Peran Jokowi dan Nasdem dalam Pesta Demokrasi 2014

 

Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo  saat memberikan keterangan kapada wartawan dan menemui pendukungnya di posko tim sukses pasangan Jokowi-Ahoki Jl. Borobudur No.22, Menteng, Jakarta. FOTO: AFP PHOTO / ADEK BERRY
Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat memberikan keterangan kapada wartawan dan menemui pendukungnya di posko tim sukses pasangan Jokowi-Ahoki Jl. Borobudur No.22, Menteng, Jakarta. FOTO: AFP PHOTO / ADEK BERRY

‘Matahari kembar’ di tubuh Nasdem berpeluang menimbulkan perpecahan.

Apa yang bisa menjadi pembeda di kancah politik nasional pada 2013 dan selanjutnya? Beberapa pihak mungkin sepakat; Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).
 
Siapa yang tak tahu Jokowi. Figurnya yang dianggap sebagai pembaharu, bersama dengan Basuki Tjahaya Purnama, mampu ‘memerahkan telinga’ para elite lembaga survei nasional yang memprediksi pasangan itu akan kalah dalam Pemilukada DKI Jakarta lalu.
 
Rakyat butuh harapan, dan ternyata keduanya dianggap bisa memenuhinya. Fenomena Jokowi tak berhenti sampai di situ saja, karena suara sudah muncul di kalangan aktivis politik bahwa Jokowi sebaiknya maju di Pilpres 2014.
 
Untuk yang satu ini, seorang politisi di DPR yang menolak dibuka identitasnya mengaku hal itu masih sulit diwujudkan. “Saya prediksi sulit Jokowi di 2014. Karena dia sudah kadung janji akan selesaikan tugasnya lima tahun, dan takkan mikir soal capres 2014,” kata sumber itu.
 
Terlepas dari itu, keberadaan Jokowi memberi warna baru atas pemahaman masyarakat atas partainya, PDIP. Seperti diakui Peneliti Charta Politika Arya Fernandez, keberadaan Jokowi jelas menguntungkan PDIP, yang belakangan memang gemar mendorong majunya calon pemimpin muda.

Bukan hanya Jokowi, masih ada Rieke Diah Pitaloka yang sedang diusung di Pemilukada Jawa Barat. Lalu Ganjar Pranowo yang digadang maju di Pilkada Jawa Tengah. “Ini sangat strategis bagi PDIP,” kata Arya.

Masalahnya, satu kelemahan PDIP adalah kurang paripurna memposisikan Jokowi  sebagai kader. Sebab hingga saat ini partai masih belum memberikan posisi strategis kepada Jokowi. “Untuk mendapatkan keuntungan PDIP harus memberikan posisi strategis ke Jokowi,” kata Arya.

Pendapat senada soal kader muda disampaikan pula pengamat politik UI Ari Junaedi juga mengakui Jokowi, Rieke Diah Pitaloka, serta  Ganjar Pranowo adalah bukti berlimpahnya stok pemimpin muda yang berkualitas di tubuh PDIP.
 
Berdasarkan pengamatan Ari, hal itu adalah buah dari peran Taufik Kiemas dan Megawati Soekarnoputri yang sangat besar dalam memberi ruang politik bagi anak muda.

“Saya melihat dalam sepuluh tahun terakhir ini, PDIP sangat akomodatif terhadap kiprah politisi muda. Tidak hanya Jokowi saja yang menjadi fenomenal, keberhasilan Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang nota bene kader PDIP juga cukup menjulang,” kata dia.
 
Dalam jangka panjang, menurut pengajar pascasarjana di Universitas  Diponegoro, Semarang, dan Universitas Dokter Soetomo, Surabaya itu, PDIP  akan bisa diandalkan dan diharapkan menjadi partai masa depan.

“Kesan yang muncul selama ini, PDIP tidak bisa dilepaskan dengan Soekarno’s  family. Siapa saja yang bernama belakang Soekarno sepertinya ditasbihkan  sebagai leader di PDIP. Ke depannya, sebaiknya siapapun yang berjiwa  kerakyatan, dan berideologikan Pancasila serta terbukti memiliki  kepemimpinan yang mumpuni, harus diberi ruang dan diberi kesempatan di  PDIP,” tandasnya.
 
Nasdem jaga soliditas elite

Lalu bagaimana dengan Nasdem? Partai yang dibesut pentolan Golkar Surya Paloh, lalu kini bersama duonya Hary Tanoesoedibyo, kini semakin dikenal akibat iklannya yang muncul hampir setiap hari di jaringan televisi MNC Grup, jaringan televisi yang dimiliki Hary Tanoe.

“Nasdem akan berpotensi masuk ke jajaran partai menengah,” kata Arya Fernandez.

Tantangan bagi Nasdem adalah menjaga soliditas di tingkat elite. Yang dia maksud adalah jangan sampai muncul ‘matahari kembar’ yang ujungnya bisa  menimbulkan perpecahan. “Yaitu Surya Paloh dan Hari Tanoe sendiri. Bila muncul, Nasdem akan cepat layu sebelum berkembang,” tukas dia.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: