Ironi Teh di Negeri Rempah-rempah


KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN

Pekerja memisahkan daun teh kering dari tulangnya di pabrik pengolah skala kecil di Desa Pasirangin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (19/12). Naiknya harga pucuk daun teh dari Rp 1.200 menjadi Rp 2.200 per kilogram basah beberapa bulan terakhir memacu gairah petani dan pelaku industri teh rakyat untuk meningkatkan produksi.

Mukhamad Kurniawan dan Dedi Muhtadi

Iklan minuman sehat ”De Parakan Salak (Sukabumi) thee onderneming Preanger Regentschappen (Kewedanaan Priangan)” sudah dijajakan di Amsterdam, Belanda, tahun 1890. Inilah salah satu bukti bahwa minuman berbasis teh dari Jawa Barat telah melintasi sejarah peradaban manusia selama berabad-abad.

Begitu panjang rentang sejarah pemasaran teh sebagai minuman dunia dengan beragam rasa dan kemasan warna-warni. Di negeri ini pun, mulai dari teh botol, teh kotak, teh celup, teh poci, sampai teh aneka rasa, terpajang di sejumlah supermarket hingga warung kecil pedesaan.

Akan tetapi, nasib perkebunan teh rakyat yang merupakan hajat hidup jutaan petani dan pemetik tak seindah kemasan dan rasa teh itu. Petani pemilik perkebunan teh rakyat sama sekali tak memiliki akses pasar ke industri pengolahan teh yang umumnya dimiliki pengusaha perkebunan besar.

Masitoh (54), pemilik pabrik pengolahan teh di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengatakan, sulitnya akses pasar mengakibatkan petani tidak mendapatkan harga yang menguntungkan. Selama bertahun-tahun petani kesulitan mengelola usaha sehingga produktivitas lahan sangat rendah, rata-rata 800 kg per hektar. Padahal, produksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan perkebunan swasta di atas 2.000 kg per hektar. Beberapa pemilik pabrik pengolah di sekitar tempat tinggalnya terpaksa menjual mesin, gudang, dan lahan mereka.

Nasib yang sama dialami tetangga Masitoh, Enan Sunarya (56). Selama sepuluh tahun terakhir, Enam bahkan terpaksa menjual kebun teh sedikit demi sedikit untuk menutupi kebutuhan hidup yang mendesak. Pasalnya, kebun warisan yang sudah berpuluh-puluh tahun turun-temurun menghidupi keluarga besarnya itu tak bisa lagi diandalkan menopang kehidupan keluarga. ”Dulu saya punya 6 hektar, kini tinggal 1 hektar,” ujarnya.

Masitoh dan Enan adalah sosok umumnya petani teh di sentra perkebunan teh di republik ini. Mengacu data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dari 123.506 hektar kebun teh di Indonesia tahun 2009, sebesar 78,2 persen atau 96.652 hektar di antaranya berada di Jabar.

Produksi teh Jabar mencapai 111.721 ton atau 71,2 persen produksi teh Indonesia yang 156.901 ton. Luas kebun teh rakyat di Jabar tercatat 49.651 hektar atau 51,3 persen dari total kebun teh di Jabar, 31 persen PTPN, dan sisanya perkebunan swasta.

Tanaman teh berasal dari China. Tahun 1648, tanaman ini hanyalah tanaman hias di daerah Tijgersgracht (elite), Batavia, atau Jakarta sekarang. Tahun 1728, perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), membawa biji teh dan buruh China ke Pulau Jawa. Tahun 1824, teh ditanam di Slands Plantentium te Buitenzorg (Kebun Raya Bogor) dan tahun 1826 dikembangkan di sekitar Bogor. Tahun 1827 teh ditanam di Garut-afdeling Limbangan dan tahun 1829 dikembangkan di Cisurupan (Garut) dan Wanayasa (Purwakarta).

Menurut praktisi perkebunan yang juga penulis sejarah teh Kuswandi Md, pesatnya perkembangan teh di Jabar tak lepas dari peran thee jonkers van Preanger, yaitu para ”Pangeran Teh” Priangan atau ”Preanger Planter” sejak 1840-an. Para pengusaha teh asal Belanda itu, antara lain, Guillaume Louis Jacques (GLJ) van der Hucht di Parakan Salak, Sukabumi (1844); Karel Federik Holle di Perkebunan Waspada, Garut (1865).

Pada saat cultuur stelsel (tanam paksa) yang dijalankan pemerintah Hindia Belanda, teh ditanam di tanah yang disewa pemerintah. Sejak 1863, bisnis pemerintah dihapus dan diserahkan kepada swasta. Menurut Karel van der Hucht—generasi kelima GLJ van der Hucht— yang berkunjung ke Indonesia akhir 2011, sejak itu perkebunan teh di Jabar berkembang pesat, terlebih sejak teh dari Assam (India) diintroduksi di Bumi Parahyangan oleh ahli perkebunan Belanda.

Kondisi geografis Parahyangan yang subur dan bergunung-gunung serta dekat dengan Jakarta dinilai turut mendukung perkembangan usaha perkebunan teh. Tahun 1936 tercatat dari 293 perkebunan teh di Indonesia, 247 perkebunan di antaranya berada di Jabar.

Indahnya perkebunan teh bisa dilihat di kawasan Puncak pada jalur Bandung, Cianjur, Bogor, Jakarta, atau perkebunan teh Walini di pinggir Tol Purbaleunyi. Selain itu, juga di perkebunan Malabar, Ciwidey, Bandung selatan.

Keberhasilan para pengusaha teh Belanda mendorong masyarakat membuka kebun dan menanam teh di Purwakarta, Cianjur, Garut, Sukabumi, dan Bandung. Hasil olahan teh dari perkebunan teh di Parahyangan pun diekspor ke beberapa negara Eropa.

Sejak zaman kolonial Belanda, industri teh di negeri ini dikenal memiliki keistimewaan dan keunggulan mutu. Perkebunan dan industri teh juga memberi lapangan kerja bagi 1,5 juta orang dan menghidupi sekitar 6 juta jiwa.

Teh hitam dan teh hijau dalam bentuk curah juga dipasarkan di lebih dari 40 negara di Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan Australia. Menurut Ketua Umum Asosiasi Teh Indonesia (ATI) Endhang Rachmat, tahun 2010 devisa dari teh mencapai 178 juta dollar AS.

Namun, dalam 10 tahun terakhir, agrobisnis teh mengalami penurunan luas areal dan volume produksi. Tahun 2003, produksi teh nasional mencapai 169.000 ton dan tahun 2010 turun menjadi 129.200 ton. Penurunan produksi terjadi karena konversi lahan teh ke lahan sawit dan sayuran. Luas areal tanam juga turun dari 157.000 hektar tahun 1998 menjadi 124.400 hektar tahun 2010.

Seiring dengan era perdagangan global, terutama Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN dan Kawasan Perdagangan Bebas China ASEAN, teh impor menyerbu Indonesia. Tahun 1996, impor teh masih 50 ton senilai 50.000 dollar AS dan tahun 2009 sudah 7.200 ton senilai 12,5 juta dollar AS. Dampak dari semua ini telah menjepit kehidupan Masitoh, Enan, dan ratusan ribu petani teh lain.

Karena itu, diperlukan gerakan penyelamatan agrobisnis teh nasional agar perkebunan teh di Indonesia tidak menjadi sekadar catatan sejarah.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: