Mereka Berjuang Menarik Anaknya Keluar dari NII (2)

Inggried Dwi Wedhaswary
nii

 

Setahun bergabung dengan NII, lebih dari Rp 100 juta telah disetorkan Dino. Uang sebesar itu diperoleh mahasiswa tingkat awal itu dari berbohong kepada orangtuanya. Rika, ibu Dino, mengaku geram dan dendam dengan jaringan yang telah merekrut anaknya.

KOMPAS.com – Upaya “menginapkan” Dino di kantor polisi selama beberapa hari ternyata efektif. Rika mengungkapkan, setelah itu putra bungsunya terbuka menceritakan apa saja yang dilakukannya selama bergabung dengan NII. Di laptop Dino pula, ia menemukan berbagai data dan dokumen terkait NII. Data-data itu diantaranya, berapa besar yang telah disetorkan anaknya, termasuk orang-orang yang berada dalam jaringannya.

“Saya tidak ingat persis besarnya berapa. Bayangkan, anak saya setahun saja ratusan juta. Berapa banyak korbannya dan yang mereka tipu. Di laptop anak saya itu, saya juga menemukan kegiatan-kegiatan mereka,” ujar Rika.

Apa saja yang dilakukan mereka yang bergabung di NII? Menurut Rika, berdasarkan catatan yang ditemukan di laptop anaknya, mereka memiliki jadwal untuk menyosialisasikan Pondok Pesantren pimpinan Panji Gumilang, Al Zaytun. Panji selama ini disebut-sebut sebagai Pimpinan NII Komandemen Wilayah IX. “Sosialisasinya ke SD-SD, bagaimana Al Zaytun. Siapa yang bilang Al Zaytun enggak ada kaitan dengan NII? Anak saya, diperas untuk kepentingan mereka. Tangkap itu Panji Gumilang, dendam saya. Saya lihat, lengkap foto-fotonya (Al Zaytun). Mereka juga disuruh mendata target konsumen karena katanya Panji Gumilang mau bikin pabrik susu,” ujarnya.

Kepada orangtuanya, Dino juga mengaku pernah ke Al Zaytun pada tahun 2007 saat 1 Muharram. “Waktu itu, dia pamitnya liburan ke Jogja. Ternyata ke Al Zaytun. Dari foto-fotonya, luar biasa mewahnya memang pesantren itu,” kata Rika.

Upaya rehabilitasi

Setelah memutus total komunikasi Dino dengan jaringannya dan berhasil mengorek banyak informasi seputar sepak terjangnya di NII, Rika dan keluarga melakukan pendampingan penuh untuk merehabilitasi Dino. Menurut Kepala Divisi Rehabilitasi NII Crisis Centre, Soekanto, rehabilitasi memang diserahkan sepenuhnya kepada keluarga dengan arahan dan bimbingan NII Crisis Centre. Dalam proses itu, selama kurang lebih 3 bulan, Dino tak diperbolehkan memegang ponsel. Aktivitas dan kegiatannya selalu didampingi keluarga.

“Saya memutus semua alat komunikasinya. Ada kali tiga bulan enggak pegang handphone. Kemana-mana dianter. Kuliahnya keluar, ini juga yang bikin saya dendam, masa depan anak saya rusak. Jadi, selama tiga bulan itu, dia keluar paling kalau ngikut saya keluar. Karena belum ada kampus baru juga, ya banyak di rumah. Setelah pegang handphone lagi, ganti nomor,” kata Rika.

“Alhamdulillah, setelah tiga sampai enam bulan lah, sudah normal lagi. Dan dia sadar kalau salah. Tetapi, saya benar-benar dendam karena selama hampir setahun anak saya selama 24 jam dikuasai NII. Tidur juga handphone dibawa, ke kamar mandi juga. Kegiatannya selalu dipantau,” lanjutnya.

Upaya yang sama juga dilakukan oleh Yati. Putrinya, Ratih, juga bergabung dengan NII, di tahun yang sama dengan Dino, sekitar tahun 2007-2008. Yati dan Rika pun sama-sama melakukan konsultasi ke NII Crisis Centre untuk merehabilitasi putra-putri mereka. Menurut Yati, cukup banyak yang dikorbankan untuk menyadarkan anaknya. Berbeda dengan Dino yang mengaku, awalnya Ratih sangat menutup rapat untuk menceritakan segala hal yang berkaitan dengan NII. Hingga hari ini, ia pun tak pernah buka suara dengan apa yang dilakukannya selama setahun bergabung dengan NII.

“Dia tidak menyadari atau tidak mau mengakui kalau dia bergabung di NII. Kalau di TV ada berita soal NII, suka saya pancing. Dia bilang, Saya enggak tahu. Enggak pernah cerita, seolah-olah enggak mengenal apa itu NII,” ujar Yati.

Setelah mendapatkan arahan, Yati dan suaminya, seorang pensiunan PNS, menutup jalur komunikasi Ratih dengan jaringannya. Keluarga selalu mendampingi kemana pun ia pergi. “Untuk menariknya keluar banyak pengorbanan. Sampai-sampai suami saya harus antar jemput, sempat dibohongi juga. Ditungguin di kampus, ternyata sudah di Kuningan, ketemu dengan temannya. Cukup-cukuplah,” katanya.

Enam bulan proses itu berjalan. Yati pun yakin anaknya tak akan didekati kembali oleh jaringan NII karena ia sengaja menyebarkan informasi latar belakangnya sebagai polisi. “Awalnya mereka enggak tahu, kalau anak saya itu anak polisi. Kalau tahu anak polisi pasti enggak berani. Mereka kan menghindari urusan dengan polisi atau TNI,” ujar Yati.

Meski sempat menyetor jutaan rupiah, Yati bersyukur anaknya kini telah terlepas dan menjalani hidup secara normal kembali. Sebelumnya, Ratih seakan menjauh dari keluarga dan selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan yang diyakininya berkaitan dengan aktivitas di NII.

Soekanto mengatakan, rata-rata korban yang ditangani NII sudah mengalami kejatuhan mental. Golongan ini membutuhkan upaya rehabilitasi yang luar biasa. “Karena mereka ini biasanya sudah asosial, merasa di luar kelompoknya kafir, kemudian ketika dia keluar (dari NII) juga merasa kafir dan merasa tidak punya nilai. Bahkan, ada yang kami wawancara sudah tidak meyakini lembaga agama,” kata Soekanto, saat ditemui Kompas.com, secara terpisah.

Biasanya, para korban ini berasal dari kalangan buruh, mahasiswa dan pelajar. Ia menekankan, proses rehabilitasi ini harus dilakukan penuh oleh keluarga dan jangan menganggapnya aib. Upaya ini harus dilakukan agar ada sosialisasi dan upaya menarik korban lainnya untuk keluar dari NII.

Harapan

Tiga tahun berjalan, kini Rika dan Yati bisa bernapas lega. Akan tetapi, mereka juga menyimpan keprihatinan terhadap para orangtua yang anaknya masih terjerumus bersama jaringan NII. Bahkan, menurut mereka, ada yang anaknya tak lagi mengakui orangtuanya karena dianggap kafir. Pada tahun 2008, mereka pernah melaporkan ke BAreskrim Mabes Polri agar tindakan perekrutan dan penipuan bisa segera ditangani untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi.

“Juga ditembuskan ke Presiden. Tetapi sampai hari ini enggak ada tindaklanjutnya. Kami mohon kepada pemerintah untuk bertindak cepat karena mengancam generasi muda. Harapan saya, ditumpas itu Panji Gumilang. Kalau katanya susah, ya dimatikan akar-akarnya supaya enggak ada yang suplai uang ke dia lagi, biar bangkrut. Saya bersyukur, anak saya masih bisa kembali. Ada orangtua yang anaknya bertahun-tahun hilang. Ini bisa dicegah. Mau nunggu berapa banyak korban lagi?,” ujar Rika.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: