T 269 Jejaring Thaksin, si “Malaikat” Kaum Miskin

 

 

 

VIVAnews – Status boleh buron, tapi hidup tetap enak. Sekilas itu yang tampak pada mantan Perdana Menteri (PM) Thailand Thaksin Shinawatra. Thaksin menjadi buron sejak dikudeta militer pada 19 September 2006. Saat kudeta terjadi, Thaksin berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Ia membatalkan pidatonya di forum PBB, dan terbang ke London dengan pesawat carteran Rusia.

Di Thailand, suasana begitu mencekam. Pemimpin aksi kudeta Letnan Jenderal Sonthi Boonyaratglin menahan Wakil PM Chitchai Wannasathit dan Menteri Pertahanan Thammarak Isagura na Ayuthaya. Militer kemudian mengumumkan pembekuan semua aset milik Thaksin di Thailand terkait dugaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintahannya.

Seketika Thaksin berubah status dari orang paling berkuasa di Thailand, menjadi orang paling diburu oleh negaranya sendiri. Lantas seperti apa hidup Thaksin sebagai buronan? Ternyata amat nyaman.

Menurut laporan harian Inggris The Independent tahun 2011, Thaksin bermukim di Dubai, Uni Emirat Arab. Dia tinggal di vila yang nyaman dengan pemandangan menghadap ke danau dan lapangan golf. Dua mobil mewah, Lexus LS 600h L dan Jaguar hitam, terparkir mengkilap di garasi rumahnya. Buronan itu tetap seorang miliuner.

Thaksin mengatakan, dia dapat terbang ke berbagai negara secara bebas meski berstatus buron. Tahun 2011 saja, Thaksin sudah mengumpulkan 750 jam terbang. Itu hanya dalam 10 bulan. Artinya, setiap bulan ia hampir pasti terbang entah ke mana. Per bulannya, Thaksin rata-rata menghabiskan waktu 75 jam dalam penerbangan. Sungguh buronan yang amat sibuk.

Tak seperti buronan yang selalu bersembunyi, Thaksin kerap muncup di hadapan publik. Dia juga bersedia menerima tawaran wawancara dari sejumlah media di kediaman pribadinya di Dubai. Untuk beberapa pihak yang punya akses langsung terhadapnya, Thaksin mudah dijumpai.

“Malaikat” kaum miskin

Thaksin yang mantan polisi itu mulai berkiprah di pemerintahan Thailand ketika menjabat sebagai menteri luar negeri pada 1994. Setahun kemudian, dia diangkat menjadi wakil perdana menteri pada pemerintahan PM Nai Banharn Silpa-Archa. Tahun 1997, Thaksin kembali menjadi wakil perdana menteri pada pemerintahan PM Chavalith Yongchaiyudh.

Tahun 1998, Thaksin membentuk partai sendiri, Thai Rak Thai. Secara harfiah, nama partainya berarti warga Thailand mencintai warga Thailand. Thaksin mulai berkampanye. Ia sempat menjadi anggota parlemen. Situasi politik Thailand berubah cepat paska kemunculan partai Thaksin. Tahun 2001, Thaksin memenangkan pemilu berkat dukungan kaum miskin di utara Thailand.

Pandangan rakyat Thailand terhadap Thaksin terbelah. Kalangan menengah dan elite tradisional Thailand menganggap Thaksin korup, tapi kaum miskin melihatnya sebagai malaikat penyelamat. Thaksin memperbaiki infrastruktur pedesaan. Ia membangun jalan, irigasi, dan memasukkan listrik ke desa-desa.  Thaksin juga meluncurkan program kesehatan gratis, pendidikan murah, dan dana pensiun.

Semua itu membuat kaum miskin Thailand merasa diperhatikan. Sebelum Thaksin berkuasa, mereka merasa terpinggirkan. Thaksin bukan hanya disukai kaum papa. Ia pun menjadi magnet bagi kalangan pengusaha dengan kebijakan ekonominya, Thaksinomics, yang diluncurkan saat krisis akhir 1990-an. Thaksinomics adalah kebijakan ekonomi populis yang menyasar kaum pedesaan –populasi mayoritas di Thailand.

Pada akhirnya, masyarakat kelas bawah Thailand menjadi pendukung setia Thaksin. Mereka kerap disebut “Kaos Merah.” Kepopuleran Thaksin membuatnya terpilih kembali menjadi perdana menteri pada 2005. Partai yang ia pimpin menguasai kursi mayoritas di parlemen, 364 dari total 500 kursi.

Namun di awal pemerintahan periode keduanya ini, isu korupsi makin pekat membayangi Thaksin. Komisi Korupsi Thailand menyatakan Thaksin gagal menjelaskan seluruh kekayaannya. Kelas menengah Thailand pun menuduh Thaksin menyalahgunakan kekuasaannya.

Desember 2005, pengusaha penerbitan Sondhi Limthongkul membentuk aliansi anti-Thaksin bernama Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD). Mereka kerap disebut “Kaos Kuning.” Gelombang unjuk rasa oleh kaos kuning semakin marak ketika mantan Gubernur Bangkok Chamlong Srimuang bergabung. Thaksin dituntut mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri.

Demonstrasi kian kencang ketika terungkap kasus penjualan saham Shin Corp, perusahaan Thaksin, oleh salah satu anak Thaksin kepada perusahaan Singapura, Temasek Holdings, pada tahun 2006. Harga penjualan yang disepakati mencapai US$1,9 miliar. Namun keluarga Thaksin tidak diwajibkan membayar pajak atas transaksi itu. Lebih buruk lagi, keluarga Thaksin dianggap menyerahkan kendali aset nasional Thailand ke tangan Singapura.

Kaos kuning pun meradang. Thaksin sempat menyatakan mundur dari jabatannya setelah beraudiensi dengan Raja Bhumibol Adulyadej di Istana Hua Hin. Sang Raja selama ini amat dihormati bahkan disakralkan di Thailand. Meski secara formal raja tak berperan dalam perpolitikan Thailand, namun ia kerap memegang kendali di balik layar.

Krisis politik Thailand telah membuat raja turun gunung. Kuning yang menjadi warna kaos para penentang Thaksin, sesungguhnya merupakan warna simbolik Kerajaan Thailand. Alhasil, posisi Thaksin makin sulit karena seperti dihadap-hadapkan dengan raja.

Meski demikian, Thaksin dengan lantang menyatakan kembali ke pemerintahan sebagai perdana menteri – mengingkari hasil audiensinya dengan Raja Bhumibol. Langkah ini sungguh fatal, berujung pada kudeta militer terhadap Thaksin yang secara tak langsung direstui oleh Raja, 19 September 2006.

Dua tahun setelah kudeta itu, 2008, Mahkamah Konstitusi Thailand menvonis Thaksin dua tahun penjara atas dakwaan menyalahgunakan kekuasan untuk kepentingan pribadi. Thaksin dituduh membantu istrinya membeli tanah dari badan milik pemerintah dengan harga diskon. Aset Thailand dibekukan, membuat Thaksin terpaksa menjual kepemilikan sahamnya di klub sepakbola Inggris Manchester City.

Apapun, pembekuan aset itu tak membuat Thaksin jatuh miskin. Saat persidangan terhadap Thaksin dan istrinya digelar saja, keduanya sedang bersantai menonton Olimpiade di Beijing, China. Saat vonis penjara dijatuhkan pun keduanya malah terbang ke Inggris.

Thaksin ketika itu mengatakan, vonis MK bermuatan politik. “Kediktatoran mencampuri sistem peradilan. Mereka adalah musuh politik saya. Apabila saya memiliki keberuntungan, maka saya akan kembali untuk mati di tanah Thailand seperti warga Thailand lainnya,” ujar Thaksin dikutip harian Inggris The Guardian.

Kembalinya Thaksin

Thaksin terus mengikuti perkembangan politik Thailand dari kejauhan. Tahun 2011, tiga tahun setelah Thaksin hidup di pelarian, adiknya Yingluck Shinawatra terpilih menjadi Perdana Menteri Thailand. Sang miliuner menampakkan tajinya. Sosok dia boleh tak ada di Thailand, namun kuasanya masih menyelimuti negeri itu.

Thaksin tak menyembunyikan andilnya dalam memenangkan Yingluck. “Saya yakin kami menang,” kata Thaksin seperti dikutip harian Inggris Telegraph. Namun Thaksin membantah menjadikan adik cantiknya itu boneka politik. Thaksin tak mau disebut mengendalikan Yingluck. Ia menyebut Yingluck sebagai kembarannya. “Dia adik saya yang paling muda. Sejak awal, dia telah bekerja untuk saya. Saya yang mengajar dan melatihnya. Gaya bekerja yang ia terapkan persis seperti saya,” kata Thaksin.

Ketika Yingluck mulai menjabat, Thaksin kerap terlibat dalam sidang kabinet. Pejabat partai Yingluck mengatakan, sebagian besar keputusan kabinet berasal dari luar negeri. Thaksin dapat berbicara leluasa dengan para menteri Yingluck melalui ponsel atau media sosial.

New York Times, 29 Januari 2013, melaporkan Thaksin bahkan bisa membaca surat elektronik yang ditujukan bagi pemerintah Yingluck. Saat rapat kabinet pun, Thaksin turut bergabung melalui Skype. Thaksin juga dapat dihubungi lewat aplikasi pesan pendek WhatsApp dan Line.

“Hampir semua kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Yingluck, datang dari Thaksin. Bahkan jika Anda menginginkan proyek besar di Thailand bernilai miliaran Bath, Anda harus berbicara dengan Thaksin karena dia yang mengendalikan semuanya,” kata pejabat senior di partai Thaksin, Noppadon Pattama.

Yingluck sendiri membantah kakaknya mencampuri dapur kabinetnya. Dia mengatakan dialah yang memegang semua urusan dalam negeri Thailand. Thaksin, menurut Yingluck, tak lebih dari mitra diskusi yang kerap memberikan dukungan moral.

Sejarah terulang?

Ucapan Yingluck itu diragukan menyusul langkah anggota partainya yang menyodorkan revisi Undang-Undang Amnesti. Revisi ini membuat siapapun yang pernah berbuat kejahatan politik dan divonis usai kudeta militer 19 September 2006, diberi pengampunan. Thaksin jelas diuntungkan. Dia dapat kembali ke Thailand tanpa perlu dihukum bui selama dua tahun.

Rancangan revisi UU Amnesti sempat lolos di parlemen tingkat rendah pada 1 November 2013, namun akhirnya ditolak di Senat. Lebih lanjut, RUU itu kembali memicu unjuk rasa besar di Thailand seperti yang terjadi tahun 2005-2006. Sekitar 10 ribu demonstran turun ke jalan-jalan di kota Bangkok saat Senat membahas RUU tersebut. Pendemo juga menyasar kantor-kantor pemerintahan.

Begitu revisi UU Amnesti ditolak Senat, Yingluck menyatakan menghormati keputusan itu. Sementara Thaksin, dalam wawancara dengan Bangkok Post tahun 2012 di Dubai, mengatakan akan bisa kembali ke Thailand dengan caranya sendiri. “Kembali ke Thailand bukan prioritas utama. Saya sudah cukup bahagia tinggal di luar Thailand,” ujarnya.

Di Thailand, pergolakan belum usai. Massa anti-Yingluck sudah genap dua pekan berunjuk rasa. Dipimpin politisi Suthep Thaugsuban dari partai yang berseberangan dengan Yingluck, massa mengultimatum Yingluck agar segera turun dari kursi perdana menterinya. Tuntutan demonstran itu lumayan garang: pemerintahan Thailand harus dibersihkan dari klan Shinawatra. (np)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: