Gus Dur Politik-Kultural

 
  • Oleh Tedi Kholiludin
 
 

 0

DUKUNGAN Nuril Arifin (Gus Nuril) kepada Hadi Prabowo sebagai calon gubernur Jateng dengan mengatasnamakan Gusdurian, memunculkan polemik. Alissa Wahid, putri pertama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjelaskan latar belakang di balik dukungan Gus Nuril.

Menurutnya, Gusdurian yang dimaksud Gus Nuril adalah Gusdurian Nusantara, bukan Jaringan Gusdurian yang ia deklarasikan. Jaringan Gusdurian yang ia bentuk lebih menekankan pada upaya penyebaran ide-ide Gus Dur melalui jalur kultural. (SM, 13/01/13)
Meski demikian Alissa tidak bisa menampik bahwa Gus Dur Politik menghadirkan sebuah  preseden. Yeni Zanuba Wahid, salah satu putri Gus Dur juga terlibat dalam aktivitas politik.
Dua jalur itu, tidak perlu saling menegasikan satu dengan lainnya. Para Gusdurian yang ada di dua ruang itu harus menghargai pilihan yang berbeda.

Politik Kekuasaan

Selepas reformasi, Gus Dur yang menjadi lokomotif penguatan masyarakat sipil pada era sebelumnya memang terjun di dunia praktis. Reformasi politik pada 1998, sesungguhnya masih belum sepenuhnya dianggap Gus Dur sebagai ruang yang demokratis. Kepada Greg Barton, penulis biografinya, Gus Dur mengomentari ikhwal era reformasi itu, ”Saya tercabik antara harapan dan keputusasaan.” (Barton: 2010, 323). Menurut Gus Dur, perbandingannya masih 50-50 antara keberhasilan dan kegagalan memanfaatkan momentum itu.

Hingga kemudian lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dengan Gus Dur menjadi Ketua Dewan Syuro dan Matori Abdul Djalil sebagai Ketua Tanfidziyah. Karier Gus Dur dalam politik makin moncer setelah ia terpilih menjadi presiden keempat negeri ini pada 20 Oktober 1999. Padahal, sebagai ketua partai pemenang pemilu (33%) Megawati diperkirakan memenangi kontestasi tersebut.

Adalah KH Mustofa Bisri yang menangkap sinyal bahwa Gus Dur sebagai presiden merupakan ”pelajaran” atau ”pengajaran” paling keras dari Tuhan kepada bangsa yang tak kunjung bisa berbeda dan bersikap adil. Mengapa dia merupakan berkat dari Tuhan? Bukannya fakta politik menunjukkan Gus Dur dipilih secara demokratis oleh anggota MPR?

Gus Mus berkeyakinan bahwa Gus Dur menjadi presiden karena berkat rahmat Tuhan, bukan melulu karena kecemerlangan poros tengah memainkan kartu politik. Pasalnya, sesungguhnya gerbong politik yang mengantarkan Gus Dur menjadi presiden pun belum tentu sepenuh hati mendukungnya.
Naiknya Gus Dur di panggung kuasa inilah yang membukakan pintu bagi ”santri-santrinya” untuk turut berkecimpung dalam dunia politik.

Preseden ini yang dirasa sangat legitimated bagi warga Nahdlatul Ulama (NU) karena Gus Dur sendiri yang membuka jalan untuk bertarung di lanskap politik (kekuasaan).

Tetap Kritis

Jika dibandingkan dengan Gus Dur Politik jelas usia Gus Dur Kultural jauh lebih lama. Tapi pada saat Gus Dur berada pada jalur kultural, ia tetap memainkan peran-peran politik, lebih tepatnya politik kebangsaan dan kerakyatan. Saat Gus Dur memutuskan untuk menarik NU dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia pun tidak memilih jalur konfrontasi dengan negara, meski tetap menjalankan fungsi-fungsi kritisnya.

Gus Dur tetap memperkuat masyarakat sipil, terutama pondok pesantren, melalui pelbagai pelatihan dan penguatan ekonomi. Kekuatan itulah yang ditunjukkan oleh NU saat pemerintah gagal mendelegitimasi Gus Dur melalui Muktamar 1994 di Cipasung Tasikmalaya Jabar.
Meski Gus Dur tetap kritis terhadap negara, ia tidak pernah menjauhi atau memusuhinya. Muktamar Situbondo pada 1984, memutuskan bahwa NU menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas. Bahkan pada 1987, Gus Dur dilantik sebagai anggota MPR mewakili Golkar. Mungkin terkesan sangat simbolik tetapi simbolisme itu penting (Barton, 183)

Barangkali itulah yang menjadikan seolah-olah NU tidak pernah tegas dalam hubungannya dengan negara. Nahdliyin seperti memainkan dua sisi, menjaga jarak tapi tidak meninggalkan negara, sehingga selalu ada warna nahdliyin dalam pemerintahan meski tidak dominan.
Sekarang ini, santri-santri ideologis Gus Dur berdiaspora. Bahkan keluarga Gus Dur mencoba menerjemahkan ide ayahandanya tidak hanya melalui satu pintu. Yang paling penting sesungguhnya adalah kedewasaan masing-masing kelompok dalam memaknai artikulasi pemikiran Gus Dur.

Dari cara berpikir, bertindak, dan berperilaku, Gus Dur sebenarnya telah memberi banyak teladan kepada kita. Dia menjaga kebhinnekaan, melindungi kelompok minoritas, menebar Islam sebagai agama yang ramah, kesetiaan terhadap negara itu mungkin itu di antara sedikit prinsip fundamental yang dita-namkan oleh Gus Dur.
Bagi saya secara pribadi, yang menjadi persoalan adalah ketika salah satu pihak merasa menjadi paling Gusdurian, dan menganggap yang lain tidak Gus-durian. (10)

–  Tedi Kholiludin, Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: