Momentum Berantas Narkoba Tiga Rekan Apriyani Tersangka

Jakarta, Kompas – Kecelakaan maut yang menewaskan sembilan orang akibat sopir Daihatsu Xenia, Apriyani Susanti (29), mengonsumsi narkoba bisa dijadikan momentum untuk memberantas narkoba. Hal itu mendesak dilakukan karena jumlah pemakai dan kasus narkoba terus naik.

Fakta meningkatnya pemakai narkoba ini terlihat dari data Badan Narkotika Nasional (BNN). Menurut Sumirat Dwiyanto dari Bagian Humas BNN, Selasa (24/1) pada 2008 jumlah pemakai narkoba di Indonesia mencapai 3,6 juta jiwa, tahun 2011 menjadi 3,8 juta jiwa.

Sementara jumlah kasus narkoba juga meningkat dari 23.531 kasus pada 2010 menjadi 26.500 kasus pada 2011. Peredaran ekstasi dan sabu juga melonjak. Peredaran ekstasi naik 110 persen dari 371.197 tablet pada 2010 menjadi 780.885 tablet pada 2011, sedangkan sabu naik dari 283 kg pada 2010 menjadi 433 kg pada 2011. Sementara setiap tahun 15.000 jiwa melayang sia-sia.

Angka penyelundupan narkoba juga meningkat. Menurut Kepala Seksi Penindakan dan Penyelidikan Kantor Bea Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta Gatot Sugeng, dalam kurun waktu dua minggu, tepatnya sampai tanggal 16 Januari 2012, sudah ada tiga kasus penangkapan dengan barang bukti sebanyak 1,3 kg sabu senilai Rp 12,6 miliar. Jumlah itu membengkak jika ditambah dengan kasus tangkapan tahun 2011.

Sementara itu, Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat, pasien ketergantungan narkoba di rumah sakit spesialis juga naik dari 2.090 jiwa pada 2009 menjadi 8.017 pada 2011.

Oleh karena itu, kata Sumirat, dari kasus kecelakaan maut itu instansi terkait secara serentak bisa mengadakan razia, sekaligus pemeriksaan kesehatan para pengendara secara acak.

Menjadi tersangka

Informasi dari Polda Metro jaya, Selasa, tiga rekan Apriyani Susanti yang berada di dalam mobil ditetapkan sebagai tersangka. Ketiganya resmi ditahan sebagai tersangka pengguna narkoba dan dikenai pasal berlapis. Polisi juga melakukan penyidikan forensik pada Daihatsu Xenia B 2479 XI.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto menjelaskan, penyidikan terhadap empat tersangka terus dikembangkan. ”Belum tuntas. Bisa masih berkembang. Kalau awal-awalnya tersangka masih berbelit-belit, sekarang sudah mulai tenang dan terlihat sehat. Pemeriksaan dan penyidikan selanjutnya diharapkan bisa menjelaskan duduk perkara kecelakaan tersebut,” kata Rikwanto.

Tim penyidik dari Direktorat Lalu Lintas, lanjutnya, menunggu hasil penyidikan forensik atas kendaraan dan lokasi kejadian, yang penyidikannya dilakukan oleh tim Puslabfor Mabes Polri.

”Sedangkan tim penyidik dari Direktorat Reserse Narkoba tengah mengembangkan penyidikannya ke arah asal ekstasi yang dibeli dan ditelan para tersangka,” kata Rikwanto.

Direktur Reserse Narkoba Komisaris Besar Nugroho Aji Wijayanto menambahkan, ketiga rekan Apriyani, yakni Adistina Putri (25), Ari Sendi (34), dan Deny Mulyana (30), resmi ditahan sebagai pemakai narkoba. Berkas tersangka diupayakan segera dilimpahkan ke kejaksaan karena hanya tersangka pengguna narkoba.

Keempatnya dijerat pasal berlapis, Pasal 112 jo Pasal 132 sub Pasal 127 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Pemberantasan Narkotika. Pelanggar pasal itu diancam hukuman penjara empat sampai 10 tahun penjara. ”Yang jelas, hasil tes urinenya terbukti mengandung methamphetamine dan mereka mengaku membeli dan memakai atau menelan ekstasi di sebuah diskotek,” kata Nugroho.

Mengenai Daihatsu Xenia B 2479 XI, Dwi Sigit Nurmantyas mengatakan, pihaknya masih menunggu pemilik asli mobil itu. ”Tersangka Apriyani sudah menunjukkan fotokopi STNK mobil itu. Pemiliknya atas nama Deden Rohendi, warga Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Kami sudah mengirim surat panggilan, mungkin ia bisa datang besok (Rabu ini),” katanya.

Minimal 20 tahun

Ahli hukum Luhut MP Pangaribuan mengatakan, ada tiga hal yang bisa memastikan pengemudi Xenia diganjar hukuman 20 tahun hingga seumur hidup. ”Dari informasi yang beredar, pertama pelanggaran UU Lalu Lintas Jalan Raya, penyalahgunaan narkoba, dan perbuatan kelalaian yang mengakibatkan kematian orang lain, tetapi memang bukan kasus pembunuhan,” kata Luhut.

Namun, masalahnya, kata Luhut, di Indonesia tidak dikenal penjatuhan sanksi secara akumulasi seperti di negara-negara lain. Yang paling mungkin hanyalah menjatuhkan hukuman berdasarkan pelanggaran terberat dan menambahkannya dengan sepertiga dari sanksi itu.

”Untuk itu, yang bisa dilakukan agar hukuman bisa lebih maksimal lagi adalah dengan memproses per kasus/pelanggaran dan dilimpahkan masing-masing ke pengadilan sehingga sanksi dijatuhkan per kasus,” tuturnya.

Ditertibkan

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta Effendi Anas menegaskan, Satpol PP DKI akan melakukan tindakan tegas terhadap tempat hiburan malam yang sering dijadikan tempat pesta narkoba. Tindakan tegas itu berupa penyegelan dan merekomendasikan pencabutan izin.

”Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Jangan sampai ada korban lain akibat keteledoran seseorang yang mencari kesenangan diri sendiri. Investigasi akan kami mulai dari diskotek dan kafe yang digunakan Apriyani berpesta narkoba bersama teman-temannya,” kata Effendi.

Apabila investigasi telah membuktikan kedua lokasi tempat hiburan malam itu menjadi tempat penggunaan narkoba dan beroperasi lebih dari waktu yang ditentukan, tidak perlu ada peringatan lagi. Pihaknya langsung mencabut izin operasionalnya dan melakukan penyegelan.

Penyelidikan khusus ini, lanjutnya, dilakukan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Sebab, pengawasan internal terkait jam operasional tempat hiburan malam merupakan kewenangan dinas tersebut.

(NEL/rts/BRO/PIN/FRO/ARN/WIN)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: