Isra’-Mikraj dan Spirit Pluralisme dalam Perintah ShalaT

oleh Sobih Adnan*

“Begitu tingginya Islam mengapresiasi agama-agama sebelumnya, Cyril Glassé, mengatakan “…the fact that one Revelation should name others as authentic is an extraordinary event in the history of religions”. Perhatian Islam tersebut harus tetap kita apresiasi yakni ajakan untuk menemukan dasar-dasar kepercayaan yang sama, yang dalam hal ini tidak lain ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau tauhid, monoteisme. Ajakan itu, diperlukan, karena dasar kepercayaan atau keimanan akan sangat menentukan apakah suatu agama cukup kuat mendukung pesannya sendiri. Inti pokok dari ajaran para nabi ialah memusatkan penghambaan diri dan pengabdian mutlak hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, diikuti dengan perlawanan kepada tirani dan menegakkan keadilan dan keseimbangan. Perlawanan terhadap tirani dan keimanan kepada Tuhan adalah pegangan hidup yang kukuh, suatu kebenaran yang jelas berbeda dari kepalsuan. Karena itu Islam dan sebagaimana agama-agama sebelumnya adalah agama hanif, artinya selalu cenderung kepada yang suci dan baik.”

Bagi umat Muslim, peristiwa Isra’-Mikraj merupakan ujian keimanan terbesar sepanjang masa kenabian Muhammad. Sebuah perjalanan spiritual Muhammad dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Palestina. Dilanjutkan dengan “terbang” menuju Sidrat Al-Muntaha (langit lapis ke-7) yang dilakukan hanya dalam waktu semalam saja. Tentu, untuk mempercayai hal seperti ini memerlukan tingkat kepasrahan pendengar yang luar biasa, sebelum kemudian ditemukan sebuah esensi dari apa yang diperoleh dalam perjalanan istimewa Muhammad tersebut, yakni kewajiban menjalankan perintah shalat.

Di sisi lain, Abu Jahal –Musuh Nabi– menemukan semacam senjata telak untuk merapuhkan komunitas muslim yang sudah mulai terbentuk. Provokasi yang diluncurkan ke tengah masyarakat Arab kali ini tidak akan sesulit saat menghadapi gagasan-gagasan Islam sebelumnya. Jika saja esensi dari perjalanan spiritual tersebut tidak segera dipaparkan Muhammad, mungkin kini dalam kajian sejarahpun Islam tidak pernah tercatat.

Masyarakat Arab, Isra’-Mikraj, dan Shalat

Isra’-Mikraj terjadi sekitar tahun 620-621 Masehi. Jika dalam hitungan kalender Islam peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 27 bulan Rajab. Yang menarik adalah kisah perjalanan Muhammad yang sangat membutuhkan keimanan kuat untuk mempercayainya tersebut terjadi pada tahun di mana Muhammad baru 10 tahun memproklamasikan dan berdakwah tentang keIslaman, usia yang dirasa belum cukup matang dan kuat dalam setiap sejarah komunitas, negara, terlebih agama. Maka, sangat wajar jika predikat muslim yang tingkat keimanannya masih dini tersebut harus goyah dan masyarakat Arab meresponnya dalam bentuk pengusiran Muhammad dari Makkah, bahkan percobaan pembunuhan atas dirinya.

Di sisi lain Muhammad membawa pengaruh besar dalam alur dan potensi ekonomi masyarakat pada masa itu. Selain pada peternakan, persenjataan, ladang, dan lainnya, salah satu potensi ekonomi yang terbilang besar bagi masyarakat Arab adalah produksi patung-patung sesembahan. Sejak semula bendera La Ilaha Illa Allah yang dikibarkan Muhammad di mata kaum elit Arab sudah dianggap cukup mengganggu peluang ekonomi, karena para produsen patung terancam akan berkurangnya kuantitas konsumen di wilayahnya. Kemudian melalui peristiwa Isra’-Mikraj inilah Muhammad dianggap melakukan bentuk perlawanan yang lebih besar, yakni perlawanan kultural, melalui perintah shalat, gaya menyembah yang menurut mereka baru, padahal sebenarnya telah lama dilaksanakan oleh nabi-nabi lain sebelum Muhammad.

Selain permasalahan teologis dan ekonomi, masyarakat Arab pada masa itu juga memiliki kekhawatiran lain dengan hadirnya berita Isra’-Mikraj yang dialami oleh Muhammad. Trend kesukuan Arab menjadi terusik dengan ritual peribadatan yang diesensikan shalat. Shalat dikampanyekan Muhammad tanpa memandang perbedaan kelas, golongan, suku, serta tingkatan ekonomi penyembah. Tidak seperti yang sebelumnya kerap mereka temui, setiap ritual, simbol, waktu, dan ruang yang digunakan untuk melakukan ibadah sarat dengan pertimbangan ekonomi dan status sosial. Hal seperti ini dipandang akan menjadi penggugat atas kekuatan dan keistimewaan Quraisy, yang pada masa itu masih berpredikat sebagai suku terkuat di jazirah Arab.

Shalat, Isra’-Mikraj, dan Semangat Keberagaman

Tidak secara keseluruhan para ulama menyepakati bahwa Isra’-Mikraj merupakan proses perjalanan Muhammad untuk menerima perintah shalat. Karena pada dasarnya di dalam ayat yang menerangkan tentang peristiwa Isra’-Mikraj tersebut tidak menyebutkan proses mandat tentang shalat itu sendiri. Tuhan hanya menceritakan bagaimana dengan kekuasaan-Nya mampu menjalankan seorang hamba dengan jarak tempuh yang sangat jauh, akan tetapi dalam waktu yang luar biasa singkat (Al-Isra 17: 1). Di samping itu dalam sejarah Islam juga diterangkan bahwa shalat merupakan syariat dari masa ke masa, hanya saja beberapa tamsil, ibrah, dan pengalaman nabi dalam peristiwa Isra’-Mikraj ini melahirkan kesimpulan bahwa umat Muhammad diwajibkan atasnya melaksanakan shalat wajib lima waktu.

Islam tidak hanya berdiri berdasarkan suatu fondasi yang tunggal. Dapat dilihat di dalamnya bahwa Islam sebenarnya bisa dijadikan semacam refleksi agama-agama terdahulu. Dalam hal ini, ibadah shalat cukup mewakili sejarah pembentukan identitas agama Islam. Semisal, shalat Shubuh merupakan representasi dari ibadah yang pernah dilakukan oleh Adam saat turun ke bumi. Shalat Dzuhur merupakan bentuk syukur yang dilakukan Ibrahim dan Ismail atas ketuntasannya menjalankan perintah Tuhan untuk membangun rumah ibadah: Ka’bah. Shalat Ashar adalah hal yang dilakukan oleh Yunus saat mengungkapkan kepasrahan di perut ikan Nun. Shalat Maghrib merupakan bentuk permenungan dan syukur Isa atas terbebasnya Maryam dari fitnah dan tuduhan-tuduhan. Serta Shalat Isya adalah ritual syukur Musa yang selamat dari kejaran Fir’aun.

Menyebutkan nama-nama nabi sebelum Muhammad memang tidak bisa dimonopoli oleh Islam itu sendiri. Karena dalam ajaran agama-agama monoteistik yang tergolong Abrahamik yakni Islam, Kristen, juga Yahudi akan bersama-sama menemukan tokoh-tokoh yang hampir sama, dan disebut nabi-nabi. Maka jika mengaitkan sejarah shalat dengan ritual –ritual yang pernah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu niscaya dengan sendirinya berarti menelusuri hubungan Islam dengan agama-agama yang terlahir lebih awal. Di samping itu, keberlangsungan ajaran nabi-nabi terdahulu keberadaannya harus diakui melalui para penganutnya yang hadir dan berdampingan hingga kini. Walhasil, sejarah shalat bisa dijadikan media refleksi yang strategis mengenai hubungan agama-agama, juga merupakan ibadah pokok umat Islam yang mengamanatkan tentang penghargaan dan pengakuan terhadap keberagaman.

Begitu tingginya Islam mengapresiasi agama-agama sebelumnya, Cyril Glassé, mengatakan “…the fact that one Revelation should name others as authentic is an extraordinary event in the history of religions”. Perhatian Islam tersebut harus tetap kita apresiasi yakni ajakan untuk menemukan dasar-dasar kepercayaan yang sama, yang dalam hal ini tidak lain ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau tauhid, monoteisme. Ajakan itu, diperlukan, karena dasar kepercayaan atau keimanan akan sangat menentukan apakah suatu agama cukup kuat mendukung pesannya sendiri. Inti pokok dari ajaran para nabi ialah memusatkan penghambaan diri dan pengabdian mutlak hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, diikuti dengan perlawanan kepada tirani dan menegakkan keadilan dan keseimbangan. Perlawanan terhadap tirani dan keimanan kepada Tuhan adalah pegangan hidup yang kukuh, suatu kebenaran yang jelas berbeda dari kepalsuan. Karena itu Islam dan sebagaimana agama-agama sebelumnya adalah agama hanif, artinya selalu cenderung kepada yang suci dan baik.

Selain tentang perintah shalat, dalam peristiwa Isra’-Mikraj Muhammad juga memperoleh pengalaman-pengalaman spiritual yang dapat dijadikan sebagai kunci toleransi agama-agama dalam konteks kekinian. Melalui beberapa ‘ibrah dan tamtsil (percontohan) juga dialog Muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya menunjukkan tentang pentingnya tradisi keterbukaan komunikasi antar agama. Inilah Isra’-Mikraj. Seperti nabi, isra menjadikan dirinya untuk memahami keberagaman dari hal privat seperti shalat, hingga ke masyarakat dan umat. []

*Alumni Workshop Jaringan Islam Liberal (JIL) tahun 2011. Mahasiswa jurusan Pemikiran Islam, Fakultas Ushuluddin, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Cirebon

Komentar Masuk (5 komentar)
Pengasongan ini benar-benar mengacu kepada penghambaan diri kepada Allah,dengan latar belakang lintas keilmuan. Kisah Isra-Miraj yg telah menjadi kebanggaan dunia Islam, sepertinya tak akan mampu dipikir ulang tentang kebenarannya. Rangkaian riwayat yg terpapar di berbagai Kitab, di antaranya bersumber dari periwayatn Anas bin Malik. Jalan cerita yg menarik menurut yang meyakininya, sehingga dengan lugas mereka mengatakan itulah gambaran keagungan Allah. Di lain sisi, terutama sisi saya dimana saya memandang, malahan kish tersebut memunculkan beberapa pertanyaan yg makin sulit dijawab. Di sisi dimana kita menyimak atau mengikuti alur pemaparan Alquran yg jelas tentang tokoh Muhammad Rasulullah yang egalitarian tanpa memiliki potensi kekuatan-kekuatan sebagaimana yg diinginkan oleh para musuhnya,dan kemudian Allah menolak total yang menjadi tuntutan para musuh itu (kaum kafir). Namun pada episode Isra Mi’raj praktek-praktek keinginan orang kafir itu malah dimunculkan atau diapresiasi oleh ummat Islam sendiri. Saya mohon pandangan awal Anda, karena yg saya sodorkanpun merupakan pembuka jalan. Dengan sangat saya menunggu jawaban.
#1. Mustafa Adnani at 2012-07-20 23:58:42
Assalamu’alaikum wrwb

Tulisan yang baik sekali untuk di renungkan;

Saya menemukan semangat pluralisme yang di Amalkan oleh Rasulullah atas perintah dari ALLAH yaitu;

1. ALLAH menjelaskan kepada Rasulullah bahwa yang dimaksud golongan2 Islam itu,bukan saja pengikut2 kamu Muhammad, tapi juga golongan2 sebelum kamu,yaitu gol.Yahudi.Nasrani yang tidak memerangi kamu tapi menerima kedatangan kamu;

Dia [Allah] telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu dan [begitu pula] dalam [Al Qur’an] ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia,QS 22:78

Golongan2 Islam itu mempunyai kiblat yang berbeda beda,cara ibadah juga berbeda beda,tapi semua adalah Islam.

Dan bagi tiap-tiap umat ( Yahudi, Nasrani, dan mukmin) ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu..(QS.2:148).

RASULLULLAH DIMINTAK OLEH ALLAH UNTUK BERLAKU ADIL KEPADA SEMUA GOLONGAN2 ITU;

Katakanlah orang2 mukmin;”Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah( Taurat,Injil, Al quran ) dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu(yahudi,nasrani dan mukmin). Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu.Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita)”QS 42:15, QS.5:8 QS 60;8

ORANG2 YAHUDI DAN NASRANI ITU TIDAK SEMUA SAMA;

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus [4], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud [sembahyang]. (113) Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada [mengerjakan] pelbagai kebaikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (114) Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi [menerima pahala] nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa. QS 3:(113-115)

THEY ARE NOT ALL THE SAME. THERE IS A COMMUNITY AMONG THE PEOPLE OF THE BOOK WHO ARE UPRIGHT. THEY RECITE ALLAH’S SIGNS THROUGHOUT THE NIGHT, AND THEY PROSTRATE. They believe in Allah and the Last Day, and enjoin the right and forbid the wrong, and compete in doing good. They are among the righteous. You will not be denied the reward for any good thing you do. Allah knows those who guard against evil. (Surah Al ’Imran, 113-115).

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.QS 3: (199)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: