Setahun, 24 Jam Anak Saya Dikuasai NII

JAKARTA, KOMPAS.com – Para orangtua mulai bersuara, kala kasus cuci otak yang diduga dilakukan oleh jaringan NII kembali mencuat. Mereka meminta pemerintah bertindak tegas. Perekrutan yang dilakukan dinilai telah merugikan. Tak hanya secara materi, tetapi juga mental para generasi muda. Kepada Kompas.com (Inggried D. W.) , Rika menceritakan bagaimana anaknya, Dino, bisa terjerumus masuk ke jaringan NII medio 2007-2008, dan upayanya melepaskan sang anak dari “kuasa” jaringannya.

Bagaimana awalnya Ibu mendeteksi anak ibu bergabung di NII?
Saya sebelumnya enggak ngerti apa itu NII. Termasuk, saya enggak tahu dan enggak membayangkan anak saya bisa masuk ke sana. Yang tahu awalnya bapaknya, suami saya. Dia melihat kok si Dino (anak bungsu) berbeda ya? Kemudian diselidiki lewat supir, dia kemana saja minta diantar. Pokoknya diselidiki sendiri, sebelum akhirnya saya ke NII Crisis Centre.

Setelah ketemu dengan Mas Anto (Kepala Divisi Rehabilitasi NII Crisis Centre), saya diberitahu ciri-ciri seseorang yang sudah bergabung di NII. Pas dijelasin, saya langsung yakin, wah anak saya kena (NII) ini.

Apa ciri-cirinya, Bu?
Pertama, modusnya itu, ngaku kalau ngilangin laptop temannya. Waktu itu dia baru masuk kuliah (di sebuah universitas swasta ternama). Katanya, ngilangin laptop temannya seharga Rp 25 juta, jadi harus ganti. Ya sudah, dikasih Rp 25 juta untuk mengganti. Setelah itu, pokoknya urusannya duit terus. Untuk kuliah, praktik, beli buku. Saya percaya saja, karena memang dia baru masuk, mungkin kebutuhannya banyak

Kedua, dia jadi jarang di rumah. Pulang malam. Tapi saya enggak curiga. Belakangan, setelah tahu informasi dari NII Crisis Centre, saya baru sadar, kalau anak saya ini enggak pernah ngumpul sama keluarga. Diajak acara keluarga yang biasanya mau, sekarang enggak. Lebih sering di kamar, mengurung diri. Dan salah satu cirinya lagi, dia enggak akan melepaskan handphone dari tangannya. Ke manapun dibawa. Ke kamar mandi, kemana saja. Bahkan, pas tidur, itu hp ditaruh di perutnya. Dia enggak akan membiarkan handphone itu dilihat orang. Ternyata, kegiatannya 24 jam dipantau terus sama jaringannya. Saya kalau ingat itu, rasanya emosi.

Semakin terasa perubahan, setelah dia putus dengan pacarnya yang sudah pacaran sejak SMA. Kalau baru sebentar di rumah, nanti ada yang telepon, kemudian keluar lagi.

Setelah saya dapat info dari NII CC dan yakin anak saya masuk NII, enggak lama, laptop saya yang hilang. Saya langsung mikir, pasti anak saya yang ambil. Akhirnya, saya lapor ke polisi, saya memang sengaja. Karena katanya orang NII itu takut kalau sudah sampai ke polisi. Saya ingin kasih pelajaran ke anak saya. Ini tahun 2008. Saya minta polisi memeriksa sampai dia ngaku NII, beberapa hari lah dia di kantor polisi, tapi enggak di sel. Hanya di ruangan untuk diperiksa. Sampai akhirnya dia ngaku. Itu tahun 2008. anak saya, mulai gabung itu tahun 2007, ada setahun lah.

Siapa yang mengajaknya bergabung?
Dia direkrut kakak kelasnya di SMA. Katanya, mereka yang masuk NII ini dijanjikan akan dijadikan pejabat kalo ada negara Islam. Tapi dia enggak cerita, bagaimana dipengaruhinya. Karena anak saya ini, meski pun mengaku, enggak cerita banyak proses dia masuk. Hanya, saya ingat, suatu hari, ada 5 orang temannya yang menginap di rumah selama beberapa hari. Menurut informasi yang saya dapat, saya akhirnya mikir, mungkin itu awalnya dia gabung. Karena katanya, kalau baru mulai dipengaruhi, anak itu akan dikelilingi oleh jaringannya. Mungkin lima orang itu lagi proses cuci otak ke anak saya, pas nginep di rumah. Saya enggak kenal mereka, saya pikir kawan kuliahnya lah. Tetapi, memang mereka cuma di kamar saja. Setelah itu, kalau ngomong soal agama suka kayak nguliahin saya.

Setelah saya konsultasi ke NII CC itu, saya sempat bongkar laptopnya dan saya luar biasa kaget pas nemuin banyak data disitu.

Data apa itu, Bu?
Berapa ratus juta yang sudah mereka kumpulkan. Bayangkan, anak saya setahun saja ratusan juta. Berapa banyak korbannya dan yang mereka tipu. Di laptop anak saya itu, saya juga menemukan kegiatan-kegiatan mereka, jadwal sosialisasi. Ternyata, mereka itu sosialisasi Al Zaytun ke SD-SD. Bayangkan. Siapa yang bilang Al Zaytun enggak ada kaitan dengan NII? Anak saya, diperas untuk kepentingan mereka. Tangkap itu Panji Gumilang, dendam saya. Saya lihat, lengkap foto-fotonya. Mereka juga disuruh mendata target konsumen karena katanya Panji Gumilang (Pimpinan Ponpes Al Zaytun) mau bikin pabrik susu.

Dan pas saya tanya, anak saya ngaku kalau dia pernah ke Al Zaytun pas 1 Muharram, tahun 2007 kalau tidak salah. Waktu itu dia pamitnya ke Jogja, liburan. Ternyata ke Al Zaytun. Dari fotonya emang luar biasa itu pesantren, mewah, megah.

Lalu, setelah tahu anak ibu bergabung dengan NII, upaya menarik keluarnya bagaimana?
Dengan arahan NII CC, saya memutus semua alat komunikasinya. Ada kali tiga bulan enggak pegang handphone. Kemana-mana dianter. Kuliahnya keluar, ini juga yang bikin saya dendam, masa depan anak saya rusak. Jadi, selama tiga bulan itu, dia keluar paling kalau ngikut saya keluar. Karena belum ada kampus baru juga, ya banyak di rumah. Enggak pegang handphone. Pokoknya segala akses komunikasi saya putus. Setelah pegang hp lagi, ganti nomor.

Alhamdulillah, setelah tiga sampai enam bulan lah, sudah normal lagi. Dan dia sadar kalau salah. Tetapi, saya benar-benar dendam, selama hampir setahun anak saya selama 24 jam dikuasai NII.

Pernah lapor polisi, selain ketika kehilangan laptop itu?
Tahun 2008, bersama beberapa orang tua dan NII CC saya pernah lapor ke Bareskrim Polri. Juga tembusan ke Presiden. Tapi mana tindak lanjutnya? Enggak ada!

Harapan ibu?
Harapan saya, ditumpas itu Panji Gumilang. Kalau katanya susah, ya dimatikan akar-akarnya supaya enggak ada yang suplai uang ke dia lagi, biar bangkrut. Karena ini sama bahayanya dengan narkoba. Merusak generasi muda. Bayangkan, berapa banyak generasi muda yang mereka jerumuskan? Melukai keluarga, menghancurkan harapan orangtua. Saya bersyukur, anak saya masih bisa kembali. Ada orangtua yang anaknya bertahun-tahun hilang.

Kepada orangtua, saya berharap ya dengan bantuan media, disosialisasikan ciri-ciri anak masuk NII, kemudian apa yang bisa dilakukan kalau anak sudah terjebak. Dengan teknologi sekarang, saya bersyukur, bisa mencari informasi di internet. Kasihan mereka yang enggak ngerti sama sekali. Tahunya anak hilang, pergi. Ini masih bisa dicegah. Cukup lah, mau berapa banyak lagi generasi yang dirusak?

(ING)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: