Utang dan “Dosa” Yunani

Baik kiranya apabila kita mengambil hikmah dari akibat hal yang kurang baik. Dalam soal utang, cerminan itu ada di Yunani. Negara itu menjadi contoh negara yang lupa diri karena utang.

Sifat kebablasan berutang dengan imbas krisis ekonomi akibat kebablasan berutang yang mendera Yunani bukanlah yang pertama. Seperti dikutip oleh tim ekonomi Bahana TCW Investment Management dalam catatan akhir tahun lalu, krisis ekonomi Yunani pernah terjadi pada masa Raja Dionisius the Elder yang berkuasa pada 407 SM-367 SM.

Kebangkrutan mendera Yunani karena gemar menghamburkan kekayaan kerajaan untuk membiayai misi-misi militer, ekspansi kerajaan dengan menciptakan perang, membangun aneka istana, dan mengadakan pesta-pesta kerajaan. Dionisius menginstruksikan agar tiap-tiap koin drachma (mata uang Yunani kuno) dikumpulkan.

Kemudian uang itu dicap ulang sehingga satu koin drachma dipecah menjadi dua koin. Aksi itu membuat kekayaan kerajaan Yunani Kuno naik 100 persen dalam satu hari. Dalam dunia masa kini, langkah itu sepadan dengan kebijakan quantitative easing banyak bank sentral dunia.

Kisah kegagalan Yunani dalam mengelola anggaran berlanjut hingga masa Yunani modern. Negara Yunani modern mengalami gagal bayar utang pertama kali tahun 1843. Waktu itu, Yunani berutang kepada Rusia, Perancis, dan Inggris. Gagal bayar utang Yunani terulang lagi tahun 1860, 1894, dan 1932 saat Depresi Besar terjadi di seluruh dunia.

Tahun 1999, Yunani dinyatakan tidak lulus masuk Eurozone. Namun, dengan manipulasi laporan keuangan negara, terutama utang, Yunani diterima dalam Eurozone dua tahun kemudian. Sejak itu, Yunani menikmati akses berutang dengan biaya murah kepada negara-negara maju, seperti Jerman dan Perancis.

Bila Indonesia kini mengalami kenaikan peringkat utang, tentu patut disyukuri. Proses cukup panjang melibatkan para pemangku kepentingan yang patut dihargai. Pemerintahan boleh mengklaim kenaikan peringkat dari Moody’s sepekan lalu, setelah sebelumnya kenaikan peringkat dari Fitch akhir tahun lalu, sebagai sebuah keberhasilan. Indonesia butuh waktu 14 tahun untuk ”naik kelas” lagi. Krisis ekonomi tahun 1998-1999 membuat peringkat Indonesia terpuruk.

Moody’s menilai perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik terhadap kejutan eksternal. Ketahanan perekonomian Indonesia itu mendukung tercapainya tingkat pertumbuhan yang tinggi dalam jangka menengah. Pertumbuhan tinggi juga ditopang kuatnya posisi eksternal. Tingginya arus masuk penanaman modal asing dan ekspektasi inflasi pada tingkat rendah dan stabil.

Kenaikan peringkat utang merupakan kesempatan untuk semakin banyaknya dana investor asing ke pasar modal domestik ataupun sektor riil. Namun, kesempatan itu akan lewat begitu saja apabila pekerjaan rumah Indonesia belum diselesaikan. Pekerjaan rumah itu antara lain menjaga proses pembangunan perekonomian secara keseluruhan, nilai tukar yang relatif stabil, serta memantapkan kepastian hukum.

Pemanfaatan ketersediaan dana menjadi krusial. Seperti diingatkan ekonom Mirza Adityaswara, proyeknya harus ada dan dilaksanakan tanpa hambatan birokrasi. Hindari penerbitan peraturan yang mengada-ada karena cenderung hanya mengundang korupsi. Pengadaan infrastruktur di wilayah timur, seperti Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, menjadi kewajiban sekaligus berpacu dengan waktu.

Mengutip pernyataan pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, kenaikan peringkat utang kita juga ternyata dibayangi sejumlah kekhawatiran pengusaha maupun kaum pekerja dalam perspektif masing-masing. Ini disebutnya sebagai salah satu ironi rating (peringkat utang).

”UMK (upah minimum kota/kabupaten) buruh belum berbicara upah produktivitas, baru standar minimal hidup layak. Ini menampar wajah pemerintah karena katanya ekonomi tumbuh,” ujar Yanuar.

Jadi, kenaikan peringkat utang pada dasarnya adalah perpaduan kesempatan dan mengelola risiko. Pengalaman 14 tahun terakhir harus diinternalisasi dengan cepat. Dalam bentuk dan dinamika yang lain, jangan sampai kita meniru langkah fatal Yunani yang berusaha memantas-mantaskan diri hingga memanfaatkan segala cara. (BENNY D KOESTANTO)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: