Terendamnya Kemanusiaan Kita

 

Michael Carlos Kodoati

Lalu Ebiet G. Ade akan banyak muncul dengan lagu-lagunya yang khas untuk membuat manusia melihat kembali kelakukannya dalam hidup. Bencana lalu dinilai sebagai sebuah teguran atas segala dosa manusia…

Itu pendapat orang pada umunya. Saya?

Mungkin saya akan sedikit menulis kembali tentang apa yang sudah terjadi di Indonesia. 30 menit sebelum menulis artikel ini, saya baru saja membaca artikel Kompas tentang ‘politik ekologi’. Dalam artikel menarik itu disebut bahwa menjelang tahun politik 2014, banyak izin dikeluarkan oleh sejumlah instansi pemerintahan terhadap operasi pertambangan. Di sini, saya tidak ingin menguraikan lebih lanjut apa yang lalu terjadi terhadap fakta itu. Kita sudah tahu bersama, korelasi antara tahun politik 2014 dengan ‘mudahnya’ mendapat izin operasi pertambangan. Di sana ada uang. Titik.

Bagi saya, sungguh kasihan para pejabat Gubernur DKI Jakarta; baik sekarang Joko Widodo maupun yang sudah-sudah; Fauzi Bowo, Sutiyoso dan lainnya. Mengapa? Seingat saya, mereka memiliki visi dan misi yang baik untuk membangun Jakarta. Tetapi, nama mereka selalu diobral ‘kegagalan’ gara-gara di awal-awal kerja mereka sebagai Gubernur, banjir selalu datang tak pandang bulu.

Saya sempat ‘geli’ ketika melihat Jakarta hari-hari ini. Mudah bagi kita untuk menghubung-hubungkan banjir dengan kegagalan Gubernur yang menjabat. Sutiyoso, Fauzi Bowo dan Jokowi pun sekarang dianggap gagal. Saya ‘geli’ karena mengingat begitu ‘apiknya’ janji Jokowi ketika kampanye untuk menanggulangi banjir. Yang ada, sama seperti para Gubernur sebelum-sebelumnya, Jokowi harus ‘sakit kepala’ di awal kerjanya ‘hanya untuk mengurusi banjir saja’.

Ada apa sebenarnya dengan semua ini?

Bagi saya, siapapun itu sepertinya akan menjadi ‘orang gagal’ jika yang dihadapi adalah dunia dengan sequadraliun kejahatan terhadap kemanusiaan. Ketika bangsa manusia menjadi bangsa yang tidak menghargai Allah, mereka lalu ditenggelamkan dalam air bah di zaman Nuh. Waktu itu, bangsa manusia begitu berdosa. Tidak ada sikap ‘cinta’ manusia satu kepada manusia lainnya. Kejahatan ada dimana-mana. Kecurangan merajalela. Sogok-menyogok kekuasaan melanda. Pembunuhan demi suatu jabatan menggerogoti setiap manusia. Tidak ada rasa cinta kasih dari Ayah kepada anaknya. Tidak ada cinta dari Isteri kepada Suami. Tidak ada penghargaan terhadap keyakinan orang lain. Banyak perampokan terhadap hak milik orang lain. Banyak pemerkosaan terhadap manusia. Tidak ada kepedulian para penguasa kepada rakyatnya. Tidak ada rasa cinta terhadap lingkungan hidupnya. Terlalu banyak penindasan terhadap martabat atas nama Allah dan Agama. Terlalu banyak pembenaran-pembenaran terhadap ketidakjujuran. Terlalu banyak eksploitasi alam demi memenuhi pundi-pundi pribadi. Saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Bahkan, pencarian terus menerus tentang Allah sendiri sekaligus menciptakan berhala baru untuk menyamai Allah.

Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, atau siapapun itu akan berbaris dideretan para pejabat gagal jika tidak mampu merefleksikan hal-hal di atas.

Sejatinya, manusia adalah ciptaan yang di dalamnya dilengkapi wibawa penciptanya. Wibawa Allah terotomatisasi dalam diri manusia. Itulah martabat. Oleh martabat, setiap manusia memiliki kemanusiaan yang tak pernah bisa dibayarkan dengan apapun juga. Apapun yang terjadi pada diri kita sekarang ini; bencana dan ketidakpercayaan adalah gejala menuju chaos. Tidak ada lagi keseimbangan. Konsep pantha rei atau kehidupan yang terus mengalir seperti air juga tidak berlangsung lagi. Keharmonisan alam yang pernah digambarkan oleh Kitab Kebijaksanaan Tao Te Jing tidak berlangsung. Dunia benar-benar menjadi rusak dan mengusir manusia seperti ketika situasi Taman Eden mengusir Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang.

Banjir Jakarta? Apakah ini tanda dari terendamnya kemanusiaan kita? Bisa iya.

Kemanusiaan kita telah ‘mati’ terendam sejak lama. Kapan? Sejak kita mulai tidak memiliki rasa cinta kepada manusia lain: orang dewasa memperkosa anak kecil, anak gadis diperkosa lalu dibunuh, bocah pemulung disodomi, seks menjadi gratifikasi bahkan bagi para pejabat pemangku jabatan moral!, tidak ada batas-batas lagi antara arti telanjang dan kesopanan, kantor menjadi rumah kedua demi sebuah hubungan haram bernama kepuasan seks, demi dana kampanye izin tambang yang merusak lingkungan dengan mudahnya diberikan, atas nama ‘Allah yang maha besar’ orang menginjak-injak dan membantai kemanusiaan orang berkeyakinan lain, demi kebebasan melakukan kejahatan orang merencanakan konspirasi besar untuk menjebak orang lain agar lengser, atas nama peraturan daerah yang lebih rendah dari Pancasila orang memaksakan aturan yang menginjak-injak keyakinan dan gender manusia, atas nama popularitas dan kantong pribadi penguasa cuek terhadap rakyat dan menari-nari di atas penderitaan rakyat, atas nama modernisasi orang ‘main’ tebang pohon seenaknya, atas nama pembangunan orang seenaknya membabat apa saja yang menghalangi rencananya, karena status dan atas nama belas kasihan koruptor dihukum ringan padahal yang bersangkutan tidak pernah berpikir tentang belaskasihan saat melakukan korupsi, bahkan atas nama dunia yang modern orang dengan bangga melihat dirinya sebagai raksasa dan Tuhan baru bagi dunia.

Kemanusiaan. Sejatinya adalah kehidupan sewajarnya manusia. Apa yang sudah menjadi bagian manusia seharusnya itulah yang dilakoni. Manusia mati tenggelam karena tidak menghargai kemanusiaan orang lain.

Kemanusiaan kita sudah terendam. Habis. Dan kita hanya bisa meratapi jika sekarang kita tidak bisa apa-apa lagi untuk menanggulangi kerusakan yang fatal dari perbuatan kita sendiri.

Selamat berefleksi dan mengkritisi kemanusiaan kita masing-masing.
 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: