Kepemimpinan yang Autentik

 
  • Oleh Budi Widianarko
 

 16

”…I don’t want clever, conversation, I never want to work that hard, I just want someone, that I can talk to, I want you just the way you are”. (”Just the Way You Are”, Billy Joel)

BLUSUKAN mendadak menjadi kosakata baru Bahasa Indonesia. Terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang telah melakukannya dan berperan ”memopulerkan” istilah itu. Belakangan, Presiden SBY juga ikut blusukan ke kampung nelayan di Tangerang. Alih-alih mendapat  acungan jempol seperti Jokowi, blusukan SBY tidak mendapat tanggapan antusias. Publik cenderung skeptis, meragukan efektivitas programnya itu.

Tanpa menafikan kenyataan bahwa Jokowi saat ini tengah menjadi sosok media darling, serangkaian blusukan Jokowi sejak awal masa kepemimpinannya di DKI Jakarta terkesan autentik, tidak di buat-buat. Sigap dan tanggap bertandang ke permukiman warga miskin yang terkena bencana kebakaran atau banjir dengan tanpa ekspresi canggung, menguatkan kesan autentik itu.

Hanya beberapa jam selepas pulang dari pesta rakyat menyongsong 2013 di jantung kota Jakarta, yang tentu menguras tenaganya, Jokowi meluncur ke permukiman warga yang mengalami musibah kebakaran. Bisa dibayangkan betapa penat.

Yang tak kalah menarik, Jokowi tetap tampil dengan logat kental Jawa, tanpa usaha untuk mengubah. Kata,” … anu” sering terlontar namun sungguh ”ajaib” publik metropolitan terbesar di Indonesia itu terkesan menerima Jokowi sesuai aslinya.

Meminjam ungkapan Billy Joel dalam lagu ”Just the Way You Are” publik menginginkan Jokowi just the way he is, seperti apa adanya. Keberterimaan atas Jokowi dengan gaya yang asli adalah sebuah lukisan keindonesiaan nan indah.
Pilgub DKI Jakarta 2012 membuahkan hasil menarik untuk dicermati. Pasangan Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merupakan pertunjukan  hebat tentang betapa warga Ibu Kota lebih memilih pemimpin ketimbang partai. Pesona kepemimpinan kedua tokoh tersebut jauh lebih kuat daripada aura partai politik. Dengan kata lain warga Jakarta, sebagai cerminan masyarakat Indonesia, cukup cerdas memilih pemimpin, tidak tergoyahkan oleh kekuatan politik, bahkan ”goyangan” sektarian sekalipun.

Kehadiran sosok dua pemimpin muda itu seolah-olah memenuhi kerinduan masyarakat akan pemimpin yang membumi, yang tidak berjarak terhadap warga. Rakyat memang meminginkan pemimpin yang bertindak, bukan sekadar memegang jabatan.

William George dalam buku Rediscovering the Secrets to Creating Lasting Value Leadership (2003) menyatakan bahwa yang diperlukan zaman ini adalah pemimpin yang autentik. Jenis pemimpin ini adalah sosok berintegritas tinggi, memiliki komitmen untuk mengembangkan lembaga di mana dia berada. Yang diperlukan saat ini adalah pemimpin yang yang memiliki tekad kuat dan mendalam guna mewujudkan lembaganya berguna, bukan saja bagi segenap orang yang kena-mengena, melainkan juga bagi masyarakat yang lebih luas.

Menjadi Tokoh

Salah satu karakter utama pemimpin autentik adalah mandiri dan swakarsa, menjadi sosok yang otonom dan penuh prakarsa. Untuk memiliki karakter utama ini, seseorang tentu harus berani menghadapi tantangan besar, harus mampu menenggang tekanan dari segala penjuru.

Dalam ungkapan William George, seorang pemimpin autentik harus siap mengalami ”kesepian sorang pelari jarak jauh” (the loneliness of the long distance runner).
Dengan seringnya pemimpin mengambil keputusan dan bertindak yang dianggap tak lazim maka ia harus siap kesepian. Kekukuhan sikap untuk berani berbeda dari mayoritas,  demi tujuan baik yang diyakini, adalah syarat esensial seroang pemimpin autentik.

Tokoh selalu lahir dalam ruang dan saat yang tepat, tetapi tak semua orang yang hadir di ruang dan saat yang sama, menjadi tokoh. Hanya mereka yang mampu membaca situasi dan mengambil sikap tindakan yang menonjol akan menjadi tokoh. Dalam rumusan Stephen Covey (The 8th Habit, 2004), ”You will discover that such influence and leadership comes by choice, not from position or rank”. Dikatakan, prakarsa adalah persoalan pilihan. Pilihan itulah yang disebut sebagai kepeloporan atau leadership.

Visi kemimpinan seseorang tidaklah selalu mencuat jelas sejak awal. Visi dapat disemaikan dan terus bertumbuh seiring dengan ketergerakan nurani menyaksikan perubahan di sekelilingnya. Fenomena itu ditemukan oleh Covey pada sejumlah tokoh besar dunia. Ia mengamati bahwa umumnya para tokoh itu kesadaran akan visi berkembang secara lambat. Karena visi lahir dari dorongan untuk memenuhi kebutuhan dan kepekaan nurani untuk segera bertindak.

Dalam kasus Jokowi tampaknya masyarakat telah merasakan autentisitas kepemimpinannya. Semoga kepercayaan kepada Jokowi bukan hanya lahir dari kerinduan masyarakat yang sangat akut akan kehadiran pemimpin yang autentik di negeri ini. Inilah tantangan terbesar Jokowi untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang autentik di tengah harapan masyarakat yang begitu besar.

Harapan yang begitu besar untuk pemecahan seabrek masalah pelik kota Jakarta bisa berisiko menggelincirkan sosok Jokowi menjadi superhero, seperti superman atau spiderman, yang tidak boleh gagal dan salah. Padahal sesuai ungkapan rocker juga manusia, pastilah Jokowi juga manusia yang tidak pernah sempurna. Semoga ia dapat menyurusi alur perjalanan kepemimpinannya tanpa harus tergelincir. (10)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: