Narasi Meja dan Kursi

ADI PURNOMO

Meja dan kursi adalah narasi panjang dalam kehidupan kita. Kehadiran meja dan kursi sebagai bagian dari interior rumah, kantor, istana, hingga tempat ibadah menyimpan sejarah silang budaya. Meja dan kursi sekaligus menjadi penanda atas kuasa, kultur, religiusitas, hingga strata sosial.

Begitu pula di Jawa, keberadaan meja dan kursi merupakan hasil akulturasi yang menandakan semua itu. Arsitektur rumah adat Jawa, pendapa, dan balairung sebenarnya tidak menyediakan tempat untuk meja dan kursi. Gelaran tikar (lesehan) menjadi wadah untuk ritual menyambut tamu, berkumpul dengan keluarga, makan, agenda rapat, dan bermusyawarah. Ia menjadi media bersosialisasi dalam keluarga ataupun dengan masyarakat sekitar. Gelaran tikar memberikan gambaran pembauran masyarakat tanpa dibatasi oleh status sosial setiap anggotanya.

Meja dan kursi yang hadir dalam lanskap kebudayaan Jawa merupakan hasil adopsi budaya kolonial. Budaya kolonial mengenalkan kepada masyarakat Jawa tentang kewibawaan, posisi duduk yang disesuaikan dengan status sosial, serta prosedur komunikasi yang dibatasi oleh meja dan kursi. Meja dan kursi awalnya diadopsi oleh raja dan pejabat kerajaan untuk menjadi penanda kekuasaan yang mereka miliki dan kemudian ditiru secara masif oleh khalayak.

Penanda kelas

Meski meja dan kursi diadopsi dari laku penguasa, kemampuan meniru tetap dibatasi oleh status sosial dan ekonomi. Meja dan kursi yang dipakai oleh penguasa memiliki desain artistik dan kualitas yang berbeda dengan rakyat biasa. Seseorang yang memiliki status ekonomi mapan memiliki bentuk dan kualitas meja dan kursi yang berbeda dengan orang dengan status ekonomi menengah ke bawah.

Selain memiliki kualitas dan kenyamanan lebih, meja dan kursi milik penguasa juga dibuat berbeda agar yang menggunakannya tampak berwibawa meski dalam posisi duduk. Desain meja dan kursi milik penguasa jauh lebih rumit dan mewah. Kursi sebagai tempat duduk penguasa memiliki ukuran lebih besar dan sanggahan belakang yang tinggi. Bagian kanan dan kirinya dilengkapi tempat penyangga tangan, memberikan kenyamanan sekaligus mencegah raja meletakkan tangan dalam pangkuan. Sementara meja penguasa dibentuk dengan konstruksi yang nyaman untuk menunduk.

Begitu pula meja dan kursi kelas bangsawan atau masyarakat dalam strata sosial-ekonomi tinggi dibuat sedemikian rupa sebagai kopi dari raja atau penguasa untuk menunjukkan posisi mereka yang lebih tinggi dari tamu atau rakyat umumnya, baik dalam desain, pernik-pernik, maupun kualitas bahannya.

Berbeda dengan masyarakat menengah ke bawah, meja dan kursi diadakan hanya memenuhi hasrat kemakluman. Lebih ditekankan pada fungsinya sebagai alat dan cara untuk berkomunikasi, baik dengan keluarga maupun tetangga. Maka desain dan bentuk pun lebih sederhana.

Tubuh

Meja dan kursi hadir mengadopsi bentuk dan gairah tubuh. Tubuh yang selalu berpose vertikal saat melakukan aktivitas menginginkan sarana untuk selalu nyaman. Tubuh yang terlalu banyak terlipat dan membungkuk saat duduk dalam lesehan memberikan rasa tidak nyaman. Bentuk kursi selalu bervariasi dan beradaptasi atas keinginan tubuh. Tubuh tak hanya mengandai tempat bertumpu bagi paha sehingga kursi dilengkapi dengan sandaran untuk punggung, busa agar kursi menjadi tempat duduk yang nyaman, hingga roda agar tubuh bisa digerakkan tanpa harus beranjak dari kursi. Kursi diciptakan untuk memberikan kenyamanan dalam pelbagai aktivitas; mengetik, menulis, mencatat, makan, diskusi.

Di titik ini, meja hadir untuk memberikan keseimbangan tubuh. Kursi yang cenderung berukuran tinggi membutuhkan meja agar tubuh tetap tegak dan memberikan kenyamanan saat beraktivitas. Meja dan kursi harus dalam porsi berimbang, khususnya dalam bentuk, agar tubuh bisa berlama-lama duduk.

Kuasa

Meja dan kursi menghadirkan ruang yang lebih individualistis. Meja dan kursi memberikan jarak atas laku keintiman. Meja dan kursi menghadirkan ruang yang suci, sakral, mengkhawatirkan, mengerikan, wadah pencitraan dan kebohongan, bahkan menjadi ruang kompetisi atas kuasa.

Kuasa kerap diidentikkan dengan kursi. Panggung politik dengan serangkaian kontestasi pertarungannya selalu berujung penguasaan atas kursi kekuasaan. Sebagai penguasa yang duduk di kursi dan memerintah seluruh bawahannya. Segala keputusan dan kebijakan selalu dimulai dari kursi orang nomor satu di suatu negara. Layak, kursi menjadi perebutan dalam panggung politik negara.

Meja di pengadilan di satu sisi menjadi ruang menakutkan karena sebagai tempat eksekusi bagi terdakwa, di sisi lain menjadi tempat kebohongan di mana keadilan tak lagi bisa didapatkan. Meja menjadi penanda di mana ruang pengadilan yang seharusnya keadilan diperjuangkan ternyata penuh dengan manipulasi dan kebohongan.

ADI PURNOMO Peneliti di Paradigma Institute Kudus Meja dan kursi yang hadir dalam lanskap kebudayaan Jawa merupakan hasil adopsi budaya kolonial.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: