CALON PEMIMPIN Muda, Peduli, dan Bernyali


KOMPAS/ARYO WISANGGENI GENTHONG

Para siswa SMAN Driyorejo 1, Gresik, Jawa Timur, memainkan permainan sanotop ular tangga monopoli (saulmon) di halaman sekolah mereka, Selasa (20/3). Sanotop merupakan komunitas siswa yang mengampanyekan anti-pergaulan bebas, termasuk kampanye lewat permainan saulmon yang menyisipkan banyak pesan tentang dampak pergaulan bebas dan kehamilan dini.

Yulia sapthiani & Aryo Wisanggeni

”Pilih putus atau ’free sex’?” Hah? Itu adalah permainan semacam ular tangga karya remaja di Gresik, Jawa Timur. Permainan itu merupakan bagian dari kampanye pergaulan sehat dengan tema ”Say No to Pregnancy on Teens!”

Permainan itu disebut saulmon, akronim dari sanotop ular tangga monopoli. Apa pula sanotop? Itu adalah singkatan dari say no to pregnancy—katakan tidak pada kehamilan. Maksudnya tentu hamil di luar nikah. Permainan itu dirancang oleh Ima Rochmatul Aiima (17), siswa kelas XI SMAN Driyorejo 1, Gresik, Jawa Timur.

Ima adalah bagian dari remaja yang melakukan inovasi kreatif yang bisa menjadi sumbangan untuk kehidupan yang lebih tertata bagi remaja dan lingkungan sekitarnya. Selain Ima, tersebutlah Dimas Prasetyo Muharam (23) di Jakarta yang membuat situs kartunet.com pada usia 17. Juga Imam Makhfud (16) dari Jombang, Jawa Timur, si ”detektif hutan”, penjaga mata air bagi lingkungan sekitarnya.

Para remaja itu adalah bagian dari 22 Young Changemakers pilihan asosiasi wirausaha sosial global Ashoka Indonesia. Mereka adalah pemuda berusia 15-25 tahun yang memiliki gagasan sosial untuk memberdayakan masyarakat. ”Mereka harus memiliki empati dan motivasi riil untuk membantu orang lain,” kata Direktur Program Ashoka Agni Yoga Airlangga.

Hindari seks bebas

Mari kita ikuti dulu permainan ular tangga plus monopoli karya Ima yang disebut saulmon tadi. Di lembaran terpal cetak digital permainan ular tangga berukuran 3 meter x 3 meter itu, para siswa SMAN Driyorejo 1, Gresik, berjejalan. Ines Widiyanti, siswa kelas XI, melempar dadu, lalu meloncat menuju kotak tujuan yang membuatnya harus menjawab pertanyaan.

”Pilih putus atau free sex?” Sang wasit, Elyonai Chindy, membacakan pertanyaan dalam permainan saulmon. Ines sempat tercekat, berkerut dahi sesaat, sebelum akhirnya menukas mantap untuk memilih, ”Putus!”

Gagasan Ima mengampanyekan ”Say No to Pregnancy on Teens” menjadikan pendidikan seks mengena di kalangan remaja. Driyorejo, tempat tinggalnya, adalah kawasan industri padat penduduk. Anak-anak yang ditinggalkan orangtua mereka bekerja tumbuh dalam komunitas cair kaum pendatang. Anak muda yang sepulang dari sekolah tanpa aktivitas jamak terlihat. Mereka berpacaran pada usia dini tanpa terkawal bimbingan orangtua.

”Taman di kompleks rumah saya, misalnya, tempat mangkal remaja berpacaran hingga malam. Seorang bidan di salah satu desa di Driyorejo dalam setahun bisa menangani 10 kasus kehamilan pada usia remaja. Itu mengapa kami memikirkan cara mengampanyekan pacaran yang sehat, menghindari seks bebas,” kata Ima.

Awal kampanye tidaklah sesegar suasana ketika siswa memainkan saulmon. Para bidan curiga karena Ima mencari data anak remaja yang hamil. Saat mencari model kampanye, Ima merasakan cemooh dan resistensi dari target kampanyenya.

Namun, setahun kemudian, Ima telah menyebarkan kampanye ke sekolah lain, di antaranya ke SMPN 1 Driyorejo. Ia dan teman-temannya kini tengah merancang kunjungan ke pusat perawatan remaja yang hamil pada usia dini.

Menjaga warisan alam

Lain lagi yang dilakukan Imam Makhfud (16) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dan Mustari Hamdi (15) di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kedua remaja itu sama-sama memberi perhatian terhadap kebutuhan dasar, yaitu sumber air. Kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal juga menjadi perhatian mereka di tengah kesibukan bersekolah.

Imam menyisihkan waktu 1-2 kali per minggu untuk mengontrol sumber air bersih bagi warga di sekitar Kecamatan Wonosalam. Rabu (21/3) sore, misalnya, bersama dua temannya, Ema Agustina dan Novel Ari Yedi, Imam menapaki bukit kecil menuju salah satu mata air terbesar di Hutan Mbeji untuk meneliti indikator kualitas air.

Ketertarikan Imam memantau kondisi sungai bermula dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terpadu dan Lingkungan Hidup yang diasuh Mukhlas Basah, guru Madrasah Aliyah (MA) Faser, Wonosalam. Ketiadaan jurusan IPA dan guru khusus IPA membuat Mukhlas lebih sering mengajak muridnya turun ke lapangan untuk mempelajari ekosistem lokal Hutan Mbeji.

”Kami mencatat hasil pemantauan mata air dan membuat dokumentasi foto, lalu kami olah jadi laporan. Juga identifikasi 36 spesies pohon di Hutan Mbeji. Kami akhirnya berhasil menegosiasi agar Hutan Mbeji menjadi laboratorium hidup MA Faser,” tutur Imam.

Hal serupa terjadi di Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Bekasi Utara. Kesadaran Mustari, siswa kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) At Taqwa 3, akan ketiadaan sumber air bersih bagi warga sekitar berawal dari pelajaran di sekolah. Ia melihat bahwa air yang digunakan warga selama ini berwarna kekuningan, berbau amis, dan kadang terasa asin.

Bersama rekannya, yaitu Putri Rizqia (14) dan Mia Alvianita (14), mereka mencari informasi untuk membuat alat penjernih air melalui internet. Cerita seorang ibu di Yogyakarta yang berhasil membuat alat tersebut menjadi inspirasi.

Mustari pun membuat alat yang sama bermodalkan Rp 125.000 dari sumbangan siswa di lima kelas. Uang ini digunakan untuk membeli dakron, batu zeolit, dan arang batok kelapa sebagai penyaring warna kuning dan bau. Perlengkapan lain, yaitu kaleng-kaleng cat bekas berukuran 5 kilogram untuk menempatkan setiap bahan penyaring, didapat dengan cara mengumpulkan dari adik kelas.

Janji-janji

Meski sudah terbukti air kuning dan berbau amis berubah menjadi jernih dan tanpa bau, kelayakan minumnya belum diuji di laboratorium. Namun, dalam presentasi di depan anggota DPRD Bekasi, Februari lalu, mereka dijanjikan bantuan uji higienitas air. Janji itu dibumbui janji lain berupa pengucuran dana untuk pengembangan alat.

Setelah disosialisasikan ke sejumlah daerah, Mustari bercita-cita memperluas sosialisasi. ”Kalau saya bisa mengembangkan alat dan airnya terbukti layak minum, warga bisa membuat air minum sendiri. Apalagi, alat seperti ini sebenarnya mudah dibuat,” kata Mustari.

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Ari Sudjito, meyakini, inovasi perubahan di dunia memang digerakkan daya kreasi remaja. ”Masa keemasan yang menentukan seseorang menjadi agen perubahan dalam bidang politik, teknologi, atau sosial itu ada pada remaja. Dunia bisa berubah apabila kreativitas ini terdeteksi dan terus dipupuk sejak remaja,” ujar Ari.

Keteladanan para remaja itu bisa menjadi cermin bagi para politisi bangsa ini. ”Mereka (remaja) memberi keteladanan bagaimana berkarya dengan tidak terkontaminasi kepentingan jangka pendek,” kata Ari. (BSW/DAY/WKM)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: