Mereka Berjuang Menarik Anaknya Keluar dari NII (1)

Inggried Dwi Wedhaswary
nii

“NII sama bahayanya dengan narkoba. Merusak generasi muda. Berapa banyak generasi muda yang mereka jerumuskan? Melukai keluarga, menghancurkan harapan orangtua”. (Rika, nama samaran, ibu Dino, mantan anggota NII)

KOMPAS.com – Nada suara Rika (nama samaran) terdengar tinggi saat mengucapkan kata-kata itu. Angannya kembali melayang ke kebingungan yang dialaminya pada tahun 2008, saat putra bungsunya, sebut saja Dino, diketahuinya telah bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII). Rika sama sekali tak menyangka. Hal itu diketahuinya setelah sang suami menyampaikan kegusaran atas perubahan perilaku Dino, yang saat itu baru menginjak tahun pertama kuliahnya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Menurut Rika, anaknya mulai mengasingkan diri. Tak pernah berkumpul dengan keluarga dan memilih untuk mengurung diri di kamar.

“Saya sebelumnya enggak ngerti apa itu NII. Termasuk, saya enggak tahu dan enggak membayangkan anak saya bisa masuk ke sana. Yang tahu awalnya bapaknya, suami saya. Dia melihat kok si Dino (anak bungsu) berbeda ya? Kemudian diselidiki lewat supir, dia kemana saja minta diantar. Pokoknya diselidiki sendiri,” kata Rika kepada Kompas.com, Rabu (19/5/2011).

Tak hanya berubah sikap. Dino juga kerap meminta uang dengan jumlah tak sedikit dengan berbagai alasan. Awalnya, ia meminta uang sebesar Rp 25 juta untuk mengganti laptop temannya yang hilang. “Katanya, ngilangin laptop temannya seharga 25 juta, jadi harus ganti. Ya sudah, dikasih 25 juta untuk mengganti. Setelah itu, pokoknya urusannya duit terus. Untuk kuliah, praktik, beli buku. Saya percaya saja, karena memang dia baru masuk, mungkin kebutuhannya banyak,” kisah ibu tiga anak ini.

Lama kelamaan ia menaruh curiga. Hingga akhirnya suami Rika mengungkapkan kemungkinan anaknya telah bergabung dengan NII. Tanda-tanda yang ditunjukkan Dino pernah diketahuinya menjadi ciri seseorang yang masuk jaringan tersebut. Rika dan suaminya pun berinisiatif untuk mencari tahu melalui dunia maya. “Hingga akhirnya saya tahu ada NII Crisis Centre. Saya hubungi ke sana, kemudian berkonsultasi dan setelah dijelaskan modus-modusnya, saya semakin yakin anak saya masuk NII,” ujarnya.

Awalnya, ia merasa bingung dan dilanda kekhawatiran yang luar biasa. Akan tetapi, kesolidan keluarga untuk menemukan solusi bagi Dino telah menguatkannya. “Saya masih ada suami dan kakak-kakaknya (Dino). Saya enggak membayangkan, ada seorang ibu, janda, yang anak sulungnya juga terjerumus. Kasihan, bagaimana menghadapinya sendiri,” kata Rika.

Mengorek informasi

Setelah berkonsultasi dengan NII Crisis Centre, Rika dan keluarga menjalankan serangkaian upaya rehabilitasi bagi Dino. Seluruh proses dilakukan sepenuhnya oleh keluarga dengan bimbingan dan arahan yang diberikan oleh NII Crisis Centre. Langkah pertama yang dilakukan adalah menutup akses komunikasi, terutama ponsel. Dino tak diperkenankan memegang alat komunikasi tersebut dan hanya berhubungan dengan pihak keluarga. Ia pun terpaksa keluar dari kuliahnya. Beruntungnya, menurut Rika, Dino menyadari bahwa ia terjerumus di jalan yang salah. Sebab, kebanyakan korban tak menyadari dan tak mau mengakui pilihan yang telah diambilnya. Hal ini mengakibatkan proses rehabilitasi semakin sulit dilakukan. Rika juga melaporkan anaknya ke polisi ketika laptopnya raib, sebagai salah satu upaya menimbulkan efek jera.

“Laptop saya yang hilang. Saya langsung mikir, pasti anak saya yang ambil. Akhirnya, saya lapor ke polisi, saya memang sengaja. Karena katanya orang NII itu takut kalau sudah sampai ke polisi. Saya ingin kasih pelajaran ke anak saya. Saya minta polisi memeriksa sampai dia ngaku (masuk) NII, beberapa hari lah dia di kantor polisi, tapi enggak di sel. Hanya di ruangan untuk diperiksa. Sampai akhirnya dia ngaku,” paparnya.

Cara ini ternyata efektif. Dino semakin terbuka dengan apa yang telah dijalaninya. Ia juga mengaku, uang yang selama ini dimintanya untuk menyetor ke jaringan NII. Jumlah totalnya terbilang besar: lebih dari Rp 100 juta! (bersambung)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: