Menyalalah Nurani Dunia untuk Suriah!

oleh Novriantoni Kahar

 

 

Kemana lagi kalian akan lari? Di belakang hanya lautan, di hadapan kalian hanya lawan. Demi Tuhan, kalian tak punya pilihan selain kesetiakawanan dan ketahananan. Dan ketahuilah, di Semenanjung ini, kalian hanya kumpulan yatim di perjamuan orang-orang tanpa empati. Musuh tlah siap menyambut kalian dengan bala tentara dan persenjataan. Perbekalan mereka sungguh berlimpah. Adapun kalian, tiada beban selain pedang, tiada pula pangan selain yang berhasil kalian rampas dari musuh-musuh kalian….”
 
Penggalan orasi Thariq bin Ziyad (670 – 720), panglima perang legendaris Islam dalam Penaklukan Andalusia sekitar tahun 711 itu, saya kutip untuk menggambarkan bagaimana kini dunia menyikapi Suriah. Ya, kini hampir semua pemimpin dunia kini memilih pendekatan bin Ziyad dalam menghadapi krisis Suriah. Dan selama dua tahun lebih perang berkecamuk di sana, seluruh pihak yang bersengketa tak jua menemukan jalan ketiga. Tiada suara lebih nyaring dari genderang perang berdarah-darah. Lebih dari 100.000 nyawa telah tiada. Hampir dua juta manusia–bahkan ada yang menyebut enam juta—terpaksa mengungsi ke berbagai negara yang berbatasan dengan Suriah.
 
Persoalan bermula dari mimpi rakyat Suriah untuk menyicipi Musim Semi kebebasan sebagaimana di negara-negara tetangga. Namun rupanya, Musim Semi tetaplah unik di tiap negara dan ia tak datang dengan hawa yang sama. Di Tunisia, Musim Semi cukup berbunga setelah Presiden Ben Ali ditampung Arab Saudi. Di Yaman, dunia—terutama Saudi—berjasa penting mengatasi kebuntuan politik menjelang lengsernya Presiden Ali Abdullah Saleh. Di Mesir, kekuasaan Husni Mubarak diambil-alih Dewan Tinggi Militer, dan kita tahu kisahnya kini. Di Libya, Muammar Khaddafi tumbang lewat aksi bersenjata NATO dan dunia dengan mudah memakluminya.
 
Tapi di Suriah, Musim Semi tidak mudah dan mengalami kebuntuan nyata. Dunia seolah tak berdaya mencarikan pemecahan masalah. Ada apa? Jelas, Presiden Bashar al-Assad semakin paham betapa lemah para pemimpin negara jirannya dalam menanggapi aspirasi perubahan. Mereka seakan-akan tak punya kawan yang rela membela dalam senang dan susah. Dalam menyikapi momen ini, Assad bisa saja disetarakan dengan Khaddafi yang menganggap Musim Semi Arab sebagai pertarungan hidup-mati. Bedanya, Assad lebih mampu beraliansi sekalipun harus berperang sebagai proxy bagi kekuatan-kekuatan besar di belakangnya.
 
Iran berada di balik rezim Assad karena kuatir bila sekutunya tumbang, jalan pelemahan posisinya di kawasan kian terbuka. Sokongan Saudi terhadap oposisi Suriah lebih merefleksikan kekhawatiran regional karena terkepungnya negara Wahabi itu oleh negara-negara berbasis Syiah. Bayangkan saja, di timur Saudi ada konsentrasi Syiah yang sedang marah. Di Selatan terdapat Yaman Selatan yang juga berpopulasi mayoritas Syiah. Di Barat, muncul pergolakan Syiah Bahrain dan bercokol musuh bebuyutan Saudi, Iran sendiri. Irak pasca-Saddam di utara kini didominasi Syiah, sementara Libanon dan Suriah pun masih kuat dipengaruhi negeri para mullah.
 
Kekuatan-kekuatan global pun terpilah dalam permusuhan geopolitik Saudi dan Iran ini. Dalam kasus Suriah, yang terjadi bukan lagi pertarungan rezim Assad melawan aspirasi kebebasan yang didambakan rakyatnya. Pertarungan geopolitik dan buntunya diplomasi antar kekuatan-kekuatan yang terlibat persengketaan ini membuat dunia seakan hanya punya opsi bin Ziyad di kantong mereka. Dampaknya, tatkala gajah-gajah belum lagi rampung bertarung, rakyat Suriah hanyalah para pelanduk yang terjepit dalam sengit pertarungan yang angkara murka.
 
Mana Jalan Ketiga?
 
Menyaksikan pertarungan global di Suriah, saya tak melihat kuatnya insiatif jalan ketiga. Padahal, Suriah kini bukan lagi sedang bergeliat dalam upaya menuju demokrasi. Dan kini, rakyat Suriah sudah seperti “kumpulan yatim di perjamuan orang-orang tanpa empati”. Anak-anak yatim Suriah itu, kini berjibaku dalam memproteksi diri dengan cara melarikan diri dari konflik, dan hanya itulah cara bertahan yang kini diterapkan tak kurang dari sepertiga mereka (sekitar 6 juta orang).
 
Jika obyektif melihat krisis Suriah, rakyat Suriah kini sesungguhnya menunggu jalan ketiga. Sebab, andai pun Assad tumbang, mereka masih bakal terancam keluar mulut singa untuk masuk ke moncong buaya. Laporan-laporan internasional menyebutkan, kubu oposisi yang berupaya menjungkalkan Assad pun didominiasi kaum jihadis-ekstrem bentukan Saudi, Turki, dan negara-negara Teluk. Ungkapan filsuf Slovenia, Slavoj Žižek, benar belaka, kasus Suriah adalah pertarungan yang lancung (pseudo-struggle), dan tak sulit menebak arah Suriah pasca-Assad: Afghanistan era Taliban! (The Guardian, 6 September 2013).
 
Inilah yang menjelaskan mengapa Amerika dan sekutunya begitu enggan terlibat langsung dalam intervensi bersenjata. Penggunaan senjata kimia sebagai garis merah (red lines) yang dipatok Presiden Amerika untuk terlibat dalam opsi bersenjata di Suriah dapat dibaca sebagai bentuk keengganan Barack Obama untuk kembali terperosok dalam kesalahan fatal pendahulunya di kasus Irak. Namun kini, lain Washington lain pula kemauan Riyadh dan Ankara. Kerajaan Saudi dan Turki adalah dua negara yang kini paling bersemangat mengipas-ngipasi Amerika untuk turun kancah langsung dalam aksi bersenjata di Suriah.
 
Aliansi Tak Suci
 
Kabar terkini, dunia masih terfokus pada proposal Rusia yang dituding hanya menunda-nunda ajal rezim Assad yang dikonfirmasi PBB telah menggunakan senjata kimia. Tapi bukankah konflik ini telah dua tahun lebih lamanya? Wajarlah bila sinisme muncul: Assad hanya haram menggunakan senjata kimia, sementara senjata jenis lainnya seolah absah digunakan Assad maupun para jihadis penentangnya. Yang paling miris dalam kasus Suriah, kewajiban moral dunia untuk melindungi warga sipil dalam situasi konflik dan perang (responsibility to protect) atau R2P yang disahkan PBB tahun 2005, kini seakan alpa dari perdebatan para pemimpin dunia (Brooking.Edu, 10 September 2013).
 
Padahal dalam kasus Suriah ini, dunia perlu mencari opsi ketiga di luar “lautan” dan “lawan” yang ditawarkan ilustrasi bin Ziyad tadi. Dunia perlu ketok palu, Suriah adalah kasus Musim Semi yang gagal tumbuh dan bersemi. Kini tiba saatnya menjamin seluruh tumpah darah Suriah untuk kembali ke masa transisi lewat perundingan semua pihak yang bertali-temati dengan sengketa berdarah ini. Inisiatif ini hanya mungkin ditempuh dengan melibatkan Iran dan Rusia sebagai patron Assad, Saudi dan Turki sebagai patron jihadis, Amerika dan Eropa sebagai “pihak penengah”.
 
Jika inisiatif ini tak terealisasi, berarti telah terjadi aliansi tak suci antara kekuatan-kekuatan jahat yang menginginkan perang yang lebih dahsyat. Aliansi tak suci itu melibatkan Saudi, Turki, kaum neokonservatif Amerika dan lobi Israel (AIPAC) yang kini giat mendorong Obama untuk melancarkan aksi militer ke Suriah, juga Iran dan Rusia yang keras kepala. Jika aliansi ini yang menang, dunia akan disuguhi tontonan tentang “perjamuan orang-orang tanpa empati” di tengah lapar sengsara “anak-anak yatim Suriah” yang tak jelas masa depan mereka. Rasanya, Indonesia pun punya kewajiban moral untuk menangkal ironi ini, agar nurani dunia tetap menyala.
 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: