Persekongkolan Jadi Penyebab

Ketegasan Kunci Penegakan Rasa Keadilan

Jakarta, Kompas – Berbagai ketidakadilan yang menimpa rakyat jelata menunjukkan matinya hati nurani penegak hukum. Persekongkolan akibat semangat saling melindungi dan menyelamatkan muka antaraparat penegak hukum dinilai menjadi salah satu penyebab berbagai ketidakadilan tersebut.

Ketua Umum Pengurus Besar Muhammadiyah Din Syamsuddin, Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia Benny Susetyo Pr, dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Prof Azyumardi Azra mengatakan hal itu secara terpisah, Sabtu (7/1) di Jakarta.

Saat ini, kata Benny, hukum tidak lagi berfungsi melindungi rakyat. Orientasi penguasa juga menjadi tidak jelas akibat dikendalikan kapital. Otot, kuasa, dan uang menjadi lebih berkuasa ketimbang akal sehat.

Salah satu kasus yang mengundang perhatian adalah pencurian sandal oleh AAL (15). Pengadilan Negeri Palu memvonis AAL bersalah dan mengembalikan AAL kepada orangtuanya. Sementara, penganiayaan AAL oleh polisi yang mengadukannya belum diproses.

Kasus lainnya adalah penahanan Amar Abdullah yang diadukan karena menendang pagar rumah Fenly M Tumbun ketika anjing penjaga rumah itu menyalak. Amar yang dipukuli Fenly hingga mata kanannya buta didakwa melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Banyak kasus pidana ringan yang melibatkan rakyat jelata dan diproses sangat cepat. Sebaliknya, penanganan kasus besar seperti Bank Century, mafia pajak, dan mafia hukum terkesan setengah hati.

Hal ini, kata Din, menunjukkan absurditas lembaga dan aparat penegakan hukum yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Sebaliknya, penegakan hukum malah membela kepentingan kaum berada dan punya kuasa.

”Kita tidak bermaksud memengaruhi atau menolak penegakan hukum, tetapi rasa keadilan kita bertanya-tanya. Kalau tidak ada proses hukum untuk kasus besar, berarti ada kezaliman,” ujarnya.

Salah satu akar masalah dari matinya hati nurani ini, menurut Azyumardi, adalah persekongkolan antaraparat penegak hukum untuk saling melindungi. Polisi, jaksa, dan hakim saling melindungi dengan mengorbankan kepentingan keadilan.

”Esprit de corps terlalu kuat. Penegak hukum juga terlalu melihat legalitas, tidak mengutamakan substansi. Hukum diterapkan membabi buta dan merusak keadilan itu sendiri,” tutur Azyumardi.

Ketegasan pimpinan

Kemelut di tubuh penegak hukum memang kompleks. Bahkan, Azyumardi menilai ada penurunan kualitas aparat penegak hukum. Karena itu, perlu ada penyadaran kemanusiaan dan keadilan untuk mengikis arogansi kekuasaan.

Selain itu, diperlukan ketegasan pimpinan instansi. Kepala Kepolisian RI semestinya menindak tegas polisi yang melakukan penganiayaan. Agar ada efek jera, sanksi semestinya tak hanya mutasi, melainkan nonaktif.

Ketika kepala Polri berkali-kali membiarkan anak buahnya melanggar rasa keadilan, lanjut Azyumardi, semestinya presiden memberhentikannya. Tanpa tindakan tegas dan hanya ada imbauan-imbauan, persoalan tidak akan berakhir.

Achmad Basarah, anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, juga berpendapat, tindakan tegas terhadap aparat penegak hukum dan pejabat publik yang melanggar serta keteladanan pimpinan menjadi kunci untuk menegakkan rasa keadilan masyarakat. Masalahnya, tindakan tegas dan keteladanan itu menjadi hal yang sangat mahal.

”Banyak imbauan dan tindakan yang kini kehilangan makna karena lebih menjadi sarana pencitraan,” katanya, Jumat.

Idealnya, lanjut Basarah, ada tindakan tegas kepada semua orang yang melanggar. Tindakan lebih keras ditujukan kepada aparat penegak hukum dan pejabat publik karena seharusnya mereka memberi teladan. Dengan demikian, keadilan dapat ditegakkan. ”Para penegak hukum cenderung hanya menegakkan hukum secara legal formal,” ujar Basarah.

Yudi Latif dari Reform Institute menambahkan, semakin sulitnya mendapatkan keadilan merupakan dampak pemusatan kekuasaan yang kini berpihak ke kaum pemodal. ”Akibatnya, para penegak hukum menjadi hamba kekuatan modal dan kekuasaan. Ini terlihat dari sejumlah vonis ringan bagi mereka yang memiliki kekuasaan,” katanya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: