NII Sudah Mati

NII Sudah Mati

Panji Gumilang – Pimpinan Pondok Pesanteran Al Zaytun

JAKARTA, KOMPAS.com – Nama Panji Gumilang dan Pondok Pesantren Al-Zaytun di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang dipimpinnya, belakangan ini kerap dikaitkan dengan jaringan Negara Islam Indonesia. NII pun dikaitkan dengan gerakan radikal, terorisme, dan sejumlah kasus pidana, seperti penculikan dan penipuan di negeri ini.

Di sela-sela mengajar mengaji di Al-Zaytun, Kamis (5/5/2011), Panji Gumilang menjawab Kompas, dan memberikan klarifikasi.

Apa sebenarnya yang diajarkan di Al-Zaytun?
Sistem pendidikan kami murni mengikuti kurikulum yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama. Kurikulum itu dikombinasikan dengan muatan lokal yang kami kembangkan di sini, yakni pendidikan hak asasi manusia (HAM) dan jurnalistik. Muatan lokal mulai diberikan kepada siswa saat menginjak kelas VII (kelas I SMP). Apa yang kami didikkan di sini sesungguhnya adalah aplikasi bagaimana hidup berketuhanan, memiliki jiwa kemanusiaan yang berkeadilan dan beradab.

Kami ajarkan juga bagaimana hidup bersatu dan bermusyawarah, misalnya, dengan demokrasi riil di lingkungan sekolah. Pemilihan pimpinan pelajar, misalnya, kami ajarkan seperti pemilu. Siswa memilih sendiri pimpinannya dengan sistem pemilihan. Mereka yang berhak memilih bukan berdasarkan umur, tetapi kelas, yakni sejak kelas VII. Pemilihan diawali dengan seleksi calon menjadi 10 besar. Setelah itu dipilih siapa peringkat pertama dan kedua tertinggi yang ditetapkan sebagai pimpinan organisasi pelajar.

Santri di sini menyebut mereka presiden dan wakil presiden santri. Dari calon lain yang tak terpilih, pimpinan pesantren memilih lagi kepala departemen atau menterinya. Kabinetnya disebut Kabinet Dharmabakti dan bekerja satu tahun. Kehidupan demokrasi diajarkan sejak dini agar para santri mengerti.

Apa tanggapan Anda mengenai Al-Zaytun disebut sebagai tempat penggodokan dan perekrutan anggota NII Komandemen Wilayah (KW) IX?
Tugas saya adalah mengajar, mendidik anak-anak ini (sambil menunjuk santri) untuk menjadi generasi baru bangsa Indonesia. Generasi baru Indonesia itu mesti memiliki ciri-ciri filosofis yang jelas, yakni mengikuti konsep hablumminallah (hubungan dengan Tuhan) dan hablumminannas (hubungan dengan manusia). Yang hablumminallah itu sudah tercakup dalam Ketuhanan Yang Maha Esa. Empat sila lainnya terkait hablumminannas. Apa yang saya lakukan sekarang adalah bagaimana membuat lima sila itu diaplikasikan secara riil di lapangan.

Soal NII yang diributkan itu, sebenarnya barangnya sudah tidak ada. NII sudah mati. Dalam sejarahnya memang ada NII yang diproklamasikan tahun 1949 dan diperjuangkan sampai 1962. Setelah itu NII selesai. Bahkan, pendirinya sudah menganjurkan pengikutnya kembali ke bumi pertiwi Indonesia. Kalau NII sudah tidak ada, kenapa saya dikait-kaitkan dengan NII. Saya terkait dengan apa kalau begitu.

Tidak dulu dan tidak sekarang, NII itu sudah usai. Saya ini pendidik dan ingin mengindonesiakan anak-anak ini. Tidak ada niatan cuci otak. Kalau ada tuduhan semacam itu, saya pikir itu omong kosong dan berlebihan. Saya sehari-harinya di sini, bagaimana bisa cuci otak. Saya tidak paham.

Bagaimana pendapat Anda tentang negara Indonesia?
Sikap dan nilai-nilai dasar negara yang lima itu semua adalah ajaran ilahi. Dengan berdasarkan lima hal itu, semua pihak bisa dirangkul. Kalau ada satu agama yang dijadikan dasar, bisa menyinggung yang lain. Janganlah hal itu terjadi. (REK)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: