putrinya itu ke Polsek Kebun Jeruk, Jakarta Barat pada Januari 2001. Namun, hingga kini ketiga putrinya tak kunjung pulang ke pelukan.

Kemalangan serupa sempat dialami pasangan Rostina dan Abdul Muntholib, warga Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pasangan suami istri itu sempat kehilangan anaknya, Mahathir Rizki (19) yang menjadi mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang (UMM). Mahasiswa semester dua Fakultas Teknik Jurusan Teknologi Informasi tersebut hilang sejak 25 Maret 2011. Untungnya, Pada 26 April, Rizki kembali ke rumahnya.

Rizki adalah salah satu dari 10 mahasiswa UMM yang diduga merupakan korban cuci otak. Selama menghilang, kepada kedua orangtuanya, Rizki sempat menyampaikan pesan serupa dengan Nuni dan Neni. Saat menghubungi orangtuanya melalui telepon pada 19 April, Rizki mengaku hidup tenang di suatu tempat dan enggan pulang ke rumah ataupun kembali berkuliah. Belakangan diketahui, ia telah bergabung dalam kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Selama menghilang, Rizki mengaku berada di sebuah daerah di Semarang, Jawa Tengah.

Tak ada habisnya

Laporan orang hilang yang diduga terkait dengan NII seolah tidak ada habisnya. Sejak awal tahun ini hingga Mei misalnya, Kepolisian Daerah Metro Jaya memperoleh satu laporan orang hilang yang diduga terkait dengan jaringan NII. Kepala bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes (Pol) Baharudin Djafar, Selasa (10/5/2011) menyampaikan, laporan orang hilang terkait NII diterima Polda pada 2 Mei. Pelapor adalah Syarifah Fauziah, warga Pamulang, Tangerang Selatan. Syarifah mengaku, anaknya, R bersama menantunya, C terlibat dalam jaringan NII. R diketahui bergabung dengan NII sejak 2005. Sementara C yang dikabarkan menjadi bupati NII, bergabung sejak 1997.

“Keduanya masih bisa berkomunikasi dengan keluarga, tetapi keluarga tidak suka anaknya masuk ke dalam NII. Syarifah ini juga mengaku menantunya jadi bupati, kita coba buktikan pengakuan ini,” kata Baharudin.

Laporan serupa juga diterima NII Crisis Center, organisasi yang memberi bantuan konseling kepada mereka yang merasa menjadi korban gerakan NII. Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center, Sutanto mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir, pihaknya menerima 80 laporan orang hilang. Namun, hanya 34 di antaranya yang terbukti berkaitan dengan NII. “setelah kita konfirmasi baru 34 orang yang hilang dan riil berkaitan dengan NII,” kata Sutanto kepada Kompas.com, Rabu (11/5/2011). Sejak 2007 hingga kini, lanjut Sutanto, NII Crisis Center berhasil mengeluarkan 300 orang dari kelompok NII. Jaringan ini, menurutnya, banyak menyasar kalangan mahasiswa untuk direkrut sebagai anggota baru. Para korban perekrutan, kata Sutanto, umumnya menghilang dari rumah demi menjalani program-program NII. Sepak terjang kelompok ini dinilainya menimbulkan kerugian baik bagi si korban sendiri, keluarga, maupun orang di sekitar korban.

Berantakan

Kekacauan hidup dialami Rika (nama samaran) setelah anaknya Dino (nama samaran) bergabung dengan geraka ini. Kuliah Dino berantakan. Dino yang sempat bergabung selama setahun yakni 2007-2008 itu terpaksa pindah kampus demi menghindari anggota-anggota NII yang terus mengejarnya meskipun Dino memutuskan untuk keluar. “Kuliahnya keluar, ini juga yang bikin saya dendam, masa depan anak saya rusak,” tutur Rika.

Ia kemudian menceritakan bagaimana awal mulanya pihak keluarga mengetahui keikutsertaan Dino dalam NII. Menurut Rika, ia curiga anaknya bergabung dalam NII setelah Dino tiba-tiba berubah sikap. Dino yang dulu perhatian terhadap keluarga berubah menjadi jauh dari keluarga. Anaknya itu, kata Rika, kerap pulang malam dan sering mengurung diri di kamar.

“Jadi jarang di rumah, pulang malam, enggak pernah ngumpul sama keluarga, diajak acara keluarga yang biasanya mau, sekarang enggak. Lebih sering di kamar, mengurung diri,” paparnya. Anehnya lagi, lanjut Rika, putranya tampak sangat lengket dengan ponsel. Dino seolah enggan melepas ponsel dari genggamannya sedikitpun.

“Pas ke toilet dibawa, pas tidur, itu hp (handphone) ditaruh di perutnya. Dia enggak akan membiarkan handphone itu dilihat orang. Ternyata, kegiatannya 24 jam dipantau terus sama jaringannya. Saya kalau ingat itu, rasanya emosi,” ungkap Rika.

Bukan hanya berubah sikap, menurut Rika, putranya itu juga kerap meminta sejumlah uang kepadanya. Berbagai alas an digunakan Dino untuk mengorek kantong orangtuanya. Mulai dari untuk membayar keperluan kuliah hingga untuk menggantikan laptop temannya yang hilang.

“Katanya, ngilangin laptop temannya seharga Rp 25 juta, jadi harus ganti. Ya sudah, dikasih 25 juta untuk mengganti. Setelah itu, pokoknya urusannya duit terus. Untuk kuliah, praktik, beli buku,” ujar Rika. Selama setahun, tuturnya, keluarga sudah mengeluarkan uang lebih dari Rp 100 juta untuk memenuhi permintaan Dino. Sampai akhirnya, Rika nekat melaporkan Dino ke polisi karena sudah tidak tahan menghadapi ulah putranya itu. Dino dilaporkan karena mencuri laptop Rika.

“Karena katanya orang NII itu takut kalau sudah sampai ke polisi. Saya ingin kasih pelajaran ke anak saya. Ini tahun 2008. Saya minta polisi memeriksa sampai dia ngaku NII, beberapa hari lah dia di kantor polisi, tapi enggak di sel. Hanya di ruangan untuk diperiksa. Sampai akhirnya dia ngaku,” ungkap Rika.

Akhirnya, upaya Rika berhasil. Dino mengaku telah bergabung dengan NII kemudian berhasil dikeluarkan dari jeratan NII atas arahan NII Crisis Center.

Perubahan Sikap

Pengalaman senada dialami Yati (nama samaran). Putrinya yang bernama Ratih (nama samaran) bergabung dengan NII selama setahun. “Saat baru masuk kuliah, sekarang sudah selesai kuliah, kejadiannya pada 2007,” katanya.

Yati yang adalah anggota Kepolisian mencurigai putrinya menjadi korban NII setelah melihat perubahan sikap Ratih. Sama halnya dengan Dino, Ratih sering pulang malam dan mengunci diri di kamar. “Dia berubah, jadi enggak mau gabung dengan keluarga. Biasanya enggak pulang malem, jadi pulang malem. Entah ke mana. Sampai rumah, mengunci diri di kamar. enggak tahu ngapain,” kata Yati.

Selain itu, lanjutnya, Ratih juga sering meminta sejumlah uang kepada Yati dengan berbagai alasan, termasuk untuk mengganti laptop temannya yang hilang. “Saya bilang (ke dia), kalau hilang di kampus, lapor polisi, biar digeledah polisi. Akhirnya (dia) enggak jadi (minta),” ujarnya.

Putrinya itu, lanjut Yati, juga pernah meminta uang dengan alasan untuk membantu biaya pengobatan ibu temannya hingga untuk membantu temannya membayar rumah yang akan disita. “Tapi enggak saya kasih,” tuturnya Yati.

Sampai pada akhirnya, Yati terpaksa mengeluarkan uang Rp 2,5 juta ketika seseorang yang mengaku teman Ratih meminta pertangungjawabanya untuk mengganti laptop orang itu yang katanya telah dihilangkan Ratih.

“Saya bilang, lapor polisi, tapi enggak mau juga. Ya sudah, akhirnya janji ketemuan di sebuah mall di Jakarta Selatan. Dia minta ganti 8 juta. Minta ketemunya malam. Dan minta harus lunas, karena katanya buat pengobatan ibunya. Pas ketemu, saya kaget, kok anaknya enggak kayak anak kost yang biasanya sederhana. Rambut dicat, saya enggak nyangka anak saya punya teman kayak gitu. Akhirnya, saya kasih 2,5 juta,” papar Yati.

Selanjutnya, kata Yati, putrinya itu masih terus berupaya meminta uang dengan berbagi alasan seperti untuk biaya perkuliahan. Bahkan, katanya, Ratih tega membohongi orangtuanya. “Untuk (bayar) lab Rp 900 ribu padahal cuma Rp 90 ribu. Saya tanya ke kampusnya dan akhirnya saya tahu, anak saya bohong,” tuturnya.

Meskipun demikian, Yati merasa bersyukur bahwa sekarang putrinya lepas dari jeratan NII. Berkat upaya keluarga dan bantuan NII Crisis Center, menurut Yati, putrinya berhasil lulus kuliah dan bekerja. Ia lantas mengimbau kepada setiap orangtua agar mulai waspada terhadap bahaya NII. Menurutnya, selain merugikan secara materi, ajaran NII merusak masa depan putra-putri bangsa.

“Saya sebagai orangtua, selain materi ya, batin, karena anak saya terancam masa depannya. Kita harus waspada, biasakan tahu aktivitas anak, kenali perubahannya,” kata Yati.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: