Memahami Nazaruddin dan Angelina

Sejak tahun lalu, nama Muhammad Nazaruddin ”meroket”. Ia muda, kaya, berstatus wakil rakyat, menjadi petinggi Partai Demokrat yang adalah partai pemenang pemilu, tetapi diduga keras mengotaki puluhan kasus korupsi bernilai megamiliar rupiah. Kini, ia menjalani persidangan sebagai terdakwa kasus suap wisma atlet SEA Games.

Tahun ini, orang muda dari Partai Demokrat, Angelina Sondakh, juga menyita perhatian. Cantik, kaya, mantan Puteri Indonesia, berstatus anggota DPR, pejabat teras Partai Demokrat, tetapi seperti Nazaruddin, Angelina sekarang menjadi tersangka kasus korupsi wisma atlet.

Memiliki dua pengurus seperti Angelina dan Nazaruddin, Partai Demokrat tentu saja gerah. Mereka menjadi bulan-bulanan di media. Isu bergerak liar ke sana kemari. Klaim sejumlah petinggi Partai Demokrat bahwa ada kekuatan eksternal yang memancing ikan di air keruh, rasanya, tidak berlebihan. Indikasi semacam itu ada.

Namun, inti persoalan tetaplah terletak pada Angelina dan Nazaruddin. Sudah sepantasnya jika Partai Demokrat melakukan introspeksi dan mengajukan pertanyaan mendasar, mengapa mereka sampai memiliki kader seperti Angelina dan Nazaruddin?

Pusat Kajian Politik FISIP Universitas Indonesia menulis, ada tiga persoalan pokok terkait dengan perekrutan yang dilakukan partai politik di Indonesia saat ini. Salah satunya adalah partai belum memiliki prosedur perekrutan yang mapan, entah itu pada tingkat konsep ataupun pada tingkat implementasi.

Akibatnya, partai melakukan perekrutan politik yang bersifat instan: merekrut figur publik, pejabat atau mantan pejabat, dan orang dari kalangan pengusaha sebagai pengurus partai. Lebih parah lagi, partai juga merekrut orang untuk didudukkan di lembaga legislatif serta eksekutif tanpa kriteria dan prosedur yang jelas (Kerangka Penguatan Partai Politik di Indonesia, 2008).

Perekrutan politik merupa- kan hal sangat penting, bukan hanya bagi partai yang bersangkutan, melainkan juga bagi negara dan rakyat. Lewat perekrutan politik, selain mendapatkan anggota dan pengurus, partai juga mendapatkan kandidat yang akan dicalonkan dalam pemilihan jabatan publik.

Bisa dibayangkan, apa jadinya jika perekrutan dilakukan partai secara asal-asalan. Partai pun sekadar memburu orang yang populer karena cantik dan terkenal di acara infotainment, atau memburu orang yang berkantong tebal dan piawai menjadi makelar karena diharapkan bisa menjadi donatur utama.

Hal semacam itu sedang terjadi di Indonesia. Lihat saja, ada berapa banyak artis menjadi anggota DPR atau pejabat yang akhirnya komentarnya kurang bermutu. Padahal, kehadirannya dibutuhkan untuk menyumbangkan gagasan-gagasan brilian bagi kesejahteraan rakyat.

Ada berapa banyak pengusaha yang tiba-tiba menjadi anggota DPR. Akibatnya, pembahasan di ruang-ruang rapat di parlemen atau kantor pusat partai sering kali sangat pragmatis. Upaya mengelaborasi substansi persoalan ke dimensi yang lebih luas tidak mendapat tempat.

Dunia politik di Indonesia akhirnya berisikan orang-orang yang tidak kompeten. Mereka pun tidak pantas disebut sebagai politikus. Idealisme, gagasan politik, dan pengetahuan akan pemikiran-pemikiran besar politik seharusnya terdapat di dalam kepala mereka.

Nazaruddin dan Angelina hanyalah puncak dari gunung es realitas politik di Tanah Air. Banyak Angelina dan Nazaruddin lain di partai-partai yang berbeda. Kalau partai tidak mau segera berbenah, demokrasi di Indonesia akan terus menjadi demokrasi dagelan.(A Tomy Trinugroho)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: