NII, Masih “Hidup” atau Sudah “Mati”?

Penulis: Inggried Dwi W
nii

Sejumlah kasus cuci otak kembali mencuat dalam satu bulan terakhir. Jaringan Negara Islam Indonesia (NII) dituding berada di balik aksi ini. Sejumlah modus dan pola perekrutan yang dilakukan merujuk pada praktik yang lazim dilakukan gerakan NII. Setelah lama tak terdengar sepak terjangnya, masih hidup atau sudah matikah sel jaringan gerakan ideologis ini?

Konsep Negara Islam Indonesia diproklamirkan pertamakali oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949 melalui Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Malangbong, Jawa Barat. Saat itu, pengikutnya sekitar 13 ribu orang. Dalam perjalanannya, NII berkembang menjadi banyak faksi karena adanya perpecahan diantara pengikutnya.

Meski bergerak secara laten, diyakini keinginan membangun negara Islam masih bersemayam pada faksi-faksi yang masih eksis. Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Munir Mulkhan, mengatakan, menurut sebuah penelitian, gagasan negara Islam masih hidup. Ia memandang, hingga saat ini tidak ada konsep lain bagaimana membangun sebuah negara Islam kecuali seperti yang digagas Kartosuwiryo.

“Di dalam pemikiran kalangan Islam Indonesia, sepanjang pengamatan saya tidak ada konsep lain bagaimana membangun sebuah bangsa Muslim kecuali NII. Ini ijtihad orang-orang Islam di Indonesia, di masa lalu, yang hingga saat ini belum pernah dikoreksi. Sebelumnya khilafah, itu konsep klasik,” ujar Munir saat dihubungi Kompas.com dari Jakarta, Minggu (22/5/2011).

Hanya saja, menurutnya, ada yang mencoba merealisasikannya melalui jalan konstitusional dan jalan inkonstitusional, dengan berbagai bentuk yang berbeda, namun memiliki substansi yang sama. Dalam buku yang ditulis Munir bersama Bilveer Singh “Demokrasi di Bawah Bayangan Mimpi N-11” disebutkan, gagasan Negara Islam Indonesia yang disampaikan Kartosuwiryo hampir selalu muncul dalam pergulatan politik Tanah Air. Jalur politik inilah yang dinilainya digunakan sebagai jalan konstitusional merealisasikan cita-cita negara Islam.

“Kalau dicermati dengan baik, partai-partai yang menamakan diri secara terbuka sebagai partai Islam, kesadaran otentiknya masih disitu (NII). Atau partai yang menyebut berbasis massa Islam, in between itu. Bisa mengarah ke seperti partai Islam kemudian memperjuangkan substansinya, sehingga Demokrasi dipakai sebagai alat untuk merealisasikan tujuan-tujuan,” kata anggota Komnas HAM 2007-2012 ini.

Mantan anggota NII Komandemen Wilayah 9 yang juga pengamat terorisme, Al Chaidar mengungkapkan, keinginan membangun negara Islam itu masih ada di faksi-faksi yang masih eksis. Hanya saja, gerakan yang dilakukan memang tidak secara massif dan dilakukan bawah tanah.

“Tujuannya ya mendirikan negara Islam. Eh, bukan mendirikan, tetapi mempertahankan konsep Negara Islam yang pernah diproklamirkan Kartosoewirjo,” ujar Al Chaidar yang ditemui Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Faksi-faksi

Menurut skema faksi-faksi NII yang dibuat Centre for Democracy and Social Justice Studies (CEDSOS), ada banyak faksi yang terbentuk pasca diproklamirkannya NII oleh Kartosuwiryo. Ada NII struktural dan NII non struktural. Perjuangan gerakan NII pernah dipatahkan pada tahun 1962. Jika merujuk Statemen Pemerintah NII yang ditandatangani Imam Ali Mahfud, 1 Mei 2011, dipatahkannya perjuangan NII pada tahun ini disebabkan karena tidak adanya Imam pasca kepemimpinan Kartosuwiryo (1948-1962).

“Tahun 1962 – 1994 adalah masa ketidakmampuan pemerintah mengangkat Imam dikarenakan pada masa itu pejabat KUKT ((Kuasa Usaha Komandement Tertinggi), Abdul Fatah Wirananggapati, satu-satunya anggota KT (Komandemen Tertinggi) yang tidak menyerah kepada musuh, masih dalam perjalanannya menggalang kekuatan mujahid dan beberapa tahun ditawan musuh sehingga terhalang di dalam melaksanakan tugasnya,” demikian Ali Mahfud, dalam surat yang diterima Kompas.com melalui Al Chaidar.

Estafet kepemimpinan, masih menurut Ali Mahfud, dilanjutkan olah Muhammad Yusuf Thohiry (1994 – 1996), lalu Abdul Fatah Wirananggapati (1996 – 1997) dan Ali Mahfud (1997 – sekarang), yang menyatakan diri sebagai pemegang tampuk NII yang asli di tengah banyaknya faksi yang ada.

Pada tahun 1966, ada dua faksi yaitu NII non struktural dan Neo NII yang dibentuk ABRI sebagai tandingan NII non struktural (berdasar skema oleh CEDSOS). Tahun 1976, Negara Bagian Aceh, NII non struktural dan Neo NII memilih Abu Daud sebagai Imam. Kemudian, terjadi kudeta dengan mengangkat Adah Djaelani sebagai Imam atau Presiden Neo NII. Kelompok NII non struktural kemudian keluar dari koalisi setelah 20 tokohnya dibunuh oleh Neo NII. Medio 1980-1982 seluruh tokoh Neo NII diproses hukum.

Berdasarkan catatan yang terdokumentasi di Pusat Litbang Kompas, beberapa tokoh NII yang diseret ke meja hijau diantaranya, AHSK yang menjabat sebagai “Menteri Penerangan”. Ia disidang di Pengadilan Negeri Surakarta pada 19 Februari 1983 dan dituntut pidana seumur hidup oleh jaksa penuntut umum. Selain itu, 15 anggota NII juga sempat disidangkan pada tahun 1988.

Pada tahun 1984 terjadi perpecahan di Neo NII. Menurut Al Chaidar, perpecahan dan terbentuknya faksi-faksi lebih karena adanya perbedaan pandangan dan persoalan-persoalan yang sifatnya personal. “Mereka berpecah. Tadinya di NII. Sama seperti Jamaah Islamiyah, mereka tadinya di Darul Islam atau NII. Tetapi, karena ada persoalan perbedaan pandangan, keuangan, masalah personal, bisa pecah. Tetapi, embrio awalnya mereka di NII,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, total jamaah NII saat ini diperkirakan 35 ribu orang yang tersebar di 14 faksi yang ada. Ke-14 faksi ini, menurutnya, ada di 14 provinsi. Dari 14 faksi tersebut, 7 diantaranya memilih jalur radikal, serta terlibat dalam aksi kekerasan terorisme. Sementara, tujuh faksi lainnya menolak adanya tindakan radikal. Perbedaan jalan yang ditempuh ini memicu perpecahan faksi.

Mengutip CEDSOS, pada tahun 2001, tokoh NII yaitu Dodo, Tahmid dan Broto memisahkan diri dari faksi Ajengan Masduki TDK yang juga diikuti Abu Jibril. Mereka memisahkan diri dan bergabung dengan kelompok Asep Saiful. Alasan pemisahan diri karena tidak setuju dengan aksi teror.

Chaidar menyebut, beberapa dari tujuh faksi NII yang memilih cara-cara radikal adalah faksi Jama’ah Islamiah, faksi Ajengan Masduki, faksi Tahmid, faksi Kompak, serta faksi Komite Persiapan Penegakan Syari’at Islam (KPPSI).

Dimana basis faksi-faksi ini? Menurutnya, lokasinya sangat cair dan tidak ada batas wilayah tertentu. Beberapa diantaranya di Banten, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Medan, Palembang, dan Jawa Timur.

“Pemerintah sudah tahu dimana letak kelemahan dan persoalan-persoalan munculnya agenda-agenda jihad teror. Apalagi banyak yang sudah ditangkap,” kata dia mengenai eksistensi kelompok-kelompok NII beraliran radikal.

Sementara itu, peneliti Internasional Crisis Group Sidney Jones, seperti dikutip Kompas (29/4/2011), mengungkapkan, masing-masing faksi pecahan NII mempunyai pandangan berbeda, bahkan bisa saling bertentangan. Sebagian pengikut NII ada yang menyempal dan mendirikan Jamaah Islamiyah. Ada pula anggota yang membangun Angkatan Mujahidin Islam Nusantara, ada Ring Banten, atau lari ke Moro dan bergabung dengan kelompok Nurdin M Top. Ada juga NII Komandemen Wilayah 9 yang dipimpin Abu Toto alias Panji Gumilang yang ramai dibicarakan belakangan ini.

NII Asli-Palsu

NII KW 9 yang merupakan sempalan setelah terjadinya perpecahan Neo NII pada tahun 1984, menurut skema CEDSOS, didirikan oleh Abdul Karim, Nurdin Yahya dan Ra’is Achmad. Saat itu, namanya Lembaga Kerasulan-NII KW 9. Kelompok inilah yang kemudian dituding berada di balik aksi cuci otak dan dugaan penipuan yang marak diberitakan sebulan terakhir. Al Chaidar menyebut kelompok ini sebagai NII palsu. Ia mengatakan, NII KW 9 merupakan bentukan intelijen untuk mematikan penyebaran ideologi oleh NII yang asli. Lalu, kelompok mana yang menyatakan diri sebagai NII asli?

“Faksi-faksi di luar NII KW 9 menyatakan sebagai NII asli. Mereka (NII asli) tidak mau berhubungan dengan media massa, televisi, tidak mau punya KTP. Segala yang berhubungan dengan pemerintah mereka anti. Mereka juga tidak mau dengar ulama-ulama NU atau Muhammadiyah. Karena tidak diproteksi dan terus menerus diserang, maka mereka dalam posisi yang takut, tapi masih eksis. Pola manajerialnya masih tradisional,” kata Chaidar.

Ia mengungkapkan, pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun yang disebut-sebut sebagai Imam NII KW 9, Panji Gumilang, awalnya bergabung di faksi NII asli. Ia duduk sebagai pimpinan NII KW 9 pada tahun 1992. “Panji Gumilang, awalnya di NII asli, kemudian diambil (pemerintah). Dia yang dipromosikan. Tujuan pemerintah agar orang kapok, ketika diperas, ditipu oleh NII KW 9,” ujarnya

Dari sisi dakwah dan pengumpulan dana, menurut Al Chaidar, NII asli tidak agresif. Jumlah infaq yang disumbangkan juga kecil.

Ali Mahfud, yang menyatakan diri sebagai Imam Negara Islam Indonesia, dalam surat Nomor 1 tahun 1432 menyatakan, NII asli tidak mengajarkan apa yang selama ini disebut ditanamkan oleh NII KW 9. Ali menyebutkan, NII asli mengajarkan hal-hal sebagai berikut:

  1. NII tidak membenarkan dakwah dengan cara cuci otak
  2. NII tidak memaksakan orang non Muslim untuk menjadi muslim
  3. NII tidak mengkafirkan orang-orang Muslim di luar Negara islam
  4. NII sangat menekankan wajibnya menegakkan shalat
  5. NII tidak membenarkan kewajiban infaq di luar batas
  6. NII adalah perwujudan negara Madinah Rasulullah di Indonesia
  7. NII tidak membenarkan aksi teror di lingkungan masyarakat.

Ia mengatakan, NII KW 9 adalah NII binaan untuk menabalkan citra buruk pada NII asli. “Pemerintah RI melalui tangan intelijennya sengaja memelihara aksi-aksi seperti ini dengan cara memberikan dukungan peralatan dan senjata. Tujuannya sama: menghancurkan Negara Islam Indonesia dengan black-campaign menggunakan tangan orang-orang NII binaan (NII KW 9),” kata Ali Mahfud.

Seperti apa sepak terjang NII KW 9 yang disebut NII palsu? Bagaimana pola perekrutan yang dilakukannya?

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: