“Mottainai” dan Pemborosan

Richard Susilo

Di sebuah supermarket di Bali, seorang ibu meminta beberapa kantong plastik kosong di kasir. Entah buat apa, kantong plastik kosong itu dia masukkan ke dalam kantong plastik yang berisi belanjaan.

Di luar supermarket, ibu itu memasukkan sampah di mobilnya ke dalam kantong plastik, lalu membuangnya asal saja di pinggir jalan. Ironis sekali, padahal ia mengendarai mobil mewah seri terbaru.

Kelakuan ibu itu adalah suatu hal yang masih sering terlihat di Indonesia, tetapi sangat tak biasa di Jepang. Pertama, soal permintaan kantong plastik berlebih. Kedua, pembuangan sampah sembarangan. Supermarket-supermarket di Tokyo mencoba ikut mengatasi.

Diskon khusus

Selesai proses penghitungan, biasanya kasir akan bertanya, pakai tas sendiri atau tidak? Kalau membawa tas sendiri, kita akan mendapat potongan 2 yen. Kalau dalam sebulan belanja 10 kali, menghemat 20 yen atau sekitar Rp 2.400.

Konsumen pun punya kesadaran yang sama. Ketika penulis berbelanja ke satu supermarket di Tokyo, orang di depan penulis yang membeli satu USB kecil menolak kantong plastik. ”Tidak usah, mottainai,” katanya sambil memasukkan belanjaan ke saku bajunya.

Itulah orang Jepang. Pemikiran mereka umumnya sama: mottainai yang artinya ”mubazir”, ”sayang ah!” Kalau bisa irit mengapa tak irit walaupun toko memberikan kepada kita.

Kantong plastik hanya menambah timbunan sampah. Kantong plastik juga merusak lingkungan karena sulit hancur.

Satu supermarket di Tokyo didatangi sekitar 500 pelanggan setiap hari. Menurut manajernya, 60 persen menggunakan kantong sendiri. Berarti menghemat 600 yen (300 orang x 2 yen) per hari. Itulah yang kita sebut biaya lingkungan hidup (eco-friendly fee).

Maka, dalam sebulan satu supermarket saja bisa menghemat 18.000 yen. Kalau 10.000 supermarket melakukan hal yang sama, masyarakat Jepang menghemat biaya 180 juta yen per bulan atau Rp 21,6 miliar, hanya dengan cara menggunakan kantong belanja sendiri. Belum lagi pengurangan sampah plastik yang sangat signifikan.

Cara sederhana untuk ikut menjaga lingkungan ini sebenarnya sudah biasa di Jepang. Pemerintah Jepang, misalnya, memberikan subsidi berupa pengurangan pajak bagi perusahaan mobil yang memproduksi mobil akrab lingkungan, seperti Toyota dengan mesin hibrida yang sangat bersih lingkungan, tidak berisik, tidak mencemari, dan mudah pemeliharaannya. Walaupun ke depan perlu dipertanyakan dampak pembuangan bakteri hibrida yang tidak mudah dan belum ada solusi, paling tidak saat ini mesin hibrida berdampak minimal ke lingkungan.

Subsidi antikarbon

Pemerintah Jepang juga menyubsidi perusahaan dalam perdagangan karbon dioksida (CO2) ke luar Jepang, misalnya ke Indonesia. Perusahaan akan mendapat subsidi dari pemerintah karena dianggap membantu program Pemerintah Jepang mengurangi emisi CO2. Pemerintah Jepang menjanjikan 20 persen atau lebih pengurangan CO2 tahun 2020.

Semua aksi pasti ada reaksi. Itu hal biasa dalam kehidupan ini. Namun, dengan pola pikir menjaga lingkungan, hal yang kecil sekali pun bisa kita terapkan di Indonesia. Tidak seperti saat ini di Indonesia justru terjadi banyak pemborosan, termasuk kantong plastik belanjaan di atas.

Pola lain yang bisa dilakukan adalah menempatkan kotak/alat otomatis untuk daur ulang botol plastik. Botol atau gelas plastik bekas harus dipisahkan dari sampah dapur. Botol itu dibawa ke supermarket, lalu dimasukkan ke kotak/alat yang tersedia dan untuk itu kita dapat poin tertentu. Jika jumlah poin sudah mencapai 100, kita dapat menghemat uang belanja dengan belanja menggunakan poin.

Botol plastik yang terkumpul dengan baik dapat didaur ulang menjadi plastik baru. Kita pun tidak menyampah dan bahkan dapat uang karena telah berpartisipasi dalam proses daur ulang walaupun jumlahnya kecil.

Tidak ada yang terbuang percuma, tidak ada yang mottainai karena semua win-win solution, sehingga kehidupan berkesinambungan dengan baik dan mewariskan lingkungan yang baik pula untuk generasi berikutnya.

Hal-hal sangat sederhana ini meskipun masih banyak lagi contoh yang bisa ditulis dari Jepang bisa mendidik kita semua. Pendidikan ini sangat mendasari kehidupan. Masyarakat Jepang memiliki tingkat pendidikan 99 persen dengan level sama. Dengan demikian, pola pikir menjadi serupa dan datangnya motivasi dari mana pun—apalagi dari Pemerintah Jepang—akan diikuti dan dipatuhi dengan mudah oleh rakyat secara serentak, seragam, dan hasilnya pun cepat terlihat.

Hal serupa tentu saja bisa dipraktikkan di Indonesia. Bukankah dengan demikian tidak perlu lagi ada pemborosan di Indonesia tercinta?

Richard Susilo Koordinator Forum Ekonomi Jepang-Indonesia; 20 Tahun Tinggal di Tokyo, Jepang

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: