Pukulan Datang Bertubi-tubi bagi AS

KABUL, JUMAT – Operasi militer Amerika Serikat di Afganistan mendapat pukulan bertubi-tubi dalam beberapa hari terakhir. Insiden pembantaian 16 warga sipil oleh seorang prajurit AS tak hanya memicu kemarahan rakyat Afganistan, tetapi juga Pemerintah Afganistan dan gerilyawan Taliban.

Dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta, di Kabul, Kamis (15/3), Presiden Afganistan Hamid Karzai terang-terangan meminta pasukan NATO pimpinan AS ditarik dari kawasan pedesaan di Afganistan dan tinggal di pangkalan mereka saja.

Berbeda dengan Perang Irak, yang hampir semua pertempuran terjadi di wilayah perkotaan, Perang Afganistan lebih banyak terjadi di kawasan pedesaan dan pegunungan. Daerah pedesaan adalah tempat persembunyian milisi Taliban dan Al Qaeda.

Tentara koalisi NATO yang tergabung dalam Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) sengaja ditempatkan hingga desa-desa terpencil sebagai bagian dari strategi memenangkan ”hati dan pikiran” rakyat Afganistan.

Mereka berusaha merangkul rakyat setempat, melindungi mereka, dan membangun kerja sama untuk memperkuat pemerintahan dan keamanan lokal.

Namun, menurut juru bicara Presiden Afganistan, Janan Mosazai, Karzai sudah lama meminta operasi militer di kawasan pedesaan itu diakhiri. Karzai berpendapat, akar terorisme tidak berada di desa-desa itu.

Peristiwa pembantaian di Kandahar—kampung halaman Karzai—memperkuat argumen bahwa pasukan Afganistanlah yang seharusnya memimpin saat berurusan dengan rakyat di pedesaan.

”Pasukan Afganistan tahu seribu kali lebih baik tentang berbagai cara kultural yang sensitif untuk berurusan dengan rakyat Afganistan daripada tentara asing mana pun,” ujar Mosazai.

Karzai juga meminta kepada Panetta agar proses penyerahan tanggung jawab dari pasukan NATO ke pasukan Afganistan dipercepat. Ia ingin pasukan Afganistan sudah menjalankan peran utama dalam urusan keamanan pada 2013.

Menunda perundingan

Pada hari yang sama, pukulan kedua datang bagi AS. Pihak Taliban secara resmi menghentikan proses perundingan damai yang digagas AS.

Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid, mengatakan, sebelumnya pihak Taliban telah sepakat untuk membicarakan dua isu utama dengan AS. Dua hal itu adalah pembuatan kantor perwakilan politik Taliban di Qatar dan pertukaran tawanan.

Taliban menuntut pembebasan lima pemimpin Taliban yang saat ini masih ditahan di penjara militer AS di Guantanamo.

Namun, kata Mujahid, AS berulang kali mengingkari janjinya, membuat tuntutan-tuntutan baru, dan menyebarkan kabar palsu bahwa pihak Taliban sudah memasuki tahap perundingan multilateral.

”Jadi, pihak Emirat Islam telah memutuskan untuk menangguhkan semua perundingan dengan AS di Qatar mulai hari ini sampai pihak Amerika menjelaskan posisi mereka sebenarnya dalam berbagai masalah tersebut dan sampai mereka menunjukkan kemauan untuk menepati janji-janji,” kata Mujahid.

Pihak Taliban menyebut kelompok mereka sebagai Emirat Islam Afganistan.(AP/Reuters/DHF)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: