Kisah Tragis Akhi Mursi

oleh Novriantoni Kahar

Ini kisah tragis presiden pertama yang terpilih demokratis. Namanya Muhammad Mursi, naik singgasana 30 Juni. Baru setahun lalu akhi (saudaraku) memerintah. Jutaan rakyatnya memberontak dalam aksi tamarrud yang artinya pembangkangan. Itulah mukaddimah bagi tentara untuk kembali tampil ke muka sejarah. Mereka seakan diberi mandat kudeta. Akhi pun dipaksa turun tahta. Padahal, dia diamanatkan untuk menjadi jembatas emas bagi tercapainya impian-impian rakyatnya.

*Tulisan dimuat di Koran Tempo, 7 Juli 2013

Ini kisah tragis presiden pertama yang terpilih demokratis. Namanya Muhammad Mursi, naik singgasana 30 Juni. Baru setahun lalu akhi(saudaraku) memerintah. Jutaan rakyatnya memberontak dalam aksi tamarrudyang artinya pembangkangan. Itulah mukaddimah bagi tentara untuk kembali tampil ke muka sejarah. Mereka seakan diberi mandat kudeta. Akhi pun dipaksa turun tahta. Padahal, dia diamanatkan untuk menjadi jembatas emas bagi tercapainya impian-impian rakyatnya.

25 Januari 2011 lalu, rakyat itu baru menumbangkan tiran yang terlalu lama bertahta. Husni Mubarak namanya. Dia bukan akhi. Ketika itu, tuntutan rakyat empat perkara. Perkara pertama, tersedianya pangan yang pokok, yakni roti (isyh), dengan harga murah. Kedua, semakin terbukanya ruang kebebasan (hurriyyah) warga negara. Maklumlah, mereka sudah dewasa; tak sepantasnya terus-menerus dipatronase pemipin berlagak pengembala. 

Terangkatnya kehormatan insani (karamah insaniyyah)tuntutan ketiga mereka. Terakhir barulah soal keadilan sosial (adalah insaniyyah) yang mereka rasa kian payah dan parah. Demi empat perkara itulah mereka marah. Demi itu pula mereka rela menyabung nyawa walau tiran manapun takkan rela tatanan mereka yang sudah mapan digoyah. Ajaib, mereka berhasil, akhi Mursi dan kawan-kawan agak telat mendukung mereka.

Itu harus kau kenang, ya akhi! Untuk mewujudkan empat tuntutan itulah rezim lama mereka tumbangkan, tatanan baru mereka harap-tegakkan. Pemilu pun diselenggarakan agar muncul pemimpin yang absah. Mujur bagimu, mekanisme syubuhat itulah yang mengantarkanmu bertahta. Engkau mungkin bingung, baru setahun memerintah, ketidakpuasan atasmu langsung memunca. Salah apa?

Menurutku, mungkin karena eforiamu ketika berkuasa dan kurangnya muhasabah. Apakah aku terlalu menyederhakan masalah? Yang kutahu, tak ada transisi demokrasi yang mudah. Engkau dan partaimu mungkin lena ketika mendapatkan bola muntah untuk berkuasa dan menggusur rezim lama yang mati-matian memusuhimu. Seingatku juga, eforiamu di kekuasaan bermula dari ihwal menyalahi janji.

Semoga engkau belum lupa, akhi! Mulanya, partaimu berikrar tak akan mengusung calon presiden supaya tidak memicu fobia-Ikhwani. Tapi mungkin partaimu silau dan sedikit loba. Setelah pemilu legislatif, engkau pun diusung menggantikan sobatmu yang didiskualifikasi karena itu-ini. Kini engkaulah yang justru tampak loba. Dan yang pasti: ingkar janji.

Feelingku, dari situlah kepercayaan, tsiqah kaum muda yang heroik menumbangkan pendahulumu memudar seketika. Sekali berkhianat janji, seterusnya engkau dan partaimu dikutuk curiga. Tak hanya buruk-sangka. Mereka, kaum muda penuh gelora, juga merasa revolusi mereka telah dirampas orang-orang yang punya agenda. Tak hanya kau, mungkin, tapi engkau dan partaimu-lah yang paling kentara dan kena getahnya.

Konon, sabar di kala sebal pun kebajikan penting dalam berdemokrasi. Engkau yang absah memerintah, pantas diberi masa menunaikan impian mereka. Tapi rupanya, dalam waktu setahun saja, yang tampak pada mereka hanya inkompetensimu dalam memerintah. Perekonomian tak terurus secara becus. Membeli roti harus antri. Gas tak sampai ke rumah. Bensin sering tak tersedia. Listrik pun sering tak menyala.

Kau pasti tahu, akhi, di tengah musim panas nan terik, matinya pendingin udara rumah-rumah mereka adalah titah untuk berhamburan ke luar rumah. Dan mereka marah. Berapa yang marah dan banyak mana dengan simpatisanmu ditanya usah. Jutaan mereka memenuhi Tahrir demi menuntut tanggungjawabmu. Apa salahmu? Menurut Blomberg.com 2 Juli, ada 10 bluder yang kau lakukan, akhi!10 dosa—maaf, meminjam bahasamu—itulah yang membuat dunia seperti berkonspirasi menjatuhkanmu.

Pertama, engkau ingkar janji. Kedua, tak mampu berkoalisi. Ketiga, miskalkulasi terhadap tentara. Keempat, Konstitusimu dituduh condong Ikhwani. Kelima, tak mampu memulihkan wibawa polisi. Keenam, suplai rotimu pakai antri. Ketujuh, kurang lihai membujuk oposisi. Kedelapan, terhadap sektarianisme, engkau tak perduli. Kesembilan, kebebasan media mulai kau kekang. Kesepuluh, listrik dan bensinmu korslet dan itu membakar kemarahan massal.

Kombinasi semua itulah yang berkonspirasi menjatuhkanmu, akhi!Mereka tak mau paham betapa susahnya kau menangani masa transisi. Yang mereka mau, engkau perlu menyewa Yusuf dan Musa. Yusuf menjadi penasehatmu bidang ekonomi, Musa membebaskan mereka dari tirani. Soal kehormatan insani, tuntutan ketiga mereka, engkau hanya perlu rendah hati dan menghindari arogansi. Perkara keadilan sosial tentu tak mungkin terwujud seketika; mereka maklum belaka.

Di hari-hari puncak kemarahan mereka, tahtamu mungkin saja terselamatkan andai kau mau rendah hati dan cepat bermuhasabah. Sayang, pidatomu 1 Juli memastikan kepada mereka bahwa engkau tak punya visi dan tidak pula tertarik islah. Apakah terpendam semacam arogansi padamu, akhi?Kau kan tahu, rakyatmu sudah tak mungkin lagi takut akan gertakan dan sergahan!

Oh ya, sesalku sungguh karena telat menyampaikan pesan tentang Durrahman. Andai sajak itu cepat sampai padamu, mungkin akhir kisahmu takkan sesakit jatuh terkudeta. Andai, ya akhi, puisi ini yang kau baca dalam pidato itu:

“Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden/ yang telah kuperintahkan untuk turun tahta/ sebab tubuhku terlalu lapang baginya. Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya akan kubereskan sekarang juga.” (Durrahman, Joko Pinurbo, 2010).

Sesalku tinggi, akhi. Kini entah kisah apa yang bisa kutulis lagi tentang diri dan kaummu. Perih hatiku mengingat 80 tahun lamanya engkau dan kaummu direpresi amn daulah (tentara) tiada henti. Lebih sedih lagi membayangkan nasib apa yang akan menimpa bayi demokrasi yang dikandung negerimu yang diuntit fitnah dan tirani. Ironis, rakyatmu dulu bersorak tatkala tentara yang cerdik—atau culas?—melengserkan penindasmu, kini sukacita pula merayakan tumbangnya engkau. Malang nian nasibmu, akhi!

Aku kini tak tahu berkisah apa. Kata orang, kudeta takkan seketika menstabilkan suatu negeri, apalagi memuluskan jalan demokrasi. Aku pun belum tahu, apakah manuver tentara itu demi vendetta terhadapmu dan jemaahmu atau benar-benar ingin menyelamatkan bangsa. Dunia pun menunggu cemas: apakah bayi demokrasi itu kelak mampu berdiri atau justru terbunuh mati di perang saudara atau medan tirani.

Alah, kenapa pula engkau bilang siap mati demi legitimasi, yaakhi?! Aku sungguh kuatir pengikutmu akan sembrono menerapkan seruan heroik itu. Jika itu yang berlaku, makin genaplah alasan tentara untuk mengekang kebebasan rakyatmu. Tak hanya kau dan pengikutmu yang akan ditumpas, tapi semua mungkin terimbas.

Aku sungguh berharap, engkau dan teman-temanmu kini hanya ditahan demi penataan hidup baru. Baik sangkaku, engkau diberi waktu bermuhasabah agar kelak kembali ke kancah dengan mental yang sudah berubah. Mungkin tak mudah menyembuhkan luka. Tapi perlu kau tahu, engkau dan kaummu tertikam, rakyakmu juga sangat terancam kelam. Berdoalah agar niat baik senantiasa menyertai kisah negerimu dan engkau tampil pulih kapan waktu.

Salamku dari jauh: Jakarta.

5 Juli 2013.

Koran Tempo, 7 Juli 2013.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: