Partai Islam Di Simpang Jalan

 

Muhamad Mustaqim

Beberapa lembaga survei merilis hasil survei tentang merosotnya elektabilitas partai Islam. Beberapa partai Islam yang ada di parlemen, seperti PKS, PPP, PAN, dan PKB diprediksi akan mengalami penurunan elektabilitas. Salah satu faktor penyebab anjloknya suara partai Islam, adalah karena tidak adanya figur kharismatik yang dimiliki oleh parpol berbasis Islam tersebut. Tidak heran kalau kemudian PKB membuat manuver politik dengan melamar beberapa tokoh yang dianggap memiliki charisma dan popularitas yang tinggi seperti Rhoma Irama dan Mahfudh MD.

Munculnya partai-partai Islam pasca reformasi, didukung oleh sistem patronase figur yang dianggap memiliki kharisma oleh konstituennya. Budaya patron memang masih mendominasi dalam sistem sosial-politik bangsa ini. Sebut saja Gus Dur merupakan patron untuk konstituen PKB, Amien Rais untuk PAN, PBB punya Yusril dan lainnya.

Untuk PPP, bisa kuat karena partai ini merupakan partai lama yang memiliki sistem kelembagaan dan akar rumput yang cukup mumpuni. Mengingat PPP merupakan “rumah” untuk partai-partai Islam pada era fusi partai pada tahun 70an. Sedangkan PKS, memang tidak begitu kental budaya patronnya, karena partai ini berkembang dari sistem kaderisasi yang cukup solid dan sistematis. Namun kenyataan ini tampaknya juga tidak bertahan lama bagi PKS. Akhir-akhir ini PKS juga mengalami persoalan yang relatif sama dengan partai Islam lainnya.

Menguatnya Rasionalitas Pemilih
Adalah Nurcholis Madjid, atau yang akrab disapa Cak Nur pernah melontarkan slogan “Islam Yess, Partai Islam No!”. Gagasan Cak Nur ini mencoba menegaskan bahwa Islam bukanlah partai politik, atau partai politik Islam bukan satu-satunya jalan “berpolitik” bagi umat Islam. Depolitisasi Islam, barang kali istilah ini cocok untuk mengkristalkan ide Cak Nur ini.

Anjloknya elektabilitas partai Islam, boleh jadi merupakan gejala dari apa yang disebut depolitisasi Islam tersebut. Perjalanan demokrasi pasca reformasi, telah melahirkan formulasi sistem politik tersendiri yang berpengaruh terhadap rasionalitas pemilih.

Konstituen mulai sadar bahwa partai politik merupakan domain yang berbeda dengan agama atau aliran agama. Hal ini berbeda dengan masa awal reformasi, di mana terjadi massifikasi agama ke ranah politik. Orang menganggap berpolitik sebagai bagian penting dari beragama, sehingga perbedaan partai bisa dianggap sebagai berbeda agama. Selain itu, patronasi tokoh pada era ini sangat kuat sekali. Dua hal ini mengalami reduksi yang signifikan pada saat ini. Konstituen cenderung rasional dalam pertimbangan pilihan dan orientasi politiknya. Termasuk rasional dalam hal ini, ketika pemilih diberi money politic, namun tidak terikat dan masih bebas dalam menentukan pilihan politiknya.

Rasionalitas pemilih dalam konteks ini menunjukkan kedewasaan politik warga. Pada tataran yang lebih modern, pemilih hanya akan memilih pilihan politiknya jika mengetahui dan cocok dengan orientasi politik yang dimilikinya. Pemilih sudah mampu menilai secara rasional tentang platform partai beserta tujuan dan programnya.

Membangun Basis Gerakan
Belajar dari sini, partai Islam harus belajar untuk menggunakan metode politik yang cerdas. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan partai Islam, kaitannya dengan pembangunan kepercayaan pemilih. Pertama, optimalisasi pendidikan politik bagi konstituen. Partai Islam tidak bisa lagi mengandalkan sosok figur yang dimiliki partai, karena hal itu tidak cukup efektif.

Pembangunan pendidikan politik dalam hal ini menjadi salah satu cara untuk memabangun loyalitas pemilih. Pendidikan politik tidak cukup dilakukan pada saat menjelang pemilihan, namun harus dilaksanakan secara kontinyu dan terprogram. Target dari pendidikan politik dalam hal ini adalah untuk memperkenalkan platform dan program partai. Pada tataran jangka panjang, adalah mampu membangun loyalitas pemilih.

Kedua, memberikan kinerja terbaik. Rasionalitas pemilih harus disuguhi dengan kinerja partai yang memuaskan. Kinerja partai dalam hal ini direpresentaikan oleh dua hal. Pertama partai itu sendiri dan yang kedua adalah kader partai. Jika yang pertama merupakan kinerja organisasional, di mana entitas partai dituntut untuk melakukan kierja-kinerja organisasi secara maksimal, maka yang kedua ini lebih bersifat individual.

Para politisi dalam partai Islam harus mampu memberikan kinerja yang tinggi. Bagaimanapun politisi partai tersebar di berbagai jabatan birokrasi, baik eksekutif maupun lebislatif. Nah, jika para kader partai tersebut mampu memberikan kinerja terbaik dibidangnya, maka akan berpengaruh pada simpati konstituen. Secara pasif, kenerja terbaik setidaknya dicerminkan melalui kader partai yang tidak terlibat pada kasus-kasus korupsi, maupun kejahatan lainnya.

Ketiga, partai Islam harus fokus pada basis konstituen yang dimiliki. Kenyataan bahwa mayoritas warga Indonesia beragama Islam adalah sebuah modal politik besar yang harus diperhatikan. Jika partai Islam mampu memanage ini dengan baik, maka elektabilitas dari pemilih muslim pasti akan meningkat. Selama ini, banyak partai Islam yang mengalami inklusivikasi kepada pemilih di luar basis konstituennya.

Yang terjadi, basis kemudian merasa di”dua”kan dan mengalami perhatian yang kurang. Sebagai contoh, jika PKB misalnya, mau konsen dan fokus untuk ngrumat basis pemilih dari warga NU, sudah barang pasti akan menuai suara yang luar biasa banyak, mengingat NU merupakan organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia. Realitas sejarah tahun 1999 setidaknya telah membuktikan tesis ini. Pada pemilu pertama di era reformasi ini, PKB mampu melesat ke posisi 3 besar, sebuah hal yang luar biasa bagi sebuah partai baru.

Pada dasarnya partai dibentuk sebagai wadah keterwakilan dan aspirasi rakyat. Partai Islam dalam hal ini sangat urgen dalam rangka menyalurkan aspirasi masyarakat Islam yang merupakan komunitas terbesar di Indonesia. Kita berharap, partai Islam mampu menjadi partai aspiratif, yang mampu mendominasi perpolitikan di tanah air.

Selain itu, label Islam dalam konteks ini akan mampu memberikan pelajaran dan teladan, bagaimana cara dan sikap berpolitik yang etis dan Islami. Hingga akhirnya, nilai Islam akan mampu menjadi spirit politik, dalam mewujudkan tujuan negara yang optimal.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: