Kolom Djoko Suud efek domino nasdem

 

 

Djoko Suud Sukahar – detikNews
 
 

Jakarta – Nasdem panas adem. Meriang. Kudeta Surya Paloh telah menggiring anggota dan pengurusnya tercerai-berai. Partai baru itu rontok. Berguguran. Permainan domino itu kini masih berjalan. Seberapa parahkah dampaknya ke depan?

Surya Paloh resmi sebagai Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Dia dikukuhkan saat Kongres Nasdem di Jakarta Convention Center. Ketua Umum lama, Patrice Rio Capella menyerahkan jabatan itu. Dan babak baru ini menutup rumor yang berkembang lama, Surya Paloh akan kudeta.

Jabatan ini layak diambil Surya Paloh. Itu jika dilihat dari kreatifitasnya sejak kalah dalam perebutan Ketum Partai Golkar di Perkanbaru. Setiba di Jakarta bos Metro-tivi itu menggerilya tokoh-tokoh. Dengan manis berhasil menggiring mereka dalam satu kelompok yang bernama ormas Nasdem.

Surya Paloh memang jeli. Situasi mengambang butuh ruang untuk aktualisasi diri. Itu yang dimanfaatkan laki-laki berewokan ini. Dia mendirikan Nasdem untuk memberi panggung bagi tokoh-tokoh yang ingin manggung. Sekadar sebagai wadah untuk bargaining dan berpayung di saat belum punya payung.

Para tokoh yang sadar akan dikadali itu berhasil dikadali. Hanya dengan jargon ‘perubahan’ agar mengesankan heroik dan punya integritas serta janji Nasdem tidak menjadi parpol, maka berduyun-duyunlah tokoh-tokoh penting itu masuk Nasdem. Ini mengerucut tatkala susunan kepengurusan Partai Golkar tidak akomodatif. Beringin umob. Luber. Dan luberan itu mengalir ke dalam Nasdem.

Ormas transisi menuju parpol itu akhirnya terjadi. Sultan Hamengkubuwono X keluar dari Nasdem. Itu tidak mengejutkan, karena hakekatnya semua tahu itu akan terjadi. Yang mengejutkan justru Ketum Partai Nasdem itu bukan Surya Paloh. Patrice Rio Capella yang tidak dikenal khalayak yang didapuk. Surya Paloh hanya sebagai Ketua Majelis Nasional Partai.

Kejutan itu semakin mengejutkan, karena saat itu tampil Hary Tanoesoedibjo. Bos media itu diangkat sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem. Ini darah baru bagi partai baru itu. Iklan bermunculan di media Hary Tanoe, caleg akan dibiayai Rp 5 miliar – Rp 10 miliar didengungkan, organisasi sayap dibuat, juga cabang Partai Nasdem di luar negeri dibuka untuk menjaring suara TKI. Hasilnya, Partai Nasdem tampil sebagai satu-satunya partai baru yang akan ikut pemilu di tahun 2014 nanti.
Di saat banyak orang berasumsi Partai Nasdem akan tampil sebagai penantang, tiba-tiba Surya Paloh ikut tertantang. Inisiator ini tidak jenak hanya duduk di belakang layar. Dia memaksa tampil. ‘Kudeta santun’ dilakukan. Ketum harus menyerahkan jabatan.

‘Hary Tanoe & the gang’ tidak setuju dengan sikap itu. Dia menyodorkan kartu domino. ‘Ancamannya’ Surya Paloh membatalkan niatnya, atau kartu rontok satu-persatu. “Iklan dan logistik bukan segalanya”, kata Surya Paloh. Dan dua kubu ini pun akhirnya bercerai.

‘Permainan’ ini menunjukkan, bahwa Surya Paloh memang politisi hebat. Apa yang dilakukan secara etika tidak etis, tapi adakah etika dalam berebut kuasa? Celakanya Hary Tanoe berpikir sebaliknya. Kalkulasi bisnis dipakai sebagai alat untuk menerawang prospek politik. Adakah Partai Nasdem akan rontok?

Sebagai partai baru yang belum pernah berlaga, ukuran rontok tidaknya partai ini memang belum ada. Namun lepasnya Hary Tanoe dari Partai Nasdem akan sangat terasa. Iklan layanan hilang, sayap-sayap partai akan patah, jaringan di luar negeri bakal tidak efektif lagi. Yang paling penting lagi, perusahaan-perusahaan yang karyawannya masuk Nasdem karena bosnya akan sirna begitu saja. Padahal ini salahsatu kunci sukses Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI tempo hari.

Efek domino dari sikap Surya Paloh itu memang sangat merugikan Partai Nasdem. Biar Sutrisno Bachir dan yang lain masuk Nasdem, itu tidak bisa menggeser Hary Tanoe sebagai aset paling berharga partai baru ini.

 

*) Djoko Suud Sukahar, pemerhati sosial budaya politik

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: