Keteladanan & keindonesiaan

 

Said Aqil Siradj. (Dok. SINDO)
Said Aqil Siradj. (Dok. SINDO)

Saat ini kita berada dalam bulan Rabiul Awwal atau Bulan Maulud. Setiap datang bulan Rabiul Awwal, umat Islam,khususnya di Indonesia, akan menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Maklum, pada bulan ini diyakini terdapat hari kelahiran Nabi Muhammad.

Umat Islam biasa merayakannya dengan tradisi peringatan Maulid Nabi. Maulid Nabi merupakan perayaan yang dilakukan umat Islam untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad dengan segala keteladanannya. Tentu saja ini merupakan tradisi yang sangat baik (mahmudah) yang menyimpan dan menampilkan makna dan manfaat bagi masyarakat.

Tradisi dan Multikultural

Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kehidupan yang baik dan seimbang.Kehadiran Islam tidaklah untuk menghancurkan budaya, tetapi Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat di dalam kehidupannya sehingga masyarakat akan berkembang menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan seperti dakwah Walisongo yang memperlakukan tradisi dan budaya lokal dengan hormat dan meluruskan berbagai kekeliruannya dengan cara yang arif dan bijaksana.

Menyitir pendapat Dr Abdul Hadi WM,Islam tidak boleh memusuhi atau merombak kultur lokal, tetapi harus memosisikannya sebagai ayatayat Tuhan di dunia ini. Perayaan Maulid Nabi sudah merupakan bagian dari tidak hanya tradisi keagamaan,tetapi juga sudah menjadi tradisi dan budaya lokal masyarakat, khususnya di Indonesia.Perayaan Maulid Nabi telah menyaturaga dengan keindonesiaan serta memasuki aspek lokalitas, kebersamaan,dan kepentingan nasional, apalagi di saat memudarnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia saat ini.

Perayaan Maulid Nabi sesungguhnya menyimpan potensi besar yang mesti dilestarikan sepanjang masa. Perayaan ini mampu dan berpotensi menggalang dan mempererat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antarumat Islam), ukhuwah basyariyah (persaudaraan berdasarkan kemanusiaan), dan ukhuwah wataniyah (persaudaraan berdasarkan nasionalisme). Kita sudah seharusnya mau melihat dan mengakui secara jujur atas heterogenitasbudaya, etnik, dan agama yang dimiliki bangsa Indonesia.

Jika tidak, segala potensi yang dimiliki bangsa Indonesia hanya tinggal kebanggaan dan kenangan. Di era multikultural ini kiranya ada banyak hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebelum memutuskan suatu perkara, terutama tentang keagamaan dan keumatan. Khususnya tentang aspek lokalitas, tradisi, budaya,norma,dan sistem nilai yang berkembang di tengah masyarakat.

Dari Teladan ke Kesadaran

Tak diragukan lagi,kelahiran Nabi Muhammad sesungguhnya telah memberikan makna lain dalam kehidupan umat manusia. Secara mendasar, Nabi Muhammad telah mampu mengadakan perubahan-perubahan signifikan dan meletakkan dasar nilai-nilai positif dalam menjalani kehidupan ini. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad secara cemerlang telah melakukan apa yang biasa disebutsebagaihumanisasispiritualitas yang telah lama terjebak dalam fatalisme akibat krisis moral bangsa saat itu.

Di samping itu, lahirnya Nabi Muhammad merupakan rahmat bagi seluruh alam, terutama bagi yang bersedia dengan tulus untuk mengikuti ajarannya yang selanjutnya berisikan koreksi total terhadap keimanan,perilaku,dan akhlak manusia.Juga reformasi total terhadap sosio-kultural, hukum, ekonomi, dan politik global. Ketika Nabi Muhammad dilahirkan, kondisi masyarakat Arab dalam kegelapan dan kebodohan (jahiliah).

Tatanan kehidupan sosial dan masyarakat kacau balau, merebak perbudakan yang meruntuhkan martabat manusia, perekonomian dimonopoli oleh pemuka dan penguasa dalam kelompok (kabilah) yang kuat dan berpengaruh. Demikianlah,Nabi Muhammad telah memberikan teladan dengan berjuang mengeluarkan masyarakat dari zaman jahiliah menuju zaman pencerahan. Hal tersebut dilakukan dengan keteguhan, keyakinan, dan perjuangan.

Nah, keteladanan ini perlu dijadikan acuan dan pelajaran dalam membangun kehidupan bangsa Indonesia.Rakyat Indonesia harus menjaga keteguhan sikap dan kekuatan batin sehingga tak kehilangan arah dan harapan di tengah perubahan zaman. Untuk tetap bertahan, perlu terus meningkatkan kesatuan dan persatuan bangsa. Negara Indonesia merupakan tanggung jawab bersama semua lapisan bangsa,terutama pemerintah,ulama,dan masyarakat.

Ulama diharapkan mendorong pemahaman Islam sebagai agama yang mengajarkan perdamaian, kerukunan,dan persatuan. Selain menekankan persaudaraan antarumat (ukhuwah Islamiyah) dan antarmanusia (ukhuwahbashariyah),Islamjuga mementingkanpersaudaraan kebangsaan( ukhuwahwathaniyah). Islam dan keindonesiaan adalah dua sisi mata uang atau senyawa yang saling memberikan makna.

Keduanya tidak bisa diposisikan secara diametral atau dikotomis.Keindonesiaan selalu meletakkan keberagaman atau pluralitas sebagai konteks utama yang melahirkan ikatan dasar menyatukan sebuah negara bangsa. Pada masa kemerdekaan, Islam menjadi bagian penting dalam proses integrasi. Lahirnya NKRI tak lepas dari kesadaran dan kebesaran hati kelompok masyarakat beragama yang lebih memilih untuk membangun negara Indonesia berdasarPancasilayangmengayomi beragam pemeluk agama.

Usaha untuk mengingatkan sejarah ini masih relevan. Apalagi belakangan ini bermunculan kelompok-kelompok keagamaan yang puritan dan radikal yang mengganggu keindonesiaan. Islam yang dibawa Nabi Muhammad senantiasa mengajarkan persatuan, solidaritas, dan toleransi.Di sinilah rupanya peringatan Maulid Nabi bisa dijadikan sebagai momentum untuk meneguhkan nilai-nilai kebersamaan.Perayaan Maulid Nabi adalah untuk dijadikan sebagai ibrah, pelajaran yang dapat diambil hikmah dan manfaatnya baginilai-nilaiadiluhung tersebut.

Sangat tidak bijak rasanya bila kita mengesampingkan segala pelajaran baik dari perenungan atas kelahiran Nabi Muhammad yang kita kenal sebagai pilihan Tuhan yang memiliki sikap mulia,yaitu amanah,adil,kejujuran,moralitas, humanitas, egaliter, dan pluralitas yang begitu tinggi sehingga menampilkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Tegasnya,peringatan Maulid Nabi sudah selayaknya kita jadikan untuk mengingat dan merenungkan kembali kelahiran Nabi Muhammad yang keberadaan beliau mampu menjadikan masyarakat yang berperadaban (mutamaddin). Selanjutnya, kita dituntut untuk dapat mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad dalam seluruh perilaku. Akhirnya,melalui perayaan Maulid Nabi,kita pun kembali diingatkan bahwa teladan misi profetik Nabi Muhammad sesungguhnya juga bisa diterjemahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.●

SAID AQIL SIRADJ
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)        

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: